Key Issue: Sarwendah Dituduh Lakukan Pesugihan yang Bikin Ruben Onsu Sakit, Timnya: Itu Fitnah dan Hoaks
Key Issue – Isu pesugihan menjadi sorotan publik saat video Sarwendah di Gunung Kawi, Jawa Timur, viral di media sosial. Tudingan ini menyebut bahwa praktik mistik yang dilakukan artis itu menyebabkan penyakit Ruben Onsu, mantan suaminya, yang kini menjadi perbincangan hangat. Tim hukum Sarwendah, Chris Sam Siwu dan Simon Abraham, berupaya klarifikasi untuk membongkar narasi yang mengarah ke kliennya. “Key issue utama adalah narasi pesugihan yang dilebih-lebihkan,” kata Simon Abraham dalam wawancara terkini.
Perspektif Tim Hukum Sarwendah
Kelompok hukum Sarwendah menegaskan bahwa tudingan tentang hubungan pesugihan dengan kondisi kesehatan Ruben Onsu adalah bagian dari fitnah. Mereka menekankan bahwa semua aktivitas Sarwendah di Gunung Kawi terjadi dalam konteks syuting podcast Kakak Beradik, bukan ritual mistik. “Key issue terkait dengan narasi yang dibangun melalui video viral, dan kami ingin memastikan fakta diungkapkan secara jelas,” ujar Chris Sam Siwu. Ia juga menyebut bahwa penggunaan istilah guna-guna atau pesugihan dalam konteks ini adalah manipulasi informasi.
“Key issue terbesar adalah masyarakat merasa terjebak oleh narasi yang tidak jelas. Kami sedang mengumpulkan bukti untuk menunjukkan bahwa ini hanya kesalahpahaman,” tambah Simon Abraham. Ia menambahkan bahwa tim hukum juga memeriksa peran pihak kuncen Gunung Kawi dalam penyebaran informasi tersebut.
Analisis Video Viral dan Konteks Produksi
Dalam video yang membuat heboh, Sarwendah terlihat berada di gapura yang disebut “sakral”. Namun, Simon Abraham menjelaskan bahwa gapura tersebut merupakan elemen desain produksi untuk menciptakan suasana horor dalam podcast. “Key issue adalah penyebaran kesan pesugihan melalui konten yang disusun dengan strategi tertentu,” katanya. Ia juga menyatakan bahwa aktivitas Sarwendah di Gunung Kawi dilakukan bersama Jordi Onsu dan tim produksi, tanpa ada tanda-tanda ritual mistik.
“Key issue lainnya adalah penjelasan dari narasi video yang dikemas secara menarik, tetapi menyimpang dari fakta sebenarnya. Kami sedang menggali lebih dalam,” pungkas Simon. Ia menyoroti bahwa ekspresi Sarwendah dalam video tidak menunjukkan tindakan pesugihan.
Kontroversi ini menyebar cepat karena kemampuan video viral untuk menarik perhatian dalam hitungan detik. Namun, tim hukum mengungkap bahwa video tersebut dibuat beberapa tahun lalu, sekitar 2021 atau 2022. “Key issue dalam penyebaran isu ini adalah kecepatan masyarakat menghubungkan dua hal yang sebenarnya tidak ada hubungan langsung,” kata Simon. Hal ini membuka ruang untuk memicu persepsi negatif terhadap Sarwendah.
Respons dari Masyarakat dan Analisis Luas
Reaksi publik terhadap isu pesugihan terhadap Sarwendah beragam. Beberapa pengguna media sosial mempercayai narasi tersebut, sementara yang lain mengecamnya sebagai hoaks. “Key issue ini menunjukkan bagaimana informasi bisa berubah menjadi mitos dalam waktu singkat,” tulis seorang netizen dalam komentar. Tim hukum Sarwendah berharap perdebatan ini bisa memperjelas bahwa pesugihan bukanlah jaminan penyebab penyakit Ruben Onsu.
“Key issue adalah kita harus membedakan antara fakta dan narasi. Video viral hanya menjadi alat untuk menggambarkan kisah yang ingin disampaikan,” jelas Simon. Ia juga menambahkan bahwa pihak kuncen Gunung Kawi diperiksa lebih lanjut untuk memastikan apakah ada unsur penipuan dalam penyebaran informasi tersebut.
Sebagai bagian dari upaya klarifikasi, tim hukum menegaskan bahwa Sarwendah tidak melakukan tindakan pesugihan dalam konteks kehidupan sehari-hari. “Key issue utama adalah kejelasan dalam menyampaikan bahwa ini hanyalah kegiatan syuting, bukan ritual kekuasaan,” kata Simon. Mereka berharap media dan masyarakat bisa melihat secara objektif, sehingga reputasi Sarwendah tidak tercemar tanpa bukti kuat.
