Latest Program: Mbah Marsiyah Tunggu 5 Tahun Akhirnya Lihat Ka’bah
Latest Program – Berita terkini dari Kediri, Jawa Timur, menggambarkan kebahagiaan yang mendalam di wajah Mbah Marsiyah, jemaah haji tertua Indonesia. Setelah menunggu lima tahun, ia akhirnya merasakan momen terbesar dalam hidupnya, yaitu melihat Ka’bah secara langsung di Masjidil Haram, Makkah. Pada Jumat (22/5/2026), mbah Marsiyah memulai ibadah hajinya dengan melaksanakan tawaf qudum, ritual utama yang menjadi bagian dari program haji tahun ini.
Kisah Perjuangan Mbah Marsiyah Menuju Ka’bah
Mbah Marsiyah, yang usianya mendekati 105 tahun, telah berusaha keras selama bertahun-tahun untuk mewujudkan impian ini. Kakek Firdaus ini dikenal sebagai sosok penuh semangat yang tidak pernah menyerah meski menghadapi tantangan besar. Dalam perjalanan ke Makkah, ia menyisihkan tabungan dari hasil berjualan bubur sumsum, yang terus ia kumpulkan sejak lama. Sisihkan sedikit demi sedikit, baik Rp5 ribu maupun Rp2 ribu, tanpa mengambil kesempatan besar.
Keberangkatan mbah Marsiyah ke Makkah menjadi bagian dari program haji yang dibuka secara terbatas bagi jemaah yang sangat membutuhkan. Sebelumnya, ia mengajukan keberangkatan pada tahun 2021, tetapi baru diberangkatkan setelah proses persiapan dan seleksi dijalani selama beberapa tahun. Dalam kesempatan ini, ia menjadi simbol semangat kecil untuk kebesaran Allah, terutama bagi jemaah haji yang masih muda.
Ritual Tawaf dan Harapan yang Terwujud
Tawaf qudum yang dilakukan Mbah Marsiyah di lantai dua Masjidil Haram pada dini hari, merupakan momen yang ia nantikan selama bertahun-tahun. Dengan didampingi anaknya, Maidah, yang telah mengambil peran sebagai pendamping utama sejak lama, ia melangkah perlahan namun penuh makna. Ritual ini tidak hanya sebagai tanda kedatangan di Makkah, tetapi juga sebagai langkah awal dalam merasakan keberkahan program haji.
Dalam pengakuan Mbah Marsiyah kepada tim Media Center Haji, ia mengungkapkan perasaan kegembiraannya saat pertama kali melihat Ka’bah. “Alhamdulillah, seneng ndeleng Ka’bah. Wong wis diangen-angeni ket suwe,” kata mbah Marsiyah, yang telah menghabiskan usia 104 tahun untuk menanti momen istimewa ini. Bagi jemaah haji, program haji bukan hanya sekadar perjalanan, tetapi jembatan menuju kebahagiaan yang selama ini mereka impikan.
Keluarga Mbah Marsiyah menyatakan kebanggaan terhadap ibunya yang telah mewujudkan mimpi besar. Selama ini, ia menjadi inspirasi bagi warga sekitar, terutama dalam menanamkan nilai kepercayaan dan kesabaran. Dengan program haji yang terus berlangsung, ia semakin menjadi simbol kekuatan iman di tengah usia yang terus beranjak tua. Kini, ia menyiapkan diri untuk melanjutkan rangkaian ritual haji, dengan puncaknya akan diadakan pada Selasa, 26 Mei 2026.
Proses Perjalanan dan Makna Ibadah
Perjalanan Mbah Marsiyah ke Makkah tidak hanya tentang fisik, tetapi juga pertarungan mental yang luar biasa. Ia menunggu selama hampir lima tahun, mencoba mengatur keuangan dan kesehatan untuk memastikan ia bisa menyelesaikan program haji ini. Dengan usianya yang sudah mendekati 105 tahun, ia menunjukkan bahwa usia bukan penghalang untuk meraih keberkahan.
Dalam program haji, Mbah Marsiyah juga mewakili keberagaman jemaah yang berasal dari berbagai daerah. Ia menceritakan bahwa usia yang terus bertambah tidak mengurangi semangatnya untuk beribadah. Sebaliknya, ia menjadikannya sebagai pengingat akan pentingnya konsistensi dalam menjalankan keyakinan. Puncak ritual tawaf akan menjadi titik puncak dalam perjalanan hajinya, yang dipandang sebagai bentuk pengabdian terbesar ke hadapan Tuhan.
Sebagai bagian dari program haji yang berjalan lancar, peristiwa Mbah Marsiyah ini juga menjadi momentum untuk memperkuat semangat masyarakat Indonesia dalam menjalani ibadah. Ia mewakili kebesaran nilai-nilai keagamaan yang selalu hidup dalam hati jemaah, terlepas dari usia atau kondisi fisiknya. Kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya menjadi bukti bahwa program haji tetap menjadi sumber motivasi bagi semua yang berpartisipasi.
