Reformasi Hulu-Hilir Kunci Swasembada Gula
Beritahitam.com – Anggota DPR Ingatkan Pemerintah Reformasi Hulu-Hilir sebagai strategi utama untuk mencapai swasembada gula nasional. Sonny T. Danaparamita, Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, menyampaikan pesan penting bahwa transformasi menyeluruh pada seluruh rantai nilai industri gula merupakan syarat mutlak. Politikus asal Jawa Timur III ini menegaskan bahwa pendekatan parsial tidak lagi memadai untuk menciptakan ekosistem industri gula yang tangguh. Langkah-langkah terintegrasi mulai dari hulu hingga hilir akan melindungi kesejahteraan petani tebu sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Komitmen Pemerintah dan Penguatan Tata Kelola Industri
Legislator yang mewakili wilayah Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso tersebut memberikan apresiasi tinggi terhadap tekad pemerintah dalam mewujudkan kemandirian gula. Namun, ia berpendapat bahwa setiap regulasi harus disertai dengan penguatan sistem tata kelola industri yang lebih solid. Penguatan hubungan kemitraan dengan petani, revitalisasi fasilitas produksi, serta pengawasan ketat terhadap volume impor menjadi pilar-pilar penting yang tidak boleh diabaikan. Salah satu isu krusial yang menjadi perhatian Sonny adalah kebijakan mewajibkan perusahaan gula rafinasi memiliki kebun tebu sendiri. Ia menyatakan bahwa aturan ini perlu dipantau dengan cermat agar tidak menciptakan masalah baru di tengah keterbatasan lahan yang tersedia.
Kita sepakat dan mendukung penuh semangat kemandirian gula nasional. Namun, mewajibkan industri rafinasi membuka lahan baru secara masif bukanlah satu-satunya jalan. Pemerintah justru harus mengawal ketat aturan kemitraan yang sudah ada agar industri benar-benar turun ke bawah membina petani.
Perlindungan Petani dan Penegakan Regulasi Ketat
Selain perbaikan di sektor hulu, Sonny juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap petani melalui penegakan aturan serapan tebu lokal secara konsisten. Ia mendukung inisiatif pemerintah untuk melakukan pemeriksaan terhadap perusahaan atau pabrik gula yang menolak menyerap hasil panen petani dengan berbagai alasan teknis. Untuk urusan ini kita tidak boleh berkompromi. Kesejahteraan dan kepentingan petani adalah prioritas mutlak yang tidak boleh diabaikan oleh korporasi mana pun. Negara harus hadir dan menindak tegas pabrik-pabrik yang mencari alasan untuk menghindari kewajibannya menyerap tebu rakyat.
Menurutnya, regulasi yang berlaku telah menetapkan komposisi bahan baku pabrik gula, yaitu 20 persen berasal dari kebun sendiri dan 80 persen dari kebun kemitraan masyarakat. Ketentuan ini harus ditegakkan agar tidak ada industri yang hanya mengejar kuota impor raw sugar tanpa membangun kemitraan dengan petani. Di wilayah lumbung tebu seperti Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso, para petani kita sangat siap menjadi penyokong utama. Syaratnya, industri harus patuh pada aturan dengan menjadi ‘bapak angkat’ yang mentransfer teknologi, memfasilitasi pupuk, dan menjaga stabilitas harga panen.
Revitalisasi Pabrik Gula sebagai Prioritas Nasional
Di sisi lain, Sonny juga mendorong percepatan revitalisasi pabrik gula yang dinilai menjadi bagian penting dalam meningkatkan produktivitas nasional. Menurutnya, banyak pabrik gula di Situbondo dan Bondowoso yang sudah berusia tua sehingga membutuhkan pembenahan untuk meningkatkan rendemen. Di Situbondo dan Bondowoso, mayoritas Pabrik Gula (PG) kita berstatus pabrik tua yang tingkat rendemennya butuh pembenahan total. Revitalisasi pabrik-pabrik ini harus masuk prioritas utama pemerintah. Sementara untuk fasilitas modern seperti PG Glenmore di Banyuwangi, tugas kita bersama adalah memastikan rantai pasok tebu dari petani lokal tetap aman dan terintegrasi.
Komentar Sonny T. Danaparamita disampaikan kepada wartawan pada Rabu, 5 Agustus 2026, di Jakarta. Untuk informasi lebih lanjut mengenai kebijakan gula nasional, pembaca dapat mengakses artikel terkait di [Tribunnews: Kebijakan Impor Gula 2026](https://www.tribunnews.com/nasional) dan [Tribunnews: Revitalisasi Pabrik Gula](https://www.tribunnews.com/ekonomi).
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Reformasi Gula
Apa itu reformasi hulu-hilir dalam industri gula? Reformasi hulu-hilir adalah transformasi menyeluruh yang mencakup seluruh rantai nilai industri gula, mulai dari produksi tebu di tingkat petani hingga pengolahan dan distribusi produk akhir.
Mengapa swasembada gula penting bagi Indonesia? Swasembada gula mengurangi ketergantungan pada impor, melindungi petani lokal, dan memperkuat ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang.
Berapa persen tebu yang harus diserap pabrik dari kebun kemitraan? Regulasi menetapkan bahwa 80 persen bahan baku pabrik gula harus berasal dari kebun kemitraan masyarakat, sementara 20 persen dari kebun sendiri.
Di mana saja lokasi pabrik gula tua yang perlu direvitalisasi? Mayoritas pabrik gula tua berada di Situbondo dan Bondowoso, Jawa Timur, yang membutuhkan pembenahan untuk meningkatkan rendemen produksi.
