Mbah Marsiyah, Jemaah Haji Tertua Indonesia, Akhirnya Melihat Ka’bah di Usia 105 Tahun
Special Plan – Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menjadi tempat kelahiran seorang wanita yang memori khusus dalam sejarah penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia. Mbah Marsiyah, yang dikenal sebagai jemaah haji tertua sepanjang masa, telah mencapai usia 105 tahun saat akhirnya melangkah ke Masjidil Haram, Makkah, untuk pertama kalinya dalam hidup. Momen ini tidak hanya mengukir kenangan tak terlupakan, tetapi juga membawa haru yang mendalam bagi keluarga dan rekan-rekannya.
Dalam perjalanan menuju Baitullah, Mbah Marsiyah menunjukkan semangat yang tak terkalahkan meski usianya sudah sangat tua. Ia tiba di Makkah pada Jumat (22/5/2026), dan segera memasuki rangkaian ritual hajji. Pertama kali mengikuti tawaf qudum, sebuah tawaf penghormatan yang diwajibkan bagi jemaah setelah tiba di kota suci tersebut, Mbah Marsiyah berjalan perlahan diiringi kursi roda. Anaknya, Maidah, menjadi pendamping utama selama perjalanan ini, yang memperlihatkan perhatian penuh dari keluarga terhadap keinginannya.
“Alhamdulillah, seneng ndeleng Ka’bah. Wong wis diangen-angeni ket suwe,” ucap Mbah Marsiyah kepada tim Media Center Haji (MCH) saat membagikan ceritanya. Kalimat sederhana ini menggambarkan kebahagiaan yang tercurah dari hati seorang wanita yang telah menunggu hampir lima dekade untuk meraih mimpi.
Mbak Marsiyah, yang lahir pada 1 Juli 1921, mengakui bahwa menggagas perjalanan ke Makkah bukanlah hal mudah. Ia mengawali keinginan itu dengan berjualan bubur, sebab usaha sederhana ini menjadi sumber penghasilan yang mengizinkan ia menyisihkan dana untuk mendaftar haji. Meski berusia hampir 100 tahun saat mendaftar, kebijakan percepatan keberangkatan membuatnya bisa menyusul jemaah lainnya sebelum usia terus bertambah.
Tawaf qudum yang dijalani Mbah Marsiyah terjadi sekitar pukul 01.30 waktu Arab Saudi. Perjalanan ini dimulai dari lantai 2 Masjidil Haram, tempat ia berusaha meraih keberkahan langit. Anaknya, Maidah, mengemudi kursi roda sambil memastikan langkah-langkahnya selalu stabil. Perjalanan ini tak hanya menguji kekuatan fisik, tetapi juga semangat spiritual yang terus mengalir dalam dirinya.
Membangun Harapan di Usia yang Tua
Banyak orang merasa heran ketika Mbah Marsiyah memutuskan berhaji di usia yang telah melebihi satu abad. Namun, bagi perempuan berparuh yang tercatat sebagai jemaah tertua, hal ini adalah penyelesaian mimpi yang telah menggelora sejak kecil. Ia mengungkapkan bahwa menggambarkan Ka’bah dari lewat sajadah selama bertahun-tahun tak cukup mengenyam kebahagiaan seperti saat melihatnya secara langsung.
Dari sisi teknis, keberangkatan Mbah Marsiyah memerlukan persiapan khusus. Dengan usia yang semakin mendekati batas, tim Medis dan pendampingan intensif dari keluarga jadi kunci keberhasilannya. Bahkan, pengaturan jadwal tawaf qudum dilakukan secara presisi agar ia bisa menikmati kegiatan ibadah tanpa lelah berlebihan. Kegiatan ini pun dijadwalkan sebelum azan pertama di Masjidil Haram pukul 03.00 WIB, yang menjadi tanda dimulainya ritual utama.
Dalam kehidupan sehari-hari, Mbah Marsiyah selalu dikenang sebagai sosok yang gigih dan penuh semangat. Sebagai seorang ibu lima anak, ia menyelesaikan tanggung jawab rumah tangga dengan baik sebelum memutuskan untuk mengejar tujuan spiritual yang lebih besar. Dikatakan bahwa kemampuan keuangan dan perjuangan fisiknya memungkinkan ia mencapai titik tertinggi dalam perjalanan haji ini, meski berbagai rintangan tak terhindarkan.
Keberhasilan Mbah Marsiyah juga menjadi inspirasi bagi banyak jemaah haji lainnya. Di usia yang terbilang sangat tua, ia menunjukkan bahwa usia bukanlah penghalang untuk meraih keberkahan Allah. Momen ini ditandai oleh perasaan tak terkira, seperti kegembiraan yang mengisi hatinya saat melangkah ke Ka’bah pertama kalinya. Pemandangan yang selama ini hanya bisa dihayal menjadi nyata, menciptakan kenangan yang akan diabadikan sepanjang hidup.
Setelah tawaf qudum, Mbah Marsiyah bersiap menghadapi rangkaian ibadah haji lainnya. Puncak perjalanan ini akan berlangsung pada Selasa, 26 Mei 2026, saat ia melaksanakan ibadah lainnya seperti melepas tawaf wuquf atau melaksanakan salat di Arafat. Pemenuhan setiap rukun haji menjadi tanda keberhasilan dalam perjalanan spiritualnya, yang diakhiri dengan doa yang terucapkan di Rukun Yamani, salah satu titik mustajab dalam tawaf.
Momen melihat Ka’bah juga memicu keharuan yang menyentuh. Dalam perjalanan ke Makkah, Mbah Marsiyah menyadari betapa luar biasa tujuan hajji ini. Ia mengatakan bahwa selama bertahun-tahun, rasa ingin melihat Ka’bah tak pernah lenyap, meski harus menunggu hingga usianya menginjak 105 tahun. Proses yang dipenuhi keinginan, persiapan, dan keharmonisan dengan keluarga, akhirnya membuahkan hasil yang menggembirakan.
Dalam dunia hajji, Mbah Marsiyah tak hanya menjadi simbol ketekunan, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah. Ia menjadi contoh bahwa keinginan spiritual bisa tercapai meski di tengah tantangan fisik dan usia yang tidak biasa. Penyelenggaraan hajji tahun ini memberinya kesempatan untuk menyelesaikan harapan yang selama ini membara di dalam hati, sebagaimana yang ia sampaikan dalam wawancara.
Penampilan Mbah Marsiyah di Makkah juga mengundang perhatian dari para jemaah haji lainnya. Banyak dari mereka memberikan apresiasi terhadap usaha dan ketekunan yang dilakukannya. Ia menjadi bukti bahwa usia bukanlah penghalang untuk mencapai kesempurnaan dalam ibadah, sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap program hajji yang memperhatikan kebutuhan jemaah berusia lanjut.
K
