Nasional

Key Discussion: Dukung GIHES 2026, Gubernur Lemhannas Nilai Pesantren Berperan dalam Ketahanan Negara

Key Discussion -

Desk Nasional
Published Juli 18, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Dukung GIHES 2026, Gubernur Lemhannas Nilai Pesantren Penting dalam Ketahanan Negara

Audiensi dan Konsensus tentang Penguatan Pendidikan Kebangsaan

Key Discussion – Rabu (16/7/2026), Gubernur Lemhannas RI, Ace Hasan Syadzily, menggelar pertemuan strategis dengan tokoh-tokoh kiai dari berbagai pesantren di Jakarta. Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat kesepahaman tentang peran lembaga pendidikan keagamaan dalam membangun ketahanan nasional, terutama dalam konteks Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) yang akan diadakan pada 5-6 September 2026 di Hotel Borobudur. Ace Hasan menekankan bahwa GIHES menjadi wadah utama untuk menyelaraskan visi pembangunan kebangsaan dengan model pendidikan pesantren yang berkelanjutan.

Komitmen Pesantren dalam Konsolidasi Kebersamaan

Dalam Key Discussion, Ace Hasan Syadzily mengungkapkan bahwa pondok pesantren memiliki peran sentral dalam membentuk karakter kebangsaan dan pertahanan bangsa. Ia menjelaskan bahwa selama ini, pesantren dianggap sebagai tempat penyebaran nilai-nilai Islam, tetapi kini peran mereka semakin luas, mencakup pengembangan wawasan kebangsaan, penguatan identitas nasional, dan pemberdayaan masyarakat. “Pendidikan holistik di pesantren tidak hanya membentuk generasi yang berakhlak, tetapi juga mampu menciptakan pemimpin yang mampu memimpin dalam kerangka kebersamaan,” kata Ace Hasan, yang akan menjadi pembicara utama GIHES 2026.

Kehadiran Ace Hasan Syadzily dalam GIHES 2026 diharapkan menjadi momen penting untuk menyoroti bagaimana pesantren bisa menjadi pilar dalam menghadapi tantangan global dan lokal. Ia menyoroti bahwa pesantren telah membuktikan kemampuannya dalam mengintegrasikan ilmu agama dengan pendidikan nasional, termasuk di bidang sains, teknologi, dan seni. “Kita perlu merancang model pendidikan yang lebih modern, tetapi tetap mengakar pada nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan,” ujarnya, menyoroti kebutuhan adaptasi pesantren ke era digital.

Pesantren Sebagai Motor Perubahan Sosial dan Politik

Key Discussion mengemukakan bahwa pesantren tidak hanya membentuk calon ulama, tetapi juga berperan aktif dalam membentuk kebijakan dan pergerakan sosial. Ace Hasan Syadzily menegaskan bahwa pesantren memiliki kemampuan unik dalam menyampaikan pesan kebangsaan melalui pendidikan berbasis nilai-nilai tradisional yang kuat. “Model pendidikan seperti Pondok Modern Gontor, yang menggabungkan pengajaran agama dengan pendidikan umum, menjadi contoh bagaimana pesantren bisa menjadi motor perubahan,” imbuhnya.

Kompetensi pesantren dalam membangun ketahanan nasional juga ditekankan oleh KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Gontor. Ia menyoroti bahwa pesantren selama ini telah membentuk generasi muda yang memiliki wawasan kebangsaan yang mendalam. “Sejak masa kemerdekaan, pesantren sudah menjadi bagian dari kekuatan ideologis Indonesia. GIHES 2026 adalah kesempatan untuk memperkuat peran ini,” katanya, menjelaskan bahwa GIHES akan menjadi platform utama bagi kerja sama antara pesantren dan lembaga negara.

Kontribusi Pesantren dalam Pendidikan Nasional

“GIHES 2026 tidak hanya sekadar acara pendidikan, tetapi juga menjadi Key Discussion kecil untuk menyelaraskan visi nasional dengan pendidikan holistik. Pesantren adalah jembatan antara tradisi dan modernitas, dan kita perlu memastikan mereka tetap relevan di tengah perubahan sosial yang cepat,”

ujar Ace Hasan Syadzily. Ia menambahkan bahwa pesantren juga mampu menjadi penyelesaian masalah seperti keterasingan generasi muda dari nilai-nilai kebangsaan, terutama di tengah globalisasi yang mengubah cara berpikir masyarakat.

Key Discussion dalam pertemuan ini juga menghasilkan rekomendasi untuk meningkatkan kolaborasi antara pesantren dan institusi negara. Ace Hasan Syadzily menyarankan bahwa Lemhannas bisa memberikan pelatihan kecil kepada para kiai untuk memperdalam pemahaman tentang ketahanan nasional, termasuk isu-isu seperti keamanan, ekonomi, dan lingkungan. “Kerja sama ini tidak hanya memperkuat kekuatan keagamaan, tetapi juga mendorong pesantren menjadi bagian dari kebijakan nasional,” jelasnya. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi menyetujui rekomendasi ini, menambahkan bahwa pesantren perlu lebih aktif dalam menyiapkan generasi muda yang siap menghadapi tantangan masa depan.

Potensi Pesantren di Tengah Tantangan Global

Ace Hasan Syadzily menyoroti bahwa GIHES 2026 akan menjadi panggung untuk mengeksplorasi bagaimana pesantren bisa menjadi solusi dalam menghadapi tantangan global. “Dalam era di mana sumber daya manusia menjadi faktor utama, pesantren harus diakui sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional,” kata ia, menegaskan bahwa GIHES akan menjadi wadah untuk mendorong inovasi pendidikan keagamaan yang lebih luas. Key Discussion ini juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan holistik yang diusung pesantren.

Dalam Key Discussion, Ace Hasan Syadzily menyebutkan bahwa peran pesantren akan semakin vital dalam menghadapi isu seperti radikalisme, keterasingan budaya, dan krisis identitas. “Kami berharap GIHES 2026 bisa menjadi bukti nyata bahwa pesantren bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga bagian dari kekuatan pertahanan bangsa,” imbuhnya. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi menambahkan bahwa pesantren perlu diintegrasikan ke dalam kebijakan pendidikan nasional, sehingga mampu menghasilkan pemimpin yang memiliki pemahaman luas tentang kebangsaan, agama, dan teknologi.

Leave a Comment