Nasional

Facing Challenges: Wapres: Indonesia Butuh Generasi Muda dan Santri Berakhlak Mulia

Menghadapi Tantangan: Wapres Gibran Rakabuming Tekankan Peran Santri dan Generasi Muda dalam Pembangunan Indonesia Facing Challenges - Menghadapi Tantangan

Desk Nasional
Published Mei 11, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Menghadapi Tantangan: Wapres Gibran Rakabuming Tekankan Peran Santri dan Generasi Muda dalam Pembangunan Indonesia

Facing Challenges – Menghadapi Tantangan – JAKARTA – Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming mengungkap pentingnya generasi muda dan santri yang memiliki akhlak mulia dalam menghadapi berbagai dinamika era modern. Pernyataan tersebut disampaikan saat ia menghadiri Haul ke-55 Al Maghfurlah K.H. Abdul Wahab Chasbullah di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada hari Minggu (10/5/2026). Dalam acara tersebut, Wapres menggarisbawahi bahwa kedua kelompok ini menjadi fondasi utama kekuatan bangsa yang mampu menciptakan kemajuan berkelanjutan.

“Kita berada di tengah masa yang penuh tantangan, dan Indonesia membutuhkan generasi muda serta santri yang berakhlak mulia, cinta tanah air, dan mampu beradaptasi dengan perubahan,” ujar Wapres Gibran Rakabuming. Ia menambahkan bahwa santri tidak hanya diharapkan sebagai penerus iman, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu menjawab isu-isu kritis masa kini.

Dalam dialog yang berlangsung, Wapres meminta para santri untuk tetap menjadi pionir dalam mengembangkan nilai-nilai keagamaan yang relevan dengan kehidupan kontemporer. Ia menekankan bahwa akhlak yang baik adalah kunci untuk membangun masyarakat yang harmonis dan inklusif. Sebagai tokoh muda yang kini menjabat sebagai Wapres, Gibran mengingatkan bahwa keberhasilan bangsa Indonesia bergantung pada kemampuan generasi muda dalam menghadapi tantangan global dan lokal yang semakin kompleks.

Kelompok Santri Sebagai Penggerak Pembangunan Nasional

Pesantren, menurut Wapres, bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga wadah pembentukan karakter yang tangguh. Ia menyoroti bahwa santri yang berakhlak mulia mampu menjadi panutan dalam menghadapi tantangan seperti korupsi, ketimpangan sosial, dan kesenjangan ekonomi. “Santri harus menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar objek dari masalah,” imbuh Wapres. Dalam kesempatan ini, ia juga memberikan apresiasi khusus kepada para pesantren yang berhasil mencetak generasi muda yang berintegritas dan berpemikiran kritis.

Wapres mengungkap bahwa para santri memiliki peran strategis dalam memperkuat kebhinekaan dan membangun ekosistem sosial yang sehat. Ia mencontohkan bahwa nilai-nilai Islam yang diajarkan di pesantren bisa menjadi alat untuk mempromosikan toleransi dan kerja sama lintas budaya. Dalam menghadapi tantangan seperti isu keagamaan yang sering dipersepsikan secara sempit, santri diperlukan untuk memperluas wawasan dan membawa perspektif yang inklusif.

Kemajuan Teknologi dan Pendidikan dalam Bingkai Akhlak

Wapres menyoroti bahwa era digital yang semakin pesat membutuhkan santri yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga kemampuan teknologi dan inovasi. “Kita harus melatih santri agar mampu menjadi pemimpin yang memiliki kecerdasan spiritual dan kemampuan adaptif di dunia yang berubah cepat,” katanya. Ia menekankan bahwa pendidikan di pesantren harus dirancang secara holistik, menggabungkan tradisi dan modernitas, sehingga mampu mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi tantangan masa depan dengan penuh keyakinan dan kearifan.

Dalam kegiatan tersebut, Wapres didampingi oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Bupati Jombang Warsubi, serta Plt. Sekretaris Wakil Presiden Al Muktabar. Hadirnya tokoh-tokoh ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung kolaborasi antara institusi pendidikan dan pemerintahan untuk membangun kekuatan bangsa. Wapres juga memberikan hadiah sepeda kepada dua santri yang terpilih sebagai jawaban terbaik mengenai peran pesantren dalam mengatasi kesulitan saat ini.

Menurut Gibran, generasi muda dan santri harus menjadi pilar utama dalam menggerakkan kesejahteraan nasional. Ia menyoroti bahwa banyak tokoh besar Indonesia, termasuk Gus Dur, berasal dari pesantren dan menunjukkan bahwa pendidikan spiritual bisa menjadi fondasi untuk menghasilkan pemimpin yang mampu menghadapi tantangan politik, ekonomi, dan sosial. “Santri harus bisa menjadi contoh bagi masyarakat, bahkan di tengah lingkungan yang seringkali tidak menghargai nilai-nilai luhur,” jelas Wapres.

Dalam pembukaan acara, Wapres juga mengingatkan bahwa tanggung jawab menghadapi tantangan tidak hanya berada di pundak pemerintah, tetapi juga masyarakat. Ia mengajak seluruh warga negara untuk menjaga harmoni dan kolaborasi dalam membangun bangsa. “Jika kita tidak memiliki generasi muda yang berakhlak mulia, Indonesia akan sulit mencapai kemajuan yang sejalan dengan visi menuju negara besar,” tegasnya. Pernyataan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan menciptakan wadah kreativitas bagi santri.

Leave a Comment