Kesehatan

Bolehkah Anak Makan Otak dan Sum-Sum? Ini Penjelasan Dokter soal Porsi dan Frekuensinya

Bolehkah Anak Makan Otak dan Sum Sum -

Desk Kesehatan
Published Mei 28, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Bolehkah Anak Makan Otak dan Sum-Sum? Penjelasan Dokter soal Porsi dan Frekuensi

Populer Saat Idul Adha, Tapi Ada Risiko untuk Kesehatan

Bolehkah Anak Makan Otak dan Sum Sum – Bolehkah Anak Makan Otak dan Sum-Sum? Pertanyaan ini sering muncul ketika anak-anak menggemari hidangan seperti gulai otak, sate usus, atau sum-sum tulang yang biasa dikonsumsi saat hari raya Idul Adha. Meski rasa gurih dan lezat dari makanan ini menarik, tetapi konsumsi berlebihan bisa berdampak negatif terutama pada anak-anak. Dokter spesialis anak dr. Prajnya Paramitha Narendraswari, Sp.A menegaskan bahwa otak dan sum-sum mengandung kolesterol serta purin dalam jumlah tinggi, yang berpotensi memengaruhi kesehatan ginjal dan meningkatkan kadar asam urat jika dikonsumsi setiap hari.

“Purin tinggi dalam jeroan berpotensi meningkatkan kadar asam urat dan membeban ginjal, karena tubuh mengolah purin tersebut melalui organ ini,”

ujar dr. Prajnya dalam talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Kamis (27/5/2026). Ia menekankan bahwa meski otak dan sum-sum memiliki nilai gizi tinggi, seperti protein dan mineral, kandungan lemak jenuh serta purinnya tetap harus diperhatikan, terutama bagi anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.

Kolesterol Tinggi pada Otak dan Sum-Sum

Menurut dr. Prajnya, otak dan sum-sum tulang termasuk bagian yang memiliki kadar kolesterol sangat tinggi. Jeroan ini sering dikaitkan dengan makanan kaya protein, tetapi juga mengandung lemak jenuh yang bisa berkontribusi pada peningkatan kolesterol LDL dalam darah. Untuk anak-anak, konsumsi otak dan sum-sum perlu dikontrol agar tidak menyebabkan penumpukan lemak dalam tubuh. “Bone marrow memiliki kandungan kolesterol mirip dengan otak, jadi perlu diperhatikan frekuensinya,”

katanya. Ia menyarankan kedua makanan tersebut hanya dimakan sesekali, dengan porsi yang dibatasi, untuk menghindari dampak jangka panjang terhadap metabolisme tubuh. Porsi ideal untuk anak usia 2-5 tahun sekitar 50 gram per porsi, dan diusahakan tidak lebih dari 1-2 kali dalam seminggu.

Untuk anak di bawah 2 tahun, dr. Prajnya mengatakan bahwa konsumsi lemak dalam jumlah sedang tetap dibutuhkan untuk pertumbuhan otak yang pesat. Namun, makanan seperti otak dan sum-sum sebaiknya diperkenalkan secara bertahap dan dengan porsi kecil, serta dipantau kebutuhan nutrisi individu anak.

Pembatasan Lemak untuk Anak di Bawah 2 Tahun

Anak di bawah usia dua tahun memang tidak perlu dibatasi konsumsi lemak secara ketat, karena lemak merupakan nutrisi penting untuk perkembangan sistem saraf dan otak. Namun, jenis lemak dalam otak dan sum-sum berbeda dari lemak sehat yang ditemukan pada makanan nabati atau ikan. “Lemak pada jeroan lebih kaya akan asam lemak jenuh, yang bisa meningkatkan risiko penyakit jantung jika dikonsumsi terus-menerus,”

ungkap dr. Prajnya. Ia menyarankan orang tua memperhatikan frekuensi konsumsi makanan ini, terutama jika anak memiliki riwayat masalah ginjal atau asam urat. Porsi untuk bayi bisa lebih rendah, sekitar 20-30 gram per porsi, dan diusahakan tidak lebih dari 1 kali dalam seminggu.

Kebiasaan Makan Otak dan Sum-Sum dalam Masa Pertumbuhan

Dalam masa pertumbuhan, anak-anak perlu mendapatkan nutrisi lengkap untuk mendukung fungsi tubuh. Otak dan sum-sum memang mengandung zat besi, kalsium, dan vitamin B12 yang bermanfaat untuk kesehatan tulang dan darah. Namun, keuntungan ini tidak menghilangkan risiko jika dikonsumsi secara berlebihan. Dokter menyarankan untuk menggabungkan makanan jeroan ini dengan sayur-sayuran dan buah-buahan yang kaya serat untuk menyeimbangkan nutrisi.

Untuk anak usia 6-12 tahun, porsi otak dan sum-sum bisa ditingkatkan, tetapi tetap harus dibatasi hingga 2-3 kali seminggu. Selain itu, orang tua perlu memperhatikan kandungan purin dalam makanan tersebut. Purin berlebihan dapat berubah menjadi asam urat setelah metabolisme, yang berisiko menyebabkan penyakit gout atau batu ginjal.

“Jika anak sering makan otak dan sum-sum, pastikan makanan tersebut tidak menjadi bagian utama dari asupan harian. Gunakan sebagai camilan jarang, bukan makanan pokok,”

tegas dr. Prajnya. Ia juga menyarankan memasak otak dan sum-sum dengan metode yang mengurangi kandungan lemak jenuh, seperti direbus atau dipanggang, bukan digoreng.

Alternatif Sehat untuk Konsumsi Jeroan

Sebagai pengganti makanan jeroan, dr. Prajnya menyarankan alternatif seperti daging sapi tanpa lemak, ikan, atau telur yang memiliki kandungan purin dan kolesterol lebih rendah. “Bahkan, makanan seperti ikan salmon atau ayam panggang bisa memberikan nutrisi serupa dengan otak dan sum-sum tanpa risiko tinggi,”

katanya. Ia juga menekankan pentingnya menghindari konsumsi berlebihan jeroan selama musim Idul Adha, terutama jika anak-anak memiliki riwayat penyakit tertentu. Konsultasi dengan dokter nutrisi sebelum memperkenalkan makanan baru pada anak sangat dianjurkan.

Leave a Comment