Erupsi Dukono: 2 Pendaki Singapura Tewas
Official Announcement mengenai kecelakaan yang menewaskan dua pendaki asal Singapura akibat letusan Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, telah diterbitkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dua korban meninggal dalam kejadian tersebut, sementara satu pendaki Indonesia juga ditemukan tewas setelah peristiwa erupsi yang terjadi pada 8 Mei 2026. Mayat kedua pendaki Singapura, Timothy Heng (30) dan Shahin Muhrez Abdul Hamid (27), ditemukan sekitar 50 meter dari titik tertinggi gunung, setelah hujan lebat menyulitkan proses evakuasi.
Detik-detik Tragedi di Lereng Gunung Dukono
Official Announcement menyebutkan bahwa kejadian mematikan terjadi saat dua pendaki Singapura tertimpa batu besar yang jatuh dari lereng Gunung Dukono. Material vulkanik seperti abu, batu panas, dan puing-puing menghujani para pendaki, terutama di area yang terpapar titik tertinggi. Risman Umar, warga setempat yang turut dalam evakuasi, menjelaskan bahwa dua korban terkubur di bawah reruntuhan, dengan sebagian tubuh mereka tertimbun abu vulkanik.
“Kedua korban ditemukan sekitar pukul 12.40 siang, ketika kondisi visibilitas sangat terbatas. Proses evakuasi memakan waktu cukup lama karena lereng gunung yang curam dan material vulkanik yang tidak stabil,” ujar Risman, yang menjadi saksi kejadian selama operasi penyelamatan.
Selama dua hari setelah letusan, tim gabungan dari BNPB dan instansi terkait melakukan pencarian intensif di kawasan Gunung Dukono. Dua pendaki asing tersebut menjadi bagian dari rombongan 20 orang yang terdiri dari sembilan pendaki Singapura dan 11 pendaki lokal. Meskipun zona 4 km sekitar kawah telah ditutup sejak 17 April, mereka tetap melanjutkan pendakian pada 7 Mei, dengan harapan menikmati pemandangan alam yang indah.
Detil Korban dan Penyelamatan
Official Announcement menyebutkan bahwa seluruh anggota tim evakuasi, yang terdiri dari lebih dari 150 personel, bekerja keras untuk menemukan dan mengangkat jenazah. Dua pendaki Singapura ditemukan bersebelahan, dengan bagian tubuh mereka tertimbun material erupsi. Jumlah korban meninggal mencapai tiga orang, termasuk satu pendaki lokal yang ditemukan pada 9 Mei.
Keluarga Timothy Heng dan Shahin Muhrez Abdul Hamid telah diberi informasi tentang kondisi jenazah. Mereka adalah pendaki yang memiliki pengalaman sebelumnya, namun letusan Gunung Dukono yang tidak terduga memicu kecelakaan yang menyedihkan. Proses identifikasi dan pengangkatan jenazah berlangsung secara terstruktur, dengan bantuan tim medis dan penyelamat yang profesional.
“Penyelamatan dilakukan dengan sangat hati-hati, mengingat kondisi lereng yang berbahaya. Jenazah ditemukan dalam kondisi yang relatif utuh, meskipun tertimbun abu vulkanik,” kata Iwan Ramdani, Kepala Basarnas Ternate, dalam Official Announcement yang dilayangkan kepada media lokal dan internasional.
Respons dari Pemerintah Singapura
Kementerian Luar Negeri Singapura (MFA) secara official announcement memberikan apresiasi terhadap upaya penyelamatan Indonesia. Mereka menyatakan dukungan penuh terhadap identifikasi jenazah dan proses pengambilan tubuh korban. Selain itu, pihak MFA sedang mengkoordinasikan dengan keluarga kedua pendaki untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut tentang kondisi mereka.
Evakuasi dan penyelamatan juga memperlihatkan kerja sama yang baik antara pemerintah Indonesia dan Singapura. Informasi mengenai kecelakaan disampaikan secara langsung oleh Iwan Ramdani kepada media The Straits Times, sebagai bagian dari upaya komunikasi yang terstruktur. Proses pengangkatan jenazah dilakukan dengan alat khusus, meminimalkan risiko terhadap tim penyelamat.
Analisis dan Pemantauan Aktivitas Gunung Dukono
Gunung Dukono, yang dikenal sebagai gunung berapi aktif, terakhir kali meletus pada 17 April 2026, sebelum pendaki mengambil risiko masuk ke zona yang dilarang. Meskipun pihak setempat memberi peringatan, kecelakaan terjadi ketika letusan kembali menguat. Official Announcement menyebutkan bahwa aktivitas vulkanik pada 8 Mei menyebabkan hujan abu dan batu besar yang menghancurkan perahu dan tenda pendaki.
Dalam Official Announcement, BNPB juga memperingatkan masyarakat sekitar untuk tetap waspada terhadap aktivitas vulkanik. Mereka menyatakan bahwa Gunung Dukono masih aktif dan akan terus dipantau untuk memastikan keamanan pendaki serta warga sekitar. Data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologis (PVMBG) menunjukkan bahwa letusan Gunung Dukono mengeluarkan material vulkanik hingga ketinggian 1.500 meter, dengan arah angin yang berubah menambah risiko bagi pendaki.
Proses Evakuasi dan Dukungan Internasional
Pada hari keempat setelah letusan, tim evakuasi berhasil mengangkat jenazah dua pendaki Singapura ke kawasan aman. Proses ini membutuhkan koordinasi yang intensif, mengingat cuaca buruk dan medan yang sulit. Official Announcement menyebutkan bahwa penyelamatan dilakukan dalam kondisi yang kritis, tetapi berjalan lancar berkat persiapan yang matang.
Dukungan internasional juga terus datang, dengan organisasi dan media asing memberikan laporan tentang situasi di Gunung Dukono. Pemerintah Indonesia berharap official announcement ini membantu memperkuat hubungan bilateral dengan Singapura, khususnya dalam bidang penanggulangan bencana. Informasi tentang korban meninggal dan proses evakuasi akan terus diperbarui untuk memberikan kejelasan kepada publik.