Kebijakan Baru: Tantangan Produksi Susu Nasional di Indonesia
New Policy – Dalam upaya meningkatkan kapasitas produksi susu lokal, pemerintah Indonesia mengumumkan new policy yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Meski sektor pertanian sudah berhasil membangun surplus pada komoditas seperti daging ayam dan telur, permintaan susu masih jauh lebih tinggi dari hasil produksi dalam negeri. Data dari Neraca Pangan 2024 menunjukkan bahwa negara ini mengimpor sekitar 3,7 juta ton susu setiap tahun, dengan produksi nasional hanya mencapai sekitar 1 juta ton. New policy ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk mengatasi ketidakseimbangan antara kebutuhan dan kapasitas produksi, terutama di tengah tantangan yang dihadapi oleh sektor persusuan.
Analisis Defisit Susu: Penyebab dan Dampak
“Produksi susu nasional saat ini hanya mencapai sekitar 1 juta ton per tahun, meski populasi sapi perah hanya sekitar 600 ribu ekor,” kata Makmun dalam forum US–Indonesia Dairy Partnership Summit 2026 di Jakarta, Senin (22/6/2026).
Menurut Makmun, defisit susu dan daging sapi mencapai 3,7 juta ton serta 0,4 juta ton per tahun, yang menggambarkan keterbatasan kapasitas produksi nasional. Kebutuhan akan bahan baku seperti konsentrat protein, pakan ternak, dan pupuk masih didominasi oleh impor, mencerminkan ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan. New policy menjadi jawaban yang diharapkan untuk mengubah paradigma ini, dengan fokus pada pengembangan infrastruktur dan perbaikan struktur industri.
Salah satu penyebab utama defisit susu adalah produktivitas sapi perah yang rendah. Menurut data, rata-rata produksi susu per ekor per hari hanya mencapai 10–15 liter, jauh di bawah standar produsen utama dunia yang mencapai 20–30 liter per hari. Faktor-faktor seperti akses teknologi, ketersediaan pakan berkualitas, dan manajemen ternak yang belum optimal berkontribusi pada keadaan ini. Selain itu, struktur industri yang terutama dipegang oleh peternak rakyat—dengan 88% dari mereka hanya memiliki 3–5 ekor sapi—menyebabkan peningkatan produksi tidak sebanding dengan pertumbuhan populasi sapi.
Langkah Strategis dalam New Policy: Modernisasi Peternakan
Untuk mengatasi masalah ini, new policy mencakup sejumlah strategi modernisasi peternakan. Salah satu fokus utamanya adalah peningkatan kualitas bibit sapi perah melalui program seleksi genetik yang lebih ketat. Selain itu, penerapan inseminasi buatan dan penggunaan teknologi digital dalam pemantauan kesehatan ternak diharapkan meningkatkan efisiensi produksi. Perluasan sentra persusuan di luar Pulau Jawa juga menjadi bagian penting dari new policy, karena saat ini lebih dari 90% populasi sapi terpusat di daerah ini, membatasi distribusi nasional dan meningkatkan ketergantungan pada logistik yang tidak selalu stabil.
Indonesia juga sedang memperkuat kebijakan dalam peningkatan akses pembiayaan bagi peternak skala kecil. Dana bantuan dari pemerintah serta program kemitraan dengan perusahaan besar diharapkan mendorong pengembangan teknologi dan peningkatan kapasitas produksi. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah mendorong pemanfaatan limbah agroindustri sebagai bahan pakan ternak, yang memperkuat keberlanjutan industri susu. New policy akan mempercepat penerapan strategi ini, serta menjamin pengawasan lebih ketat terhadap peningkatan efisiensi.
Peran New Policy dalam Mendorong Pertumbuhan Industri Susu
Di samping upaya modernisasi peternakan, new policy juga memperhatikan aspek pemasaran dan kebijakan pemerintah. Kementerian Pertanian sedang menyusun Inpres (Instruksi Presiden) untuk mempercepat produksi susu dan daging sapi nasional, melibatkan kerja sama lintas kementerian dan lembaga. Inpres ini akan menjadi dasar untuk implementasi new policy yang lebih komprehensif, termasuk pengaturan harga susu internasional dan dukungan subsidi untuk penggunaan pakan lokal.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diharapkan menjadi faktor pendorong permintaan susu dalam beberapa tahun mendatang. Dengan peningkatan konsumsi susu di kalangan anak-anak dan remaja, Indonesia bisa memperkuat posisi ekspor sektor susu. New policy juga mencakup rencana pengembangan industri pengolahan susu, seperti pabrik susu kemasan dan unit pengolahan protein nabati, untuk menekan ketergantungan pada produk impor. Selain itu, pemerintah berencana memberikan insentif bagi produsen susu yang berkomitmen pada standar kualitas dan keberlanjutan lingkungan.
Keberhasilan new policy bergantung pada koordinasi yang baik antara sektor pemerintah, swasta, dan masyarakat. Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, serta lembaga seperti Kementerian Pangan akan bekerja sama untuk memastikan kebijakan ini mencapai tujuannya. Dengan menyeimbangkan antara peningkatan produksi, efisiensi manajemen, dan kebutuhan pasar, new policy berpotensi mengubah wajah sektor persusuan Indonesia, yang sebelumnya terus mengimpor jutaan ton susu setiap tahun. Pelaksanaan kebijakan ini juga akan memberikan dampak positif terhadap ketersediaan susu untuk masyarakat, serta mengurangi defisit yang selama ini dialami oleh negara ini.
