Menko Airlangga Bahas Kerja Sama Energi dan Ketahanan Pangan dengan PM Belarus
Topics Covered – JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Belarus, Alexander Turchin, di Minsk pada Jumat, 15 Mei 2026. Pertemuan ini menjadi bagian dari Sidang Komisi Bersama (SKB) Ke-8 antara Indonesia dan Belarus, yang bertujuan untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan meningkatkan koordinasi di berbagai sektor, termasuk energi dan ketahanan pangan. Topics Covered pada pertemuan ini membahas sejumlah isu strategis yang relevan untuk kemajuan bilateral kedua negara.
Kerja Sama Energi: Langkah Penting untuk Kemandirian Energi
Dalam sidang tersebut, Airlangga menekankan pentingnya kolaborasi dalam sektor energi, terutama mengingat kebutuhan Indonesia untuk memperluas sumber daya energi terbarukan dan meningkatkan kapasitas infrastruktur. Topics Covered juga mencakup proyek energi bersih yang dapat diwujudkan melalui kerja sama dengan Belarus, yang memiliki potensi besar dalam produksi minyak bumi dan gas alam. Airlangga menjelaskan bahwa Indonesia berkomitmen untuk mengeksplorasi peluang investasi dan transfer teknologi dari Belarus guna mendukung keberlanjutan ekonomi nasional.
“Energi adalah tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia, sehingga kita perlu memperkuat kerja sama di bidang ini. Topics Covered pada pertemuan kali ini mencakup potensi kerja sama dalam pengembangan sumber daya energi terbarukan dan peningkatan efisiensi distribusi,” ujar Menko Airlangga dalam wawancara setelah pertemuan.
Kerja sama energi dengan Belarus dilihat sebagai bagian dari upaya Indonesia untuk memperluas kerangka bilateralnya di luar ASEAN. Airlangga menyebutkan bahwa negara-negara EAEU, termasuk Belarus, memiliki keunggulan dalam ekspor energi dan layanan logistik. Dengan memperkuat hubungan di bidang ini, Topics Covered dapat mendorong stabilitas harga energi di Indonesia dan mengurangi ketergantungan pada pasar internasional.
Ketahanan Pangan: Kontribusi Agro-Industri Belarus
Topics Covered pada pembahasan ketahanan pangan menyoroti peran Belarus dalam menjamin pasokan pangan yang stabil bagi Indonesia. Airlangga mengungkapkan bahwa negara itu memiliki sektor agro-industri yang berkembang, dengan kontribusi sebesar 20,3 persen terhadap PDB nasional pada 2024. Dalam pertemuan, Menko menyoroti kesempatan kerja sama untuk memperluas ekspor bahan pangan dan mengembangkan teknologi pertanian di Indonesia.
Belarus juga dianggap sebagai mitra penting dalam mendukung swasembada pangan Indonesia. Dengan mekanisasi pertanian dan pengelolaan lahan yang efisien, Topics Covered menunjukkan bahwa kemitraan ini bisa menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas pertanian nasional. Airlangga menambahkan bahwa pihaknya siap untuk menjajaki kerja sama dalam pertukaran teknologi pertanian dan pengembangan pasar ekspor pangan.
Di samping itu, pembahasan juga mencakup Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia-EAEU (I–EAEU FTA), yang ditandatangani pada 21 Desember 2025 di St. Petersburg. Airlangga menegaskan bahwa perjanjian ini merupakan bagian dari Topics Covered dalam upaya memperkuat ekspor Indonesia ke pasar EAEU, termasuk Belarus. Ia menyebutkan bahwa kebijakan perdagangan ini bisa meningkatkan akses Indonesia ke bahan baku industri dan produk pertanian yang lebih kompetitif.
Kehadiran Duta Besar Belarus di Minsk, beserta pejabat senior seperti Sesmenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso dan Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Bilateral Irwan Sinaga, menunjukkan komitmen kuat dari kedua belah pihak untuk menjadikan Topics Covered sebagai fondasi kemitraan yang lebih mendalam. Airlangga juga mengapresiasi kesiapan Belarus dalam membuka Kedutaan Besar Indonesia di Minsk, yang diharapkan menjadi pusat koordinasi perdagangan dan investasi antar dua negara.
Menko Airlangga menegaskan bahwa Topics Covered ini tidak hanya tentang pertemuan formal, tetapi juga untuk membangun strategi jangka panjang. Ia menyampaikan bahwa hasil dari pertemuan akan menjadi dasar bagi pembahasan lebih lanjut dalam kerangka kerja sama ekonomi bilateral, termasuk pengembangan infrastruktur dan penguatan hubungan industri. Airlangga juga menyinggung pentingnya keterlibatan sektor swasta dalam mendorong pertukaran teknologi dan investasi antara kedua negara.
