Regional

Solving Problems: Tangis Dua Ibu di Sulsel, Relawan Indonesia Dicegat Israel saat Misi Kemanusiaan ke Gaza

bu di Sulsel, Relawan Indonesia Dicegat Israel saat Misi Kemanusiaan ke Gaza Solving Problems: Dua ibu di Sulawesi Selatan mengalami pusing akibat kejadian

Desk Regional
Published Mei 20, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Solving Problems: Tangis Dua Ibu di Sulsel, Relawan Indonesia Dicegat Israel saat Misi Kemanusiaan ke Gaza

Solving Problems: Dua ibu di Sulawesi Selatan mengalami pusing akibat kejadian mengejutkan yang melibatkan anak-anak mereka. Relawan Indonesia yang melakukan misi kemanusiaan ke Gaza, Palestina, kini terancam oleh tindakan Israel yang dikabarkan menahan mereka di tengah perjalanan melalui jalur laut internasional. Insiden ini memicu reaksi emosional dari keluarga besar relawan, yang merasa kehilangan harapan dalam upaya memecahkan masalah kemanusiaan di wilayah konflik tersebut.

Relawan yang Terlibat dalam Misi Kemanusiaan

Kedua relawan tersebut, As’ad Aras Muhammad (33) dari Sinjai dan Andi Angga Prasadewa dari Makassar, telah lama terlibat dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Misi mereka kali ini bertujuan menyampaikan bantuan untuk korban konflik di Gaza, salah satu wilayah yang terus mengalami tekanan dari tindakan militer Israel. Kapal yang mereka naiki menjadi sasaran intersepsi pada Senin (18/5/2026) malam, saat berlayar di kawasan Mediterania Timur.

“Kami telah mempersiapkan bantuan sejak beberapa bulan lalu, dan hari ini mereka dicegat oleh pasukan Israel,” kata salah satu anggota keluarga, yang enggan menyebutkan nama lengkap.

Kelompok relawan tersebut berangkat dari Sulawesi Selatan dengan harapan bisa memberikan kontribusi nyata dalam solving problems terkait kesengsaraan rakyat Gaza. Namun, tiba-tiba kapal mereka dibekap dan dua relawan hilang kabar, menyisakan ketidakpastian bagi keluarga dan masyarakat yang mendukung perjuangan kemanusiaan mereka.

Keluarga Berharap Perjuangan Relawan Tak Berhenti

Keluarga As’ad di Sinjai, khususnya ibunya, Rabia (60), terus mengungkapkan rasa sedih dan kecemasan. “Anak saya dikenal sangat peduli pada isu kemanusiaan, meskipun tidak suka berbicara banyak,” ujarnya, Rabu (20/5/2026). Perjuangan mereka untuk solving problems di wilayah konflik ini dianggap sebagai bentuk kepedulian yang luar biasa, meski kini terjebak dalam situasi yang berat.

Rabia menyebutkan bahwa kegelisahan menghimpit keluarga sejak kapal berlayar. “Saya menduga ada masalah sejak awal perjalanan, tapi tidak menyangka akan sejauh ini,” tambahnya sambil menahan air mata. Ia berharap agar upaya mereka dalam solving problems melalui bantuan kemanusiaan tidak terhenti meski anaknya kini dalam tahanan Israel.

“Anak saya tidak pernah menyangka akan diculik. Tapi kami yakin ia akan terus berjuang, bahkan jika harus menyusuri jalan yang penuh tantangan,” tutur Rabia, yang telah menjadi bagian dari komunitas relawan sejak lama.

Respon dari Masyarakat dan Relawan Lainnya

Kejadian ini memicu reaksi dari masyarakat Sulsel dan relawan lainnya yang mendukung misi kemanusiaan tersebut. Informasi pertama tentang penangkapan As’ad datang melalui grup WhatsApp, yang menjadi jaringan komunikasi utama bagi para relawan. “Saya hanya melihat pesan bahwa anak saya tidak bisa berkomunikasi lagi. Itu saat yang paling mengerikan,” katanya.

Keluarga menunggu kabar lebih lanjut dari pihak Israel, tetapi hingga kini belum ada penjelasan resmi. Keberadaan As’ad yang hilang kini menjadi fokus perhatian, karena ia terlibat dalam beberapa proyek solving problems yang bertujuan memperkuat hubungan antarumat beragama di wilayah Palestina. Dengan kehilangan anaknya, keluarga semakin berharap bahwa kebijakan Israel terhadap relawan internasional tetap transparan.

“Jika anak kami bisa terus terlibat dalam solving problems, mungkin kesengsaraan rakyat Gaza bisa segera teratasi,” harap Andi, kakak kandung As’ad, yang juga terlibat dalam misi kemanusiaan.

Kebanggaan Keluarga atas Pengorbanan Relawan

Di tengah rasa sedih, keluarga As’ad juga merasa bangga. “Anak kami tidak pernah menyangka akan sampai sejauh ini, tapi kami terus mendukung usahanya,” ujar Andi. Perjuangan mereka untuk solving problems di wilayah konflik Palestina dianggap sebagai bentuk cinta tanpa batas kepada sesama manusia.

Solving Problems yang mereka usung telah menjadi bagian dari identitas As’ad sejak lama. Ia aktif dalam berbagai organisasi sosial sejak tahun 2014, dan kini kehilangan kesempatan untuk terus menyelesaikan masalah melalui bantuan. Keluarga berharap pemerintah Indonesia bisa memberikan dukungan lebih besar untuk relawan yang terjebak di luar negeri.

“Saya hanya berharap Israel bisa menyampaikan kabar anak saya segera. Dengan informasi yang jelas, kami bisa melanjutkan usaha solving problems yang ia mulai,” pungkas Rabia, yang sebelumnya sudah membantu berbagai proyek kemanusiaan di Sulsel.

Kejadian Misi Kemanusiaan di Gaza Menjadi Perhatian Internasional

Kejadian penahanan relawan Indonesia oleh Israel memicu perhatian dunia internasional. Banyak organisasi kemanusiaan dan media menyebutkan bahwa insiden ini menunjukkan tantangan yang dihadapi relawan dalam upaya solving problems di wilayah konflik. Israel mengklaim bahwa penahanan dilakukan untuk mengamankan operasi militer mereka, namun keluarga relawan menilai bahwa tindakan ini mengganggu upaya kemanusiaan.

Di sisi lain, masyarakat Sulsel meminta agar tindakan Israel tetap diperiksa dan transparan. “Kami ingin solving problems tidak hanya di Sulsel, tapi juga bisa terus berjalan di Gaza,” kata salah satu anggota komunitas relawan. Insiden ini dianggap sebagai pengingat bahwa konflik di Gaza masih membutuhkan bantuan dari luar, terutama dari relawan yang bersedia mengorbankan waktu dan tenaga mereka.

“Kami tidak menyangka akan menanggung rasa sedih sebesar ini. Tapi kami yakin, solving problems tetap akan terus berlanjut,” pungkas Angga, salah satu relawan yang tetap berada di kapal untuk menunggu kabar anaknya.

Leave a Comment