Iran Menolak Klaim Kesepakatan Perdamaian Sudah Dekat dengan AS
Main Agenda – Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menolak klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Teheran telah menyetujui kesepakatan perdamaian awal. Pernyataan tersebut dikeluarkan setelah Trump menyebutkan kemungkinan penandatanganan perjanjian dengan Iran pada akhir pekan, dengan lokasi sementara di Eropa. Ia juga menegaskan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, telah menyetujui syarat-syaratnya. Meski Trump menggambarkan perjanjian sebagai “nota kesepahaman yang sangat kuat”, Iran menegaskan bahwa kesepakatan masih jauh dari selesai.
Baghaei menekankan bahwa pihak berwenang Iran tidak menyetujui perjanjian sebelumnya, mengingat keputusan Amerika Serikat yang terus berubah-ubah. “Pernyataan Trump hanyalah spekulasi, dan kita perlu menunggu teks resmi untuk memastikan,” jelasnya. Menurut sumber diplomatik, beberapa poin utama dalam dokumen telah selesai, tetapi sikap AS yang tak konsisten menyebabkan ketegangan dalam proses negosiasi. Hal ini membuat Iran mempertanyakan kredibilitas tawaran Amerika, yang dinilai masih tidak jelas.
“Saya yakin keputusan Iran akan diberikan setelah pihak AS memastikan komitmen mereka,” kata Baghaei, dalam wawancara Jumat (12/6/2026). Ia menambahkan bahwa Iran tidak akan melemahkan garis merahnya, seperti yang dilaporkan media. Meski Trump menyebut kesepakatan siap ditandatangani, Teheran masih menunggu tanda tangan resmi dari pihak berwenang tertinggi.
Perbedaan Pendirian dalam Negosiasi
Dalam proses negosiasi, perbedaan pendirian antara Iran dan AS terus memicu ketegangan. Iran menekankan bahwa syarat-syarat kesepakatan harus memperhatikan kepentingan nasional mereka, termasuk keterlibatan Eropa dalam perjanjian. Trump, sementara itu, berpendapat bahwa AS memiliki keunggulan dalam mengatur perjanjian yang melibatkan kompromi dari semua pihak. Namun, Baghaei menyoroti bahwa konsistensi dari AS sangat dibutuhkan untuk membangun kepercayaan.
Kesepakatan yang dibicarakan sebelumnya mencakup beberapa aspek utama, seperti pengurangan sanksi AS terhadap Iran, akses ke pasar internasional, dan pengembangan infrastruktur energi. Namun, terdapat perbedaan dalam prioritas. Iran menuntut pencabutan sanksi lebih komprehensif, sementara AS memfokuskan pada kepatuhan Iran terhadap kebijakan nuklir. Pernyataan Main Agenda ini menunjukkan bahwa keduanya masih mencari titik temu, meski kesepakatan belum sepenuhnya tercapai.
Impak pada Ekonomi dan Ketersediaan Energi
Kesepakatan yang diusulkan dapat memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi Iran dan ketersediaan energi global. Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak mentah, akan dibuka sepenuhnya oleh Iran tanpa biaya tambahan, menurut laporan diplomatik. Ini berpotensi meningkatkan pasokan minyak ke pasar internasional, yang saat ini terbatas karena sanksi AS. Selain itu, pengembalian aset Iran yang dibekukan oleh negara-negara Barat juga menjadi sorotan dalam diskusi terkini.
Main Agenda menyoroti bahwa Iran tetap waspada terhadap perjanjian yang dinilai terlalu menguntungkan AS. Meski ada kemajuan dalam negosiasi, Iran tidak ingin melepaskan kontrol atas kebijakan ekonominya. Pihaknya menekankan bahwa hanya dengan komitmen yang jelas dari AS, mereka akan menyetujui perjanjian. Hal ini mencerminkan sikap strategis Iran yang ingin memastikan bahwa keuntungan yang diperoleh tidak mengorbankan kepentingan nasional mereka.
Sebagai bagian dari perjanjian, AS berencana mencabut penguncian pelabuhan Iran selama 30 hari, memungkinkan perdagangan minyak mentah global melalui jalur ini. Namun, Iran meminta penghapusan sanksi yang lebih luas, termasuk kebijakan terkait program nuklir dan keamanan regional. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa Main Agenda tidak hanya berfokus pada kesepakatan perdamaian, tetapi juga pada kemauan AS untuk memberikan kompensasi yang adil.
Dalam diskusi terbaru, pihak Iran menilai bahwa penandatanganan perjanjian segera akan menguntungkan AS, terutama dalam menghadapi tekanan ekonomi global. Baghaei menegaskan bahwa Iran tetap mempertahankan garis merahnya, termasuk peningkatan produksi minyak, pengembangan infrastruktur, dan kebijakan luar negeri. Dengan Main Agenda sebagai fokus utama, Iran berharap perjanjian dapat menjadi dasar untuk hubungan lebih stabil dengan AS.
