Nasional

Key Issue: Pakar UI Sebut Banyak Anak Indonesia Cukup Makan, Namun Kurang Gizi

Pakar UI Sebut Banyak Anak Indonesia Cukup Makan Tapi Kurang Gizi Key Issue – Menurut Sandra Fikawati, peneliti dari Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan (PKGK)

Desk Nasional
Published Mei 12, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Pakar UI Sebut Banyak Anak Indonesia Cukup Makan Tapi Kurang Gizi

Key Issue – Menurut Sandra Fikawati, peneliti dari Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan (PKGK) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), keadaan gizi anak-anak di Indonesia menunjukkan paradoks yang mengejutkan. Meskipun sebagian besar anak menerima porsi makanan harian yang memadai, kenyataannya, kualitas nutrisi yang mereka dapatkan masih tidak seimbang. Hal ini mengakibatkan masalah gizi seperti stunting, anemia, dan obesitas yang semakin sering ditemukan di kalangan anak usia dini. Problema ini menjadi Key Issue yang mendesak bagi pemerintah dan masyarakat untuk segera menangani.

“Anak-anak di Indonesia sering kali mengandalkan makanan utama berupa karbohidrat seperti nasi, mi, atau camilan berkalori tinggi. Padahal, mereka masih kurang memperoleh protein hewani seperti telur, ikan, daging, dan susu, yang menjadi bagian penting dari nutrisi seimbang,” kata Sandra Fikawati dalam wawancara terkini.

Pola makan yang dominan berbasis karbohidrat dan berkalori tinggi disebut Sandra sebagai Key Issue utama dalam munculnya kondisi gizi buruk. Faktor ekonomi keluarga menjadi penghalang utama, karena makanan berprotein hewani sering kali dianggap lebih mahal dan sulit diakses oleh keluarga berpenghasilan rendah. Selain itu, kurangnya pemahaman orang tua tentang pentingnya variasi makanan dan gizi seimbang juga memperparah situasi ini. Pada usia balita, yang merupakan masa pertumbuhan kritis, kurangnya nutrisi dapat berdampak jangka panjang pada perkembangan fisik dan kognitif anak.

Kondisi Gizi Anak: Stunting dan Anemia Mendominasi

Menurut laporan terbaru, Key Issue keterbatasan gizi makro seperti protein dan vitamin masih menjadi ancaman serius. Stunting, yang menyebabkan tinggi badan anak tertinggal dibanding standar usia, ditemukan pada sekitar 30% anak di bawah usia 5 tahun. Sementara anemia akibat defisit besi terjadi pada sekitar 50% anak usia 6-59 bulan, yang menunjukkan kurangnya asupan zat besi dalam diet harian. Kedua masalah ini, menurut Sandra, berdampak pada kemampuan belajar dan produktivitas anak di masa depan.

Di sisi lain, obesitas yang mengalami peningkatan di kalangan anak usia dini juga menjadi Key Issue yang tidak boleh diabaikan. Konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak yang tidak seimbang dengan aktivitas fisik menyebabkan peningkatan risiko penyakit seperti diabetes tipe 2 dan hipertensi. Kondisi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan gizi di Indonesia, di mana sebagian anak kekurangan nutrisi sementara sebagian lainnya mengalami kelebihan asupan.

Penyebab Utama di Balik Kondisi Gizi Anak

Key Issue yang mendasari masalah gizi di Indonesia meliputi faktor ekonomi, budaya makan, dan kurangnya edukasi gizi. Keterbatasan pendapatan membuat keluarga lebih memilih makanan murah yang mengandung karbohidrat dan kalori, dibanding makanan yang lebih mahal namun bernutrisi tinggi. Anggapan bahwa protein hewani tidak terjangkau juga mengakibatkan kebiasaan makan yang tidak sehat. Sandra Fikawati menekankan bahwa pendidikan tentang kebutuhan nutrisi seimbang perlu ditingkatkan, terutama di kalangan ibu hamil dan ibu menyusui, karena mereka berperan penting dalam memperbaiki pola makan anak.

Dalam beberapa tahun terakhir, Key Issue ini semakin diperparah oleh kurangnya akses ke pasar makanan sehat dan kesadaran masyarakat yang rendah terhadap pentingnya variasi bahan makanan. Pemerintah, lembaga swadaya, dan komunitas lokal perlu bekerja sama dalam memperkenalkan pola makan yang lebih baik, terutama melalui program edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Tanpa intervensi yang tepat, masalah gizi buruk pada anak-anak akan berdampak signifikan pada kesehatan nasional dan pertumbuhan ekonomi di masa depan.

Menurut Sandra, Key Issue utama lainnya adalah kurangnya pengawasan terhadap pola makan anak di lingkungan sekitar. Dalam rumah tangga, orang tua sering kali terbawa oleh kebiasaan makan yang tidak sehat, seperti makanan olahan dan junk food. Di sekolah, kebijakan makanan yang tidak terstandarisasi juga berkontribusi pada kondisi gizi yang tidak optimal. Dengan adanya Key Issue ini, diperlukan perubahan kebijakan dan kebiasaan untuk menciptakan lingkungan makanan yang sehat bagi anak.

Leave a Comment