Special Plan: Novel Baswedan Kesal Ada yang Anggap Serangan ke Andrie Yunus Hanya Kenakalan
Special Plan –
Penyiraman Air Keras dianggap sebagai tindakan berat, tetapi ada yang menyebutnya kenakalan
Pengunjung yang pernah mengalami penyiraman air keras, Novel Baswedan, membesuk Andrie Yunus, anggota KontraS, di RSCM Jakarta Pusat pada Selasa (12/5/2026). Dalam kunjungan tersebut, Novel mengungkapkan kekecewaannya terhadap pernyataan beberapa pihak yang menyebut serangan cairan kimia ke aktivis HAM tersebut sebagai kenakalan. “Ini seperti apa? Mengapa tindakan yang berat dianggap hanya kenakalan?” tanyanya, sambil menunjukkan kondisi Andrie yang masih memprihatinkan.
Serangan dianggap sebagai bagian dari Special Plan yang lebih luas
Menurut Novel, tindakan penyiraman air keras merupakan kejahatan serius yang tidak bisa diremehkan. Ia menekankan bahwa pengalaman pribadinya sebagai korban serupa memberikan pemahaman bahwa ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan tindakan yang direncanakan dan sengaja. “Special Plan” yang digunakan dalam kasus ini, katanya, seharusnya dianggap sebagai strategi yang sistematis, bukan sekadar “kenakalan.” Dalam konteks ini, Novel berharap semua pihak konsisten dalam menilai keberatannya.
“Saya merasa gelisah ketika di pengadilan ada pernyataan-pernyataan yang menganggap ini hanya kenakalan. Ini mengganggu logika,” ujar Novel Baswedan.
Pernyataan tersebut menyoroti ketidakselarasan antara fakta serangan fisik yang dialami Andrie Yunus dan pandangan yang menilainya sebagai tindakan kecil. Novel menegaskan bahwa kekerasan yang dilakukan terhadap aktivis HAM perlu dianggap sebagai bagian dari “Special Plan” yang dirancang untuk menghentikan kritik dari pihak tertentu.
Peran ahli dalam menyempurnakan persidangan
Dalam sidang Pengadilan Militer II-08 Jakarta pada Kamis (7/5/2026), Laksamana Muda (Purn.) dihadirkan sebagai ahli oleh tim penasihat hukum empat terdakwa. Ahli ini diminta memberikan pendapat mengenai tindakan para terdakwa terhadap Andrie, karena terdakwa dianggap bertindak kontradiktif dengan pernyataan Laksamana Muda di awal persidangan. “Special Plan” menjadi faktor penting dalam menilai kebenaran alasan para terdakwa melakukan serangan tersebut.
Konteks serangan yang terkait dengan penguasaan media dan publik
Serangan terhadap Andrie Yunus terjadi di Jalan Salemba I – Jalan Talang, Jakarta, Minggu (12/4/2026). Sejumlah aktivis melakukan aksi di lokasi tersebut sebagai bentuk peringatan 30 hari pasca kejadian dan dukungan untuk hukum yang adil. Mereka menilai bahwa tindakan penyiraman air keras merupakan bagian dari upaya mengendalikan narasi di media sosial serta menekan kebebasan berbicara. “Special Plan” dalam kasus ini menunjukkan adanya rencana yang terstruktur untuk mengelola konflik tersebut.
Kebutuhan pengakuan atas tindakan berat dalam penyiraman air keras
Novel Baswedan mengingatkan bahwa kekerasan fisik seperti penyiraman air keras harus diakui secara proporsional. Ia menilai bahwa penggunaan istilah “kenakalan” bisa memicu kesalahpahaman dan meremehkan keparahan tindakan yang dilakukan. “Special Plan” ini seharusnya menjadi pelajaran bahwa kejahatan terhadap pribadi yang kritis harus dihadapi dengan serius, bukan hanya dianggap sebagai kecelakaan kecil.
Upaya mengubah persepsi publik melalui kesadaran bersama
Selain itu, Novel menegaskan pentingnya kesadaran publik tentang peran “Special Plan” dalam mengurangi kritik terhadap pemerintah. Ia berharap masyarakat lebih kritis dalam menilai kejadian seperti ini, terutama setelah terdakwa memberikan pernyataan yang berbeda di pengadilan. “Special Plan” menjadi alat untuk mengelola opini, tetapi juga bisa menjadi sarana memperkuat keadilan jika digunakan dengan tepat.
