Tribunners

Special Plan: Cekungan Bandung Menyongsong Era Bus Listrik, Siapkah Infrastruktur dan APBD?

Special Plan: Cekungan Bandung Menyongsong Era Bus Listrik, Siapkah Infrastruktur dan APBD?

Desk Tribunners
Published Mei 24, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Special Plan: Cekungan Bandung Menyongsong Era Bus Listrik, Siapkah Infrastruktur dan APBD?

Special Plan – Dalam upaya mendorong transformasi transportasi, Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Daerah Bandung mengusulkan Special Plan yang menjadi landasan utama untuk pengembangan sistem jaringan bus listrik di Cekungan Bandung. Kota metropolitan ini, yang mencakup Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Sumedang, menghadapi tantangan besar dalam mengimbangi pertumbuhan populasi yang mencapai 8,86 juta jiwa dengan kapasitas transportasi yang masih terbatas. Special Plan dirancang sebagai strategi integratif untuk meningkatkan aksesibilitas, mengurangi kemacetan, serta memperkuat kesadaran masyarakat terhadap transportasi ramah lingkungan.

Struktur Infrastruktur yang Diperlukan

Menurut data Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (2024), Cekungan Bandung memiliki 619 kawasan perumahan yang tersebar di lima wilayah administratif. Kabupaten Bandung menjadi daerah dengan jumlah kawasan perumahan terbanyak, sebanyak 232, diikuti Kabupaten Sumedang dengan 206, Kota Bandung 100, Kabupaten Bandung Barat 74, dan Kota Cimahi hanya 7 kawasan. Dengan penyebaran kawasan yang tidak merata, kebutuhan akan jaringan transportasi efisien semakin mendesak.

Special Plan mencakup perencanaan total panjang layanan bus listrik sebesar 684 km, termasuk jalur khusus 21 km, 34 stasiun BRT, dan 719 bus stop. Sistem ini akan dioperasikan oleh 478 unit bus listrik yang melayani 18 rute utama, mencakup koridor seperti Cibiru–Kalapa, Lembang–Kalapa, Leuwipanjang–Dipatiukur–Dago, hingga Cibaduyut–Leuwipanjang–Dago. Special Plan juga menekankan pengembangan fasilitas operasional seperti depo dan terminal, yang akan mendukung kelancaran layanan.

Salah satu aspek kunci dalam Special Plan adalah integrasi antar moda transportasi. Pemerintah mendorong penyusunan Rencana Induk Integrasi Transportasi yang memadukan jaringan BRT dengan sistem angkutan lainnya, seperti Kereta Cepat Jakarta–Bandung dan jalur feri. Dengan Special Plan, harapan besar diusahakan agar masyarakat tidak lagi bergantung pada kendaraan pribadi, tetapi beralih ke transportasi umum yang lebih ramah lingkungan dan hemat energi.

Kelancaran implementasi Special Plan juga bergantung pada kesiapan anggaran daerah. APBD Kota Bandung dan kabupaten sekitarnya perlu dialokasikan secara optimal untuk membiayai infrastruktur BRT serta pembangunan sistem manajemen lalu lintas modern, seperti Intelligent Transport System (ITS) dan Area Traffic Control System (ATCS). Dalam Special Plan, penggunaan teknologi canggih diharapkan mampu mengoptimalkan pengoperasian bus listrik, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaatnya secara maksimal.

Rekomendasi untuk Penguatan Jaringan

Usulan dari Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kementerian Perhubungan (2026) memberikan beberapa rekomendasi untuk memperkuat Special Plan ini. Diantaranya, pembangunan prasarana JPO Stasiun Bandung–Pool Damri sepanjang 11 meter, serta fasilitas pejalan kaki Stasiun Bandung–Terminal ST. Hall (201 meter) dan Stasiun Bandung–Paskal Hyper Square (750 meter). Special Plan juga mencakup perpanjangan rute Metro Jabar Trans dari Terminal Leuwipanjang–Hotel Soreang hingga Kawasan Wisata Ciwidey (16,60 km), yang akan memperluas aksesibilitas ke area wisata dan penyangga kota.

Sebagai bagian dari Special Plan, pengembangan halte Stadion Si Jalak Harupat diusulkan untuk memudahkan masyarakat yang menggunakan transportasi umum dalam mengakses kegiatan olahraga dan budaya. Selain itu, perluasan jaringan Damri Stasiun Bandung–Daerah Wisata Lembang dan Cikole (22,9 km) serta pengembangan angkutan feeder Commuter Line Bandung Raya dari Stasiun Gedebage–Summarecon Mall Bandung (2,3 km) juga menjadi fokus utama. Dengan Special Plan, keberlanjutan ekosistem transportasi berkelanjutan diharapkan dapat terwujud dalam beberapa tahun mendatang.

Penggunaan bus listrik dalam Special Plan tidak hanya berdampak pada keberlanjutan lingkungan, tetapi juga pada efisiensi biaya operasional dan pengurangan emisi karbon. Sistem ini diproyeksikan mampu mengangkut sekitar 250.000 penumpang per hari, mengurangi beban jalan raya, dan mengoptimalkan penggunaan lahan. Meski demikian, tantangan dalam Special Plan masih terdapat, seperti kebutuhan tambahan anggaran untuk pembangunan jalur khusus, serta kesiapan masyarakat dalam beralih ke sistem transportasi baru.

Leave a Comment