Internasional

Key Discussion: Iran Akhirnya Setuju IAEA Pantau Nuklir, tapi Ada Syarat yang Harus Dipenuhi

tuju IAEA Pantau Nuklir, Syarat Khusus Key Discussion - Persetujuan Iran terhadap pemantauan program nuklir oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA)

Desk Internasional
Published Juni 23, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments

Key Discussion: Iran Setuju IAEA Pantau Nuklir, Syarat Khusus

Key Discussion – Persetujuan Iran terhadap pemantauan program nuklir oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menjadi topik utama dalam Key Discussion terbaru. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan bahwa Iran setuju untuk memperbolehkan IAEA kembali melakukan inspeksi, tetapi dengan syarat-syarat yang telah ditentukan. Meski begitu, ia menolak klaim dari Amerika Serikat bahwa Teheran telah menyetujui komitmen baru dalam bidang nuklir, menegaskan bahwa kerja sama dengan IAEA masih berjalan sesuai aturan yang sudah berlaku.

Sejarah dan Konteks Perjanjian Nuklir

Key Discussion ini terjadi dalam konteks perjanjian nuklir internasional yang telah terjalin selama beberapa tahun. Iran telah menandatangani Perjanjian Nuklir yang ditandatangani di Jenewa pada 2015, yang membatasi kapasitas negara tersebut untuk memperkaya uranium. Namun, setelah perjanjian tersebut dirubah karena tekanan dari AS dan negara-negara Barat, Iran memperketat aturan kebijakan nuklirnya sendiri. Pemantauan oleh IAEA selama ini menjadi alat utama untuk memastikan kepatuhan Iran terhadap perjanjian, dan Key Discussion kali ini dianggap sebagai langkah penting dalam mengembalikan kepercayaan antara Iran dan pihak internasional.

Dalam Key Discussion, Iran menyatakan bahwa mereka bersedia mengizinkan inspektur nuklir IAEA memantau fasilitas nuklir yang rusak serta mengontrol cadangan uranium diperkaya. Namun, pihak Iran menekankan bahwa pihaknya tetap menuntut transparansi dari AS dalam hal sanksi dan inspeksi yang dilakukan. Baghaei menegaskan bahwa keputusan Iran dalam Key Discussion ini tidak menghilangkan kebutuhan untuk mengawasi kegiatan nuklir AS, yang juga menjadi bagian dari kesepakatan.

“Interaksi Iran dengan IAEA, sesuai dengan kewajiban dalam perjanjian pengamanan, akan terus berjalan berdasarkan kerangka hukum yang berlaku saat ini,” jelas Baghaei, seperti dilaporkan WANA. Ia menambahkan bahwa inspeksi akan dilakukan secara selektif, bukan secara keseluruhan, sehingga Iran tetap memiliki kendali atas informasi yang dibagikan.

Kontroversi dan Tantangan dalam Pemantauan

Persetujuan ini dianggap sebagai kemenangan bagi Iran dalam Key Discussion, tetapi tidak tanpa syarat. Iran menginginkan inspeksi IAEA dilakukan dengan mengacu pada perjanjian sebelumnya, bukan yang baru. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa AS mungkin menggunakan kesempatan ini untuk mengontrol lebih lanjut aktivitas nuklir Iran. Meski begitu, Baghaei menegaskan bahwa Iran tetap menjaga kepentingan nasionalnya dalam kesepakatan ini.

Kebutuhan Iran untuk menyetujui inspeksi IAEA juga terkait dengan kepentingan ekonomi. Setelah diterapkan sanksi internasional, Iran terpaksa memperkuat hubungan dengan negara-negara seperti Rusia dan Tiongkok, yang mendukung kebijakan nuklir Teheran. Dalam Key Discussion, pihak Iran menyatakan bahwa inspeksi akan dilakukan dengan pendekatan yang fleksibel, terutama saat inspektur IAEA mengunjungi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr, yang telah beroperasi sejak 2011.

Key Discussion ini juga menghadirkan persaingan antara kepentingan militer dan politik Iran. Baghaei menyebutkan bahwa pihaknya akan terus mengevaluasi kebutuhan untuk memperkuat kapasitas nuklir negara, terutama jika AS tidak menunjukkan keseriusan dalam mengurangi sanksi. Selain itu, Iran juga menekankan bahwa keputusan untuk menyetujui pemantauan nuklir tidak akan mengubah visi jangka panjang mereka dalam program nuklir, yang terus berupaya memperkuat keamanan nasional.

Leave a Comment