Nasional

Historic Moment: Wapres Gibran Ziarah ke Makam Pendiri NU KH Abdul Wahab Chasbullah di Jombang

Momen Sejarah: Wapres Gibran Ziarah ke Makam Pendiri NU KH Abdul Wahab Chasbullah di Jombang Historic Moment - Sebuah momen sejarah terjadi pada hari Minggu

Desk Nasional
Published Mei 11, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Momen Sejarah: Wapres Gibran Ziarah ke Makam Pendiri NU KH Abdul Wahab Chasbullah di Jombang

Historic Moment – Sebuah momen sejarah terjadi pada hari Minggu (10/5/2026) ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melakukan kunjungan ke makam pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Wahab Chasbullah, yang lebih dikenal sebagai Mbah Wahab, di Jombang. Upacara ziarah ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Haul ke-55 yang diadakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, menegaskan pentingnya menghormati warisan sejarah dan kontribusi tokoh besar yang menginspirasi banyak generasi.

Prosesi Ziarah yang Berkesan

Dalam kunjungan tersebut, Gibran didampingi oleh keluarga KH Abdul Wahab Chasbullah, termasuk KH Hasib Wahab, KH Cholid Mas’ud, H Romahurmuziy, dan H Syaifuddin. Prosesi ziarah dimulai dengan doa yang dipanjatkan oleh Wapres, sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan dan pencerahan yang telah diukir oleh Mbah Wahab. Ziarah ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga menjadi momen sejarah yang menghidupkan semangat kebangsaan dan peradaban dalam konteks modern.

Mbah Wahab, yang dikenang sebagai salah satu wajah pendiri NU, diberi penghormatan khusus dalam perjalanan Gibran ke Jombang. Dalam momen sejarah ini, Wapres menegaskan bahwa peran Mbah Wahab dalam mengisi ruang kebangsaan tetap relevan hingga saat ini. Doa yang diucapkan mengingatkan kembali perjuangan beliau dalam menyatukan umat Islam dan masyarakat Indonesia di bawah satu atap ideologi.

Budaya dan Warisan Mbah Wahab yang Berkelanjutan

KH Abdul Wahab Chasbullah lahir di Jombang pada 31 Maret 1888, dari pasangan KH Hasbullah Said dan Nyai Latifah. Beliau tercatat sebagai tokoh yang mendirikan NU pada 1926, dengan visi unggul membangun masyarakat yang berakar pada nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan. Warisan budaya beliau, seperti lagu Syubbanul Wathan (Ya Lal Wathon), yang ditulis pada tahun 1934, tetap menjadi pengingat akan kecintaan pada tanah air sebagai bagian dari iman.

Sebagai simbol momen sejarah, ziarah Gibran di Jombang tidak hanya mengenang perjalanan hidup Mbah Wahab, tetapi juga mengakui pengaruhnya terhadap perkembangan peradaban Islam di Indonesia. Lagu Ya Lal Wathon, yang menjadi momen sejarah dalam sejarah pergerakan nasional, menggambarkan perpaduan antara semangat kebangsaan dan spiritualitas. Pemakaman beliau, yang berada di tengah lingkungan pesantren, mengingatkan akan perannya dalam menciptakan ruang dialog yang inklusif.

Peringatan Haul dan Kontribusi Seumur Hidup

Kunjungan Gibran ke makam Mbah Wahab terjadi dalam momen sejarah yang khusus, di tengah perayaan Haul ke-55. Perayaan ini menegaskan kembali komitmen NU dalam membangun masyarakat yang berkeadilan dan harmonis. Selama hidup, KH Abdul Wahab Chasbullah berperan besar dalam menggerakkan semangat kebangsaan melalui pencerahan keagamaan yang modern dan relevan. Beliau juga menjabat sebagai ketua umum Masyumi, organisasi politik yang berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan.

Di samping nilai-nilai spiritual dan keagamaan, Mbah Wahab juga dikenang karena kontribusinya dalam menumbuhkan kebudayaan lokal yang kaya. Ziarah Gibran menjadi kesempatan untuk memperkuat pengakuan terhadap bagaimana ide-ide beliau mengakar dalam kehidupan masyarakat Jombang dan sekitarnya. Momen sejarah ini menjadi bagian dari upaya untuk menjaga keberlanjutan warisan kebudayaan dan keagamaan yang ditinggalkan Mbah Wahab.

Pengakuan Nasional dan Makna Momen

Dalam tahun 2014, KH Abdul Wahab Chasbullah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo, sebagai penghargaan atas perannya dalam membentuk identitas nasional yang inklusif. Upacara penetapan pahlawan ini menjadi momen sejarah yang mengukir peran beliau dalam sejarah bangsa. Momen ziarah Gibran ke Jombang pada 2026 berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya menghormati tokoh sejarah yang memperkuat persatuan.

Keberadaan makam Mbah Wahab di Jombang tidak hanya menjadi situs spiritual, tetapi juga menjadi pusat peringatan sejarah. Ziarah Gibran membawa momentum sejarah baru, yang memperkuat peran NU dalam menjaga konsensus kebangsaan di tengah dinamika politik dan sosial modern. Hal ini menegaskan bahwa warisan sejarah tetap relevan dalam membentuk masa depan bangsa Indonesia.

Momen sejarah ini juga menjadi refleksi bagaimana para pendiri organisasi keagamaan seperti NU tetap hidup dalam memori masyarakat. Dengan hadir di makam Mbah Wahab, Gibran menegaskan bahwa kecintaan pada sejarah dan nilai-nilai kebangsaan adalah bagian dari identitas nasional yang tak tergantikan. Dalam suasana yang sederhana namun penuh makna, kehadiran Wapres membawa penghormatan tinggi terhadap peran Mbah Wahab dalam menyatukan berbagai lapisan masyarakat.

Leave a Comment