Regional

Special Plan: Saat Keraton Yogyakarta Ikut Irit Pemerintah, Tradisi Gunungan Dihilangkan

Special Plan: Keraton Yogyakarta Sederhanakan Tradisi Gunungan Special Plan - Dalam rangka Special Plan yang dijalankan oleh Pemerintah Daerah Yogyakarta

Desk Regional
Published Mei 23, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments

Special Plan: Keraton Yogyakarta Sederhanakan Tradisi Gunungan

Special Plan – Dalam rangka Special Plan yang dijalankan oleh Pemerintah Daerah Yogyakarta, Keraton Yogyakarta mengambil langkah untuk mengurangi pengeluaran dalam rangkaian upacara Hajad Dalem Garebeg Besar tahun ini. Sultan HB X, sebagai pemimpin Kesultanan, mengatakan bahwa penyederhanaan tradisi Gunungan menjadi bagian dari strategi efisiensi yang terus dilakukan oleh instansi kesultanan guna menyesuaikan kondisi ekonomi yang sedang mengalami tekanan. Penghapusan Gunungan ini juga memengaruhi sejumlah ritual pendamping yang dulu rutin digelar.

Perubahan dalam Tradisi yang Khas

Tradisi arak-arakan Gunungan, yang merupakan bagian dari ritual tahunan Kesultanan Yogyakarta, kini tidak akan dilaksanakan dalam upacara Hajad Dalem Garebeg Besar tahun ini. Acara ini tetap diadakan pada Rabu, 27 Mei 2026, sebagai rangkaian Iduladha 1447 Hijriah, tetapi dengan format yang lebih sederhana dibandingkan masa lalu. Sultan HB X menjelaskan bahwa keputusan ini diambil untuk mengoptimalkan penggunaan anggaran dalam konteks Special Plan yang sedang berlaku.

Sejumlah tradisi pendamping seperti iring-iringan prajurit, Gladhi Resik Prajurit, dan Numplak Wajik juga tidak akan dilakukan. Sultan HB X menegaskan bahwa biaya paling besar dalam upacara Garebeg terkait dengan Gunungan dan keikutsertaan pasukan prajurit. “Dengan Special Plan, kita juga perlu mengurangi beban finansial yang bisa dialihkan ke kebutuhan lain,” tambahnya.

Penyesuaian Sebagai Respon Ekonomi

Keraton Yogyakarta menegaskan bahwa kebijakan penyederhanaan tradisi ini bukanlah hal yang baru. Sebelumnya, dalam situasi pandemi Covid-19, upacara adat seperti Garebeg juga sempat disederhanakan untuk menghemat biaya. Sultan HB X menyebut bahwa adat tradisional dalam Kesultanan Yogyakarta terus beradaptasi seiring perubahan kondisi ekonomi dan kebutuhan masyarakat. “Ini bagian dari Special Plan yang dirancang untuk mengurangi pengeluaran tanpa mengorbankan makna ritual,” jelasnya.

KRT. Kusmanegara, sebagai Abdi Dalem senior, membenarkan bahwa instruksi untuk menyederhanakan acara Garebeg telah diberikan. “Tidak hanya Garebeg Besar, beberapa acara seperti Garebeg Sawal dan Garebeg Mulud juga mengalami penyesuaian dalam Special Plan,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa perubahan ini dilakukan secara bertahap, dengan tetap menjaga keharmonisan antara tradisi dan kebutuhan anggaran.

Imbas pada Budaya Lokal

Perubahan ini memicu respons dari sejumlah elemen masyarakat yang menganggap tradisi Gunungan memiliki nilai sejarah dan identitas budaya yang tinggi. Meski demikian, Sultan HB X mengatakan bahwa Special Plan ini adalah langkah yang wajar. “Kita perlu merespons kondisi saat ini, terutama dalam konteks Special Plan yang memengaruhi seluruh sektor pemerintahan,” ujarnya.

Sementara itu, masyarakat setempat memandang bahwa adaptasi ini bisa menjadi contoh bagus dalam mempertahankan nilai tradisi sambil tetap memperhatikan efisiensi. Dengan Special Plan, Keraton Yogyakarta mengupayakan keseimbangan antara menjaga warisan budaya dan memenuhi target penghematan anggaran. Hal ini diharapkan bisa menjadi model untuk institusi kesultanan lain di Indonesia.

Masa Depan Tradisi Adat

Penyesuaian dalam upacara Garebeg sebagai bagian dari Special Plan ini tidak hanya mengacu pada biaya, tetapi juga pada pemanfaatan sumber daya yang lebih optimal. Sultan HB X menegaskan bahwa penghematan anggaran tidak berarti mengurangi makna ritual, melainkan memastikan tradisi ini tetap hidup meskipun dalam format yang lebih terjangkau. “Kita ingin menjaga keberlanjutan tradisi ini, baik dalam Special Plan maupun dalam keadaan normal,” tutupnya.

Leave a Comment