Nasional

Main Agenda: Siasat AKP Deky: Minta Bandar Ishak Umpan Sabu 1 Kg demi Rilis Tahunan

Main Agenda: AKP Deky Manfaatkan Bandar Ishak Sebagai Umpan Sabu 1 Kg untuk Rilis Tahunan Kasus Korupsi dalam Operasi Bareskrim Polri Main Agenda menjadi

Desk Nasional
Published Mei 18, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Main Agenda: AKP Deky Manfaatkan Bandar Ishak Sebagai Umpan Sabu 1 Kg untuk Rilis Tahunan

Kasus Korupsi dalam Operasi Bareskrim Polri

Main Agenda menjadi sorotan publik setelah Dittipidnarkoba Bareskrim Polri mengungkap skema korupsi yang melibatkan mantan Kasat Reserse Narkoba Polres Kutai Barat, AKP Deky Jonathan Sasiang. Menurut penyelidikan, AKP Deky diduga melakukan kolusi dengan jaringan narkoba untuk memperoleh keuntungan pribadi serta menaikkan posisi jabatannya. Upaya ini dianggap sebagai strategi untuk memperkaya konten Rilis Tahunan yang diterbitkan institusi tersebut.

Kasus ini semakin memperjelas tindakan tindan melalui keterlibatan Mery Christine, calon istri bandar narkoba Ishak. Marselus Vernandus, sebagai pihak yang menjadi penghubung utama, diketahui berperan sebagai jembatan antara AKP Deky dan Mery Christine. “Marselus Vernandus menjadi katalis dalam memperkenalkan Mery Christine kepada bandar besar Ishak, sehingga memudahkan AKP Deky untuk menangkap pelaku dan memperoleh barang bukti,” terang Brigjen Eko Hadi Santoso dalam siaran persnya, Minggu (17/5/2026).

“Dengan memanfaatkan Mery Christine sebagai umpan, AKP Deky berhasil mendapatkan bukti penyalahgunaan wewenang yang sangat kuat,” kata Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso. Ia menjelaskan, langkah ini bukan hanya untuk meningkatkan jumlah kasus yang ditangani, tetapi juga sebagai bagian dari strategi Main Agenda dalam menyelesaikan misi penyelidikan tahunan.

Strategi Operasi dan Keterlibatan Pihak Lain

Dalam proses penyelidikan, penyidik menemukan bukti digital berupa pesan suara yang ditujukan oleh AKP Deky kepada Marselus Vernandus. Pesan tersebut menunjukkan rencana jebakan untuk menangkap pihak tertentu, khususnya Fathur, agar dapat menjual sabu seberat 1 kg kepada Ishak. “Main Agenda mengharapkan hasil ini sebagai bukti kuat untuk menegakkan hukum serta mengisi laporan tahunan,” kata Brigjen Eko. Langkah ini menimbulkan kecurigaan bahwa AKP Deky tidak hanya ingin menangkap bandar narkoba, tetapi juga menjaga reputasi institusinya.

“AKP Deky menggunakan umpan yang disiapkan oleh Marselus Vernandus sebagai alat untuk memperoleh tangkapan yang dapat disita sebagai barang bukti,” lanjut Brigjen Eko. Ia menambahkan, skema ini terungkap setelah penyidik mendalami keterlibatan Mery Christine, yang menjadi salah satu pihak yang secara tidak langsung mendukung upaya Main Agenda tersebut.

Kasus ini juga menunjukkan bagaimana Main Agenda memanfaatkan hubungan pribadi dan jaringan dalam penyelidikan. AKP Deky diduga memberikan janji perlindungan terhadap jaringan Ishak sebagai imbalan atas bantuan dalam memperoleh sabu. “Jika rencana tersebut berhasil, jaringan Ishak akan tetap beroperasi tanpa gangguan, sementara AKP Deky bisa memperoleh penghargaan melalui Main Agenda,” jelas sumber terpercaya. Keterlibatan Mery Christine dan Marselus Vernandus memberikan gambaran bahwa skema ini melibatkan lebih dari satu pihak.

Dampak dan Implikasi pada Institusi Kepolisian

Main Agenda dalam kasus ini menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dan integritas Bareskrim Polri. Keterlibatan AKP Deky yang berada di posisi strategis menunjukkan adanya kemungkinan manipulasi dalam proses penyelidikan. “Dengan menggunakan sabu sebagai bahan pemicu, Main Agenda mencoba menunjukkan keberhasilan penindasan narkoba,” tutur sumber internal. Namun, hal ini juga bisa jadi cara untuk menutupi tindakan korupsi yang terjadi di balik layar.

“Main Agenda tidak hanya tentang penyelidikan narkoba, tetapi juga sebagai alat untuk memperoleh keuntungan dari operasi yang dilakukan,” tambah penyidik. Kasus ini diharapkan menjadi pembelajaran bagi polisi lain agar tidak terjebak dalam skema serupa. Dengan mengetahui bahwa AKP Deky menggunakan jaringan umpan, penyidik Bareskrim bisa mengambil langkah lebih tegas dalam menangani kasus korupsi di masa depan.

Sebagai bagian dari strategi Main Agenda, operasi ini juga mencakup penggunaan alat komunikasi modern untuk mempercepat proses penangkapan. Pesan suara yang ditemukan menjadi bukti bahwa AKP Deky terlibat dalam manipulasi wewenang, baik secara langsung maupun melalui orang kepercayaannya. Dengan menargetkan penjualan sabu sebesar 1 kg, Main Agenda ingin menunjukkan kinerja tinggi dalam operasi penindasan narkoba.

Kasus yang terungkap ini menyoroti pentingnya transparansi dalam penyelidikan. Jika Main Agenda terus mengungkap skema serupa, masyarakat bisa lebih yakin bahwa Bareskrim Polri benar-benar menjalankan tugasnya secara profesional. Namun, adanya kolusi antara anggota polisi dan bandar narkoba membuka peluang untuk kecurangan yang lebih luas. “Main Agenda harus menjadi bahan evaluasi bagi kepolisian untuk mencegah terulangnya kasus serupa,” pungkas pakar hukum.

Leave a Comment