Internasional

Latest Program: 19 Wanita dan Anak Terkait ISIS Pulang ke Australia, Sebagian Terancam Dakwaan Terorisme

Latest Program: 19 Wanita dan Anak-Anak Terkait ISIS Kembali ke Australia, Beberapa Terancam Terorisme Latest Program - Dalam upaya mengatasi ancaman

Desk Internasional
Published Mei 26, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Latest Program: 19 Wanita dan Anak-Anak Terkait ISIS Kembali ke Australia, Beberapa Terancam Terorisme

Latest Program – Dalam upaya mengatasi ancaman terorisme, pemerintah Australia meluncurkan Latest Program yang menargetkan 19 individu, terdiri dari wanita dan anak-anak, yang dikaitkan dengan kelompok teroris Islamic State (ISIS) dan kembali ke negara ini. Pernyataan ini dilayangkan oleh Departemen Keamanan Nasional pada hari Selasa, menyatakan bahwa sebagian dari kelompok tersebut telah memesan tiket untuk tiba di Sydney dan Melbourne pada 26 Mei 2026. Keberangkatan ini menandai langkah pemerintah dalam mengelola risiko kekembalian anggota ISIS yang terlibat dalam aktivitas terorisme di Suriah.

Program Terbaru: Strategi Pemerintah dalam Menangani Kepulangan Anggota ISIS

Latest Program menjadi bagian dari rencana jangka panjang pemerintah Australia untuk menghadapi kekembalian mantan pejuang ISIS yang terlibat dalam berbagai tindakan ekstremis. Menurut Menteri Dalam Negeri Tony Burke, program ini dirancang agar individu yang kembali dapat dinilai secara menyeluruh sebelum diberikan kemampuan untuk memasuki negara. “Tujuan utama Latest Program adalah menjaga keamanan rakyat Australia dan memutus rantai terorisme di tingkat lokal,” jelas Burke dalam wawancara terpisah. Ia menekankan bahwa pemerintah akan tetap mengawasi kegiatan mereka, terutama jika ada bukti mereka terlibat dalam aktivitas radikal.

“Kita tidak bisa membiarkan ancaman terorisme berkembang bebas. Latest Program memberikan kerangka kerja yang lebih jelas untuk menangani individu yang mungkin membawa risiko ke negara kita,” ujar Burke.

Program ini menggabungkan data intelijen, pemantauan terhadap jaringan ISIS, dan kerja sama dengan organisasi internasional. Selain itu, pemerintah juga memberikan dukungan penuh untuk memfasilitasi reintegration mereka ke masyarakat, termasuk pelatihan keterampilan dan bantuan psikologis. Namun, langkah ini tetap memicu perdebatan mengenai keseimbangan antara keamanan dan hak asasi manusia.

Kasus Spesifik: Kawsar Ahmed dan Zeinab Ahmed Terlibat dalam Aktivitas Terorisme

Satu dari para pengungsi terbaru adalah Kawsar Ahmed, seorang ibu dari Melbourne, yang dikenal juga sebagai Kawsar Abbas. Ia dan putrinya, Zeinab Ahmed, berusia 31 tahun, ditangkap setelah mendarat di Australia. Mereka didakwa karena mengakui pembelian seorang budak perempuan Yazidi di Suriah, tindakan yang dianggap sebagai bagian dari strategi ISIS untuk mengendalikan populasi tertentu. Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana Latest Program mampu mengungkap kegiatan teroris yang tersembunyi.

Berdasarkan laporan kepolisian, Kawsar dan Zeinab terlibat dalam operasi penyanderaan yang melibatkan pembelian budak perempuan, serangan terorisme, dan penyebaran ideologi radikal. Mereka adalah bagian dari kelompok yang dikenal sebagai “ISIS Australia,” yang secara aktif terlibat dalam aktivitas ekstremis selama bertahun-tahun. Pemerintah akan memeriksa rekam jejak mereka dan memutuskan apakah mereka layak diadili atau diberi akses kembali ke masyarakat.

Sejumlah anggota lain dari kelompok ini diperkirakan terlibat dalam penculikan warga sipil dan serangan terhadap fasilitas pemerintah. Dengan Latest Program, Australia berharap mencegah terorisme dari berpindah ke wilayah domestik dan menangkap pelaku sebelum mereka melakukan aksi lebih besar.

Persiapan dan Rencana Jangka Panjang Pemerintah

Persiapan untuk Latest Program telah dilakukan sejak 2014, ketika ISIS merekrut sejumlah besar warga Australia. Sejak itu, pemerintah mengembangkan sistem penegakan hukum yang lebih ketat, termasuk penggunaan teknologi pemantauan dan kerja sama dengan intelijen internasional. Rencana ini mencakup kebijakan yang memungkinkan pemulangan mereka dari kamp penahanan di Suriah, seperti kamp Roj, yang menjadi pusat penahanan ISIS sejak 2019.

Secara khusus, pemerintah memberikan perhatian besar pada individu yang mengangkat anak-anak sebagai bagian dari upaya teroris. Kepulangan 12 anak dari kelompok ini menunjukkan bahwa program ini tidak hanya menargetkan orang dewasa tetapi juga memperhatikan ancaman yang bisa datang dari generasi muda. Dalam proses ini, pemerintah akan mengevaluasi kemungkinan kejahatan terorisme yang mungkin dilakukan oleh anak-anak tersebut, terutama jika mereka terlibat dalam pembelajaran ideologi ekstrem.

Kamp Roj, yang terletak di timur laut Suriah, menjadi tempat penahanan bagi sekitar 1500 orang, termasuk 7 wanita dan 12 anak yang kembali ke Australia. Mereka diberikan status yang memungkinkan pemulangan tetapi tetap dalam pengawasan ketat. Selain itu, undang-undang anti-terorisme yang diperkenalkan pada 2019 menjadi dasar untuk menahan anggota ISIS hingga dua tahun, agar mereka tidak bisa segera kembali ke wilayah yang mereka tinggalkan.

Dalam Latest Program, Australia juga fokus pada memantau jaringan komunikasi mereka setelah tiba di negara ini. Hal ini dilakukan melalui kemitraan dengan organisasi seperti Al-Quds, yang terus memberikan informasi tentang aktivitas radikal di Suriah dan Irak. Pemantauan ini sangat penting karena sebagian besar individu yang kembali memiliki hubungan langsung dengan jaringan ISIS, yang berisiko menyebarkan ideologi terorisme ke masyarakat.

Implementasi dan Dampak pada Masyarakat

Sejak 2014, Australia telah menerima

Leave a Comment