Bisnis

Special Plan: Industri Keramik Khawatir Harga Gas Melonjak, ASAKI: Kondisi Sudah SOS

Industri Keramik Khawatir Harga Gas Melonjak, ASAKI: Kondisi Sudah SOS Special Plan menjadi sorotan utama dalam upaya menangani ancaman kenaikan harga gas

Desk Bisnis
Published Mei 25, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments

Industri Keramik Khawatir Harga Gas Melonjak, ASAKI: Kondisi Sudah SOS

Special Plan menjadi sorotan utama dalam upaya menangani ancaman kenaikan harga gas bumi yang mengintai sektor manufaktur keramik. Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI) menyatakan bahwa kenaikan tarif regasifikasi LNG oleh Perusahaan Gas Negara (PGN) yang mulai berlaku Juni 2026 memicu kekhawatiran serius. Dengan Special Plan yang diusulkan, industri keramik berharap bisa mendapatkan solusi jangka panjang untuk mengatasi kenaikan biaya energi yang berdampak pada daya saing produk di pasar global.

Pengaruh Kenaikan Harga Gas Bumi pada Industri Keramik

Kenaikan harga gas bumi, terutama melalui tarif regasifikasi LNG, menjadi faktor utama yang mengganggu keberlanjutan industri keramik. Edy Suyanto, Ketua Umum ASAKI, menjelaskan bahwa pasokan gas bumi sangat vital dalam proses produksi keramik, sebab energi ini memegang peran kritis dalam pengeringan dan pemanasan bahan baku. “Dengan kenaikan harga, biaya produksi meningkat, sehingga berpotensi merusak profitabilitas perusahaan dan menghambat pertumbuhan ekspor,” terang Edy dalam pernyataan resmi, Senin (25/5/2026).

“Kenaikan harga gas bumi mengancam stabilitas industri keramik. Jika tidak segera dikelola, risiko krisis bisa terjadi. Special Plan diperlukan untuk memastikan pasokan gas tetap terjangkau, terutama dalam kondisi ekonomi yang masih fluktuatif,” ujarnya.

Edy menekankan bahwa industri keramik sedang dalam fase ekspansi, sehingga kenaikan harga gas bisa mengurangi daya saing produk di pasar internasional. Ia mengungkapkan bahwa biaya produksi yang meningkat akibat kenaikan tarif regasifikasi LNG diperkirakan akan menggerus pertumbuhan industri, yang sebelumnya terus berusaha memperluas pangsa pasar. “Special Plan harus mencakup kebijakan subsidi atau regulasi yang bisa menekan biaya energi secara signifikan,” tambahnya.

Perbandingan Harga Gas dengan Negara Tetangga

ASAKI juga mengkritik ketidakseimbangan harga gas yang diberikan ke industri dalam negeri, meskipun Indonesia sendiri merupakan produsen gas bumi. Dalam perbandingan, harga gas di Malaysia hanya 9,5 dolar AS, sedangkan di Thailand 9,9 dolar AS, padahal Thailand masih mengimpor. “Special Plan harus memastikan bahwa harga gas yang diterima industri tidak jauh lebih tinggi dibandingkan harga pasar global,” papar Edy.

Kenaikan harga gas bumi dari 14,9 dolar AS menjadi 21-25 dolar AS per MMBTU dalam bulan Juni dinilai cukup signifikan. Edy menjelaskan bahwa perubahan ini bukan hanya memengaruhi industri keramik, tetapi juga berdampak pada sektor manufaktur lainnya. “Special Plan harus mencakup analisis terhadap dampak ekonomi secara menyeluruh, termasuk terhadap Purchasing Managers’ Index (PMI) yang menggambarkan kinerja ekonomi sektor manufaktur,” tambahnya.

Pengusaha keramik berharap pemerintah dan PGN bisa berkolaborasi dalam merancang Special Plan yang komprehensif. Rencana ini diusulkan agar bisa menciptakan kebijakan yang mendorong stabilitas harga gas, sehingga mencegah lonjakan biaya produksi yang berpotensi mengganggu pertumbuhan ekonomi. “Special Plan ini bukan hanya tentang harga gas, tetapi juga tentang kebijakan energi yang mendukung industri strategis nasional,” tutur Edy.

Dalam wawancara terpisah, Edy mengungkapkan bahwa industri keramik sudah memasuki fase kritis, dengan ketersediaan pasokan gas menjadi faktor penentu. “Jika Special Plan tidak segera diterapkan, kondisi industri bisa memburuk. Kita perlu solusi cepat untuk menjaga produktivitas dan daya saing,” katanya. Kenaikan harga gas bumi dianggap sebagai ancaman serius terutama bagi industri yang mengandalkan energi murah untuk mempertahankan profitabilitas.

Leave a Comment