Nasional

Historic Moment: Paviliun Indonesia Angkat Kisah Pelayaran Nusantara di Venice Biennale Arte 2026

Paviliun Indonesia Menggambarkan Kisah Pelayaran Nusantara dalam Venice Biennale Arte 2026 Historic Moment - Jakarta, TRIBUNNEWS.COM – Venice Biennale Arte

Desk Nasional
Published Mei 11, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments

Paviliun Indonesia Menggambarkan Kisah Pelayaran Nusantara dalam Venice Biennale Arte 2026

Historic Moment – Jakarta, TRIBUNNEWS.COM – Venice Biennale Arte 2026 menjadi panggung penting bagi Paviliun Indonesia yang menghadirkan narasi unik tentang pelayaran Nusantara abad ke-15. Pameran ini, bertajuk Printing the Unprinted, merupakan kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan dan Danantara Indonesia Trust Fund, dengan tiga karya utama yang menampilkan perjalanan laut epik melintasi Samudra Hindia hingga Eropa Tengah. Kurator utama, Aminudin TH Siregar, menjelaskan bahwa karya ini bertujuan menyoroti kontribusi sejarah Indonesia dalam globalisasi awal melalui seni.

Konteks Sejarah dan Makna Kehadiran Indonesia

Dalam pameran ini, kisah pelayaran Nusantara tidak hanya menjadi rangkaian cerita, tetapi juga simbol dari upaya bangsa Indonesia membangun hubungan diplomatik dan budaya dengan dunia internasional. Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyatakan bahwa kehadiran Indonesia di Venice Biennale Arte 2026 menjadi historic moment yang penting karena menunjukkan peran kebudayaan dalam menciptakan koneksi budaya yang mendalam. “Ini bukan sekadar pameran seni, tetapi juga bentuk ekspresi identitas nasional yang berani menembus batas geografis dan sejarah,” tuturnya.

“Ini bukan sekadar pameran seni, tetapi juga bentuk ekspresi identitas nasional yang berani menembus batas geografis dan sejarah,”

Kisah Epik Lintas Samudra: Narasi dalam Manuskrip

Manuskrip Printing the Unprinted: The Story of the Grand Voyage menjadi jantung dari pameran ini, yang dibangun dari sudut pandang arsiparis fiktif bernama Datu Na Tolu Hamonangan. Narasi mengikuti perjalanan armada yang berangkat dari Danau Toba, melewati perairan Sumatra Barat, Malaka, Teluk Benggala, Gujarat, Hormuz, Laut Merah, Aleksandria, hingga mencapai Venesia. Proses ini menggambarkan perjalanan sejarah yang mengubah arah pemikiran dunia tentang ekspansi maritime Asia Tenggara.

Pameran ini menyajikan 21 karya etsa yang terbagi dalam tujuh babak, masing-masing menggambarkan perspektif berbeda mengenai perjalanan laut. Babak-babak tersebut menyentuh aspek diplomasi, navigasi, astronomi, serta refleksi spiritual, menciptakan kisah lengkap yang menggabungkan fakta historis dengan imajinasi seni. Seluruh karya dibuat oleh tujuh seniman Indonesia, masing-masing dengan pendekatan kreatif yang berbeda, membentuk cerita kolaboratif yang menginspirasi.

Karya-Karya Utama dan Inspirasi Seniman

Agus Suwage menjadi salah satu seniman yang mengangkat tema otoritas dan diplomasi kerajaan melalui karya The Oath at Pusuk Buhit, Audience at the Republic of Batu, dan Return to the Mountain of Origin. R.E. Hartanto, di sisi lain, menekankan peran navigasi dan kekuatan laut dengan tiga karya yang menggambarkan tantangan perjalanan melalui badai dan kehidupan kapten. Sementara Syahrizal Pahlevi memaparkan konsep peta dan astronomi dengan karya Rewriting the Circle of the World, Library of Florence, serta The Inversion of the World Map, yang memperlihatkan transformasi pemahaman dunia dari perspektif Nusantara.

Historic moment ini juga memberikan kesempatan bagi seniman untuk mengeksplorasi teknik cetak grafis yang memadukan tradisi lokal dengan elemen modern. Rusyan Yasin, misalnya, menghadirkan nuansa seni dan kehidupan laut melalui karya Sahala ni Ombak, yang menggambarkan penjelajahan ilmiah sebagai bagian dari perjalanan ini. Semua karya tidak hanya memperlihatkan perjalanan fisik, tetapi juga simbolisasi upaya Indonesia untuk terus berkontribusi dalam peradaban global.

Leave a Comment