Special Plan: Rupiah Terus Melemah, Ahli Jelaskan Dampak Kebijakan Prabowo
Special Plan – JAKARTA – Rupiah mengalami penurunan tajam terhadap dolar AS, dengan prediksi kurs akan terus meluncur hingga mencapai Rp18.200 per dolar. Analisis ekonomi menyebutkan bahwa kebijakan pemerintah, khususnya bawah Presiden Prabowo Subianto, menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas mata uang lokal. Program-program besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih dinilai memperparah tekanan terhadap neraca transaksi berjalan, yang saat ini mengalami defisit.
Analisis Kebijakan Prabowo dan Defisit Neraca Transaksi
Kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah dalam Special Plan, menurut Ibrahim Assuaibi, pengamat ekonomi terkemuka, menyebabkan lonjakan permintaan dolar AS. Surplus perdagangan Indonesia yang sebelumnya stabil turun drastis, dengan defisit neraca transaksi berjalan mencapai 4 miliar dolar AS pada kuartal I-2026. “Program MBG dan Kopdes Merah Putih memaksa pemerintah mengalokasikan dana besar, yang akhirnya mengurangi daya tarik investor lokal dan asing,” ujarnya, dikutip pada Selasa (9/6/2026).
“Pelemahan rupiah terus berlanjut karena kebijakan Special Plan tidak cukup efektif dalam menstabilkan pasokan dolar di dalam negeri,” tambah Ibrahim. “Dolar AS semakin menguat akibat permintaan yang tinggi, sementara rupiah harus berlari untuk memenuhi kebutuhan pengadaan BBM yang melonjak.”
Berdasarkan data terkini, rupiah ditutup pada Rp18.187 per dolar AS pada Jumat (8/6/2026), turun 151 poin. Pelemahan ini juga dipengaruhi oleh dinamika pasar global, terutama harga minyak yang naik tajam. Ibrahim menegaskan bahwa dolar AS tetap menjadi mata uang utama dalam transaksi internasional, sehingga kebutuhan akan dolar semakin meningkat, menekan kurs rupiah.
Tensi Geopolitik dan Penguatan Dolar AS
Di samping faktor domestik, tekanan pada rupiah juga berasal dari ketegangan geopolitik Timur Tengah. Serangan Israel ke Lebanon dan Iran memicu ketidakstabilan di pasar minyak, yang menjadi salah satu elemen kunci dalam menentukan kurs mata uang. “Dengan produksi minyak mentah yang terganggu, aliran dolar ke Indonesia semakin cepat,” ujarnya.
“Konflik di wilayah strategis seperti Selat Hormuz mengurangi pasokan minyak, sehingga harga minyak terus naik. Dengan Special Plan yang mengandalkan impor BBM, pemerintah harus menghabiskan dolar lebih banyak lagi untuk menstabilkan kebutuhan energi,” jelas Ibrahim.
Analisis menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak global yang terus berlanjut berdampak langsung pada anggaran pemerintah. Dengan dolar AS tetap menguat, rupiah justru terus terpuruk. Ibrahim menyoroti bahwa kondisi ini memaksa pemerintah mempertimbangkan kebijakan subsidi BBM secara lebih hati-hati, terutama dalam rangka Special Plan yang bertujuan mengurangi inflasi.
Kondisi Pasar dan Proyeksi Kurs Hari Ini
Pada perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan akan menembus Rp18.200 per dolar AS. Angka ini tergantung pada dinamika pasar dan respons pemerintah terhadap tekanan eksternal. “Dengan permintaan dolar yang terus meningkat, rupiah akan terus melemah ke level di bawah Rp18.200 jika tidak ada kebijakan stabilisasi yang cepat,” ujar Ibrahim.
“Kurs rupiah saat ini sedang mengalami tekanan akut, terutama karena Special Plan mengandalkan pengeluaran besar untuk program sosial. Hal ini memperparah defisit neraca transaksi dan menurunkan nilai tukar mata uang,” lanjutnya.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Malang (UM), Puji Handayati, menambahkan bahwa kondisi pasar valuta asing saat ini juga dipengaruhi oleh kebijakan moneter global. “Dolar AS memperkuat posisinya karena Special Plan memastikan pengeluaran pemerintah tetap tinggi, sementara pasokan dolar di pasar domestik tidak cukup untuk menutupi kebutuhan tersebut,” katanya, dikutip dari laman UM.
Kehadiran Masyarakat di Pasar dan Sentimen Investor
Menurut Puji, meskipun rupiah terus melemah, kehadiran masyarakat di pusat perbelanjaan tetap tinggi. “Pendapatan masyarakat tidak terlalu terganggu karena inflasi yang belum terlalu tinggi, sehingga transaksi tetap berjalan normal,” ujarnya. Namun, ia mengingatkan bahwa kinerja ekonomi jangka panjang tergantung pada kebijakan Special Plan yang efektif.
“Investor asing terus memantau kebijakan Prabowo, terutama dalam upaya menstabilkan neraca transaksi berjalan. Jika defisit tidak diperbaiki, rupiah bisa terus melemah ke level Rp18.200 atau lebih rendah,” tegas Puji.
Perspektif Jangka Panjang dan Solusi untuk Special Plan
Analisis ekonomi menyebutkan bahwa pelemahan rupiah akan terus berlanjut hingga kuartal II-2026, jika kebijakan Special Plan tidak disertai langkah-langkah penguatan ekonomi. “Pemerintah perlu meninjau ulang program subsidi dan memastikan efisiensi pengeluaran agar defisit neraca transaksi tidak makin melebar,” kata Puji. Ia menyarankan pemerintah untuk memperkuat daya saing ekspor dan menekan inflasi melalui kebijakan fiskal yang lebih terukur.
Secara umum, Special Plan dinilai memiliki dampak signifikan terhadap kinerja rupiah. Dengan berbagai program sosial dan infrastruktur, pemerintah menghabiskan dolar dalam jumlah besar, yang akhirnya memperparah tekanan terhadap mata uang. “Jika kebijakan ini tidak diiringi pertumbuhan ekonomi yang kuat, rupiah akan terus terpuruk,” ujar Ibrahim. Hal ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
