Seleb

New Policy: Ungkap Perjanjian dengan Sarwendah, Ruben Onsu Sesalkan Dirinya Dipersulit Bertemu Anak

New Policy: Ruben Onsu Kesal Dipersulit Bertemu Anak New Policy - Dalam skenario baru, perjanjian antara Ruben Onsu dan Sarwendah Tan kembali menjadi

Desk Seleb
Published Mei 29, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

New Policy: Ruben Onsu Kesal Dipersulit Bertemu Anak

New Policy – Dalam skenario baru, perjanjian antara Ruben Onsu dan Sarwendah Tan kembali menjadi perbincangan hangat. Meski mereka telah resmi bercerai sejak September 2024, Ruben Samuel Onsu menyatakan bahwa New Policy yang diusung oleh Sarwendah Tan menghalangi pertemuan anak-anaknya. Hal ini memicu kontroversi karena dianggap tidak seimbang dalam penyaluran hak asuh dan akses orang tua terhadap anak.

Detail Perjanjian dalam New Policy

“New Policy yang ditawarkan Sarwendah Tan memuat aturan rinci tentang pertemuan anak dan pembagian harta,” kata Minola Sebayang, kuasa hukum Ruben, seperti dilaporkan di YouTube Reyben Entertainment. “Namun, pengaturan ini dinilai memperketat akses Ruben untuk bertemu putra dan putrinya.”

Minola menjelaskan bahwa dokumen perjanjian tidak hanya menentukan hak asuh, tetapi juga menyisipkan kondisi spesifik yang membatasi frekuensi pertemuan orang tua. Ia menekankan bahwa New Policy ini bertujuan mengatur hubungan pasca-perceraian, namun dinilai kurang fleksibel dalam memenuhi kebutuhan anak.

Menurut Minola, perjanjian yang dibuat Sarwendah Tan menetapkan bahwa Ruben Onsu hanya diberi izin bertemu anak selama 2-3 hari per minggu. Meski aturan ini dianggap jelas, Ruben merasa bahwa New Policy tersebut tidak mencerminkan keadilan, terutama dalam menjaga hubungan emosional antara anak dan ayahnya. “New Policy ini memicu kekhawatiran bahwa keputusan pertemuan anak justru lebih didominasi oleh Sarwendah,” tambahnya.

Kontroversi dan Dukungan Terhadap New Policy

Pertemuan antara Ruben Onsu dan anaknya belakangan ini menjadi sorotan karena adanya New Policy yang diterapkan. Banyak pihak menilai bahwa aturan ini perlu diakui sebagai bentuk kejelasan dalam pengelolaan aspek anak pasca-perceraian. Namun, Ruben mengkritik pendekatan ini, menganggapnya mengurangi kebebasan orang tua untuk merawat anak secara mandiri.

“New Policy ini seharusnya memudahkan pertemuan anak dengan ayahnya, bukan justru mempersulitnya,” terang Ruben. “Sarwendah mencoba mengontrol segala aspek, termasuk waktu bersama anak, yang justru menimbulkan ketidakpuasan.”

Meski demikian, sejumlah pengacara mengatakan bahwa New Policy memang penting untuk menghindari konflik terkait pengasuhan. Mereka berargumen bahwa dokumentasi yang jelas dapat menjadi dasar untuk memastikan hak anak terlindungi secara adil.

Dalam proses perceraian, New Policy berperan sebagai instrumen yang diterapkan Sarwendah Tan untuk memperkuat posisinya. Minola Sebayang mengungkapkan bahwa aturan ini mencakup aspek harta benda dan kehidupan anak secara terpadu. “New Policy ini diusulkan agar pengelolaan kehidupan anak lebih terarah,” jelasnya. “Namun, kenyataannya justru menimbulkan perbedaan pendapat antara kedua belah pihak.”

Langkah Hukum dan Dampak pada Anak

Ruben Onsu mengatakan bahwa New Policy memicu upaya hukum untuk menegakkan haknya. Ia menuntut penjelasan lebih lanjut tentang batasan pertemuan anak, menilai bahwa aturan ini dapat memengaruhi hubungan emosional antara anak dan ayah. “New Policy ini membuat pengasuhan anak lebih terstruktur, tetapi juga mengurangi kebebasan Ruben,” ujarnya.

“New Policy yang diusulkan Sarwendah Tan memberikan kekuatan penuh kepada pihak ibu dalam pengambilan keputusan,” katanya. “Hal ini menimbulkan ketidakseimbangan yang perlu diperbaiki oleh pengadilan.”

Meski New Policy dianggap sebagai solusi untuk mengatur pertemuan anak, Ruben menilai bahwa pihak pengadilan harus memastikan bahwa kebijakan ini tidak melanggar hak orang tua. Ia mencontohkan bahwa anak-anak yang berusia 10 tahun ke atas berhak menentukan preferensi pertemuan mereka sendiri.

Dampak dari New Policy terasa pada rutinitas kehidupan anak. Saat ini, mereka lebih sering berada di sisi Sarwendah Tan, dengan pengaturan pertemuan yang terbatas. Ruben Onsu mengakui bahwa kebijakan ini memberi jaminan untuk kebutuhan anak, tetapi menekankan bahwa kebijakan tersebut harus disesuaikan dengan kondisi nyata. “New Policy ini harus menjadi alat, bukan penghalang,” pungkasnya.

Leave a Comment