Nasional

Latest Program: Jadi Sutradara Pesta Babi, Dandhy Laksono Tak Dibayar: Kalau Diuangkan, Bisa Ratusan Juta

Latest Program: Dandhy Laksono Sutradara Pesta Babi Tanpa Bayaran, Potensi Pendapatan Ratusan Juta Latest Program telah memperkenalkan Dandhy Dwi Laksono

Desk Nasional
Published Mei 31, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments

Latest Program: Dandhy Laksono Sutradara Pesta Babi Tanpa Bayaran, Potensi Pendapatan Ratusan Juta

Latest Program telah memperkenalkan Dandhy Dwi Laksono, sutradara film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (2026), yang mengungkapkan ia tidak menerima bayaran selama proses produksi. “Saya memberikan keahlian sebagai sutradara secara gratis, karena jika diuangkan, hasilnya bisa mencapai ratusan juta rupiah,” jelas Dandhy dalam wawancara dengan Hendri Satrio di YouTube, Jumat (29/5/2026). Film ini menjadi perbincangan hangat karena narasi kritisnya terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua.

Proses Produksi Tanpa Biaya, Tapi Makna Profesional

Dandhy menjelaskan bahwa dana produksi film Pesta Babi berasal dari berbagai sumber, termasuk sumbangan peralatan, tenaga, atau keahlian yang diberikan oleh tim pembuatan. Meski ia tidak mendapatkan bayaran, ia menekankan bahwa film ini tetap diproduksi dengan profesionalisme tinggi. “Semua yang terlibat memberikan kontribusi maksimal, baik secara finansial maupun kreatif, karena ini adalah Latest Program yang memiliki makna penting,” tambahnya.

Menurut Dandhy, film ini bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat luas tentang dampak Proyek Strategis Nasional di Papua. Ia menambahkan, kisah yang disampaikan melalui film ini tidak hanya menggambarkan ketegangan, tetapi juga pengalaman hidup yang sebenarnya menginspirasi. “Ini adalah Latest Program yang menantang pola pikir, bukan hanya menghibur,” ujarnya.

Reaksi Masyarakat dan Distribusi Film

Sejumlah acara nonton bareng (nobar) Pesta Babi telah berlangsung di berbagai kota, meski beberapa diantara mereka dibubarkan pihak berwenang. Namun, Dandhy menegaskan bahwa filmnya justru disambut dengan antusias oleh masyarakat Papua. “Masyarakat lokal mengapresiasi narasi ini karena sesuai dengan pengalaman mereka,” katanya.

Kini, Pesta Babi telah resmi tersedia di enam platform YouTube, seperti Watchdoc Documentary, Greenpeace Indonesia, Indonesia Baru, Jubi TV, dan Bentala Rakyat. Dandhy menjelaskan bahwa aksesibilitas ini adalah bagian dari Latest Program yang ingin menyebarkan pesan melalui media digital. “Dengan dibagikan di berbagai platform, lebih banyak orang bisa menyaksikan dan merasakan isi film ini,” tambahnya.

“Latest Program ini adalah bagian dari upaya menggambarkan realitas di Papua, termasuk ketegangan yang muncul dari Proyek Strategis Nasional,” kata Dandhy dalam wawancara dengan Hendri Satrio. “Kalau diuangkan, saya mungkin bisa meraih ratusan juta, tapi kepuasan saya lebih dari itu.”

Sejumlah kalangan mempertanyakan kemungkinan pengaruh film ini terhadap opini publik, terutama terkait tafsir narasi kolonialisme. Dandhy menjelaskan bahwa film ini tidak hanya mengkritik kebijakan pemerintah, tetapi juga mencoba membangun dialog antara pihak-pihak yang berbeda. “Ini adalah Latest Program yang ingin menjadi jembatan, bukan hanya provokasi,” katanya.

Leave a Comment