Latest Program: DPR Temukan Gejala Oligopoli yang Merosotkan Peluang Sineas Lokal
Latest Program – Jakarta, TRIBUNNEWS.COM – Industri perfilman nasional kembali memicu perdebatan setelah ditemukan gejala oligopoli yang semakin menguatkan dominasi perusahaan produksi besar. Fenomena ini menghambat kesempatan sineas indie untuk menjangkau pasar luas, sehingga mengakibatkan keberagaman karya lokal terancam. DPR RI melakukan investigasi lebih lanjut untuk mengungkap penyebab penurunan daya saing dalam sektor ini.
Analisis DPR: Kuasa Produksi Terpusat dalam 6-7 Perusahaan
Menurut anggota DPR RI, Komisi VII, Lamhot Sinaga, industri film mengalami ketimpangan kuasa yang signifikan. Dalam siaran Latest Program, ia menjelaskan bahwa dari 113 perusahaan produser yang terdaftar hingga 2025, hanya sekitar 6-7 perusahaan besar yang menguasai distribusi film secara dominan. Angka ini mencerminkan konsentrasi pengaruh yang sangat tinggi, terutama dalam pengambilan keputusan penayangan di bioskop.
“Kita menemukan bahwa hanya 10 persen dari total perusahaan produser yang menguasai hampir separuh akses layar lebar. Ini mengindikasikan adanya oligopoli yang mendorong ketergantungan bioskop pada perusahaan tertentu,” kata Lamhot dalam wawancara terkait Latest Program.
Kendala Akses: Penyebab Utama Kesulitan Sineas Independen
Produser independen menghadapi tantangan besar dalam meraih jadwal tayang. Dalam program Latest Program, Faridsyah Zikri, produser dari Anak Bangsa Pictures, menjelaskan bahwa sineas indie sering kali harus meminta akses layar bioskop selama berbulan-bulan, bahkan sampai setahun. Kesulitan ini tidak hanya mempercepat keterpurukan karya lokal, tapi juga menekan kreativitas dan inovasi.
“Waktu saya membuat film pertama pada 2016, hanya bisa menjangkau 10 layar dari 2.400 bioskop yang ada. Sementara film produksi perusahaan besar seperti ‘Dilan’ bisa menempati ratusan layar, membuat sineas indie terjepit,” ujarnya dalam sesi diskusi Latest Program.
Dalam konteks ini, Lamhot menegaskan bahwa mekanisme penayangan film perlu diperbaiki agar lebih adil. Ia menyoroti bahwa meski ada kebijakan untuk mendukung film lokal, dominasi perusahaan besar tetap menghalangi pengembangan sektor independen. “Latest Program” menjadi platform untuk mengupas akar masalah ini secara mendalam.
Implikasi Ekonomi: Hambatan Kritis bagi Pengembangan Industri
Industri perfilman yang terdistorsi oleh oligopoli juga berdampak pada ekonomi kreatif nasional. Lamhot menjelaskan bahwa kecilnya akses bioskop menyebabkan banyak produser indie mengalami kebangkrutan atau beralih ke bentuk produksi lain, seperti streaming. “Latest Program” membahas bahwa penurunan daya saing ini justru memperkuat dominasi perusahaan besar, sehingga mengurangi ruang bagi produsen muda.
“Kita harus memikirkan bagaimana memperluas peluang sineas indie. Jika hanya 6-7 perusahaan yang menentukan arah industri, maka keberagaman karya akan semakin mengecil,” tambah Lamhot dalam sesi terakhir Latest Program.
Langkah Pemecahan: Perlu Regulasi yang Lebih Kuat
Persaingan yang tidak sehat dalam industri film telah memicu diskusi tentang kebutuhan regulasi yang lebih ketat. Lamhot menyarankan pemerintah memberikan kewenangan lebih besar kepada produser indie, seperti kuartil akses layar bioskop yang terbatas. “Latest Program” mencatat bahwa kebijakan ini bisa memperbaiki ekosistem perfilman dan memperkuat keberlanjutan karya lokal.
Dalam konteks sosial, Lamhot juga menyoroti bahwa dominasi perusahaan besar berpotensi mengurangi jumlah film yang menggambarkan keberagaman budaya dan isu sosial. “Latest Program” menjadi sarana untuk menggali sisi-sisi ini dan mendorong reformasi struktural.
Kebutuhan Perubahan: Kebijakan yang Tepat untuk Memperkuat Kreativitas
Faridsyah Zikri menambahkan bahwa keberadaan sineas indie tidak hanya bergantung pada kualitas film, tapi juga pada sistem distribusi yang seimbang. Dalam program Latest Program, ia menekankan bahwa karya-karya kecil sering kali dipaksa menyesuaikan diri dengan preferensi perusahaan besar, yang memperbesar ketimpangan dalam industri.
“Dalam kondisi saat ini, kreativitas sineas indie tidak bisa berkembang tanpa dukungan eksternal. Kita butuh sistem yang lebih adil agar mereka bisa menembus pasar bioskop,” jelas Faridsyah dalam Latest Program.
Analisis dalam “Latest Program” juga menyoroti bahwa dominasi perusahaan besar berpotensi menciptakan siklus yang berkelanjutan. Dengan kekuatan finansial dan jaringan distribusi yang lebih luas, perusahaan besar terus menguasai pasar, sementara sineas indie harus mempertahankan eksistensinya dengan strategi yang lebih kreatif dan ekonomis.
