Nasional

Special Plan: Prabowo Sebut Orang Desa Tak Pakai Dolar, Pakar: Tapi Rakyat Makan Tempe hingga Butuh Impor Kedelai

Kondisi Rupiah dan Tanggapan Prabowo Subianto Special Plan menjadi topik utama dalam diskusi ekonomi terkini, terutama terkait nilai tukar rupiah yang terus

Desk Nasional
Published Mei 17, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Kondisi Rupiah dan Tanggapan Prabowo Subianto

Special Plan menjadi topik utama dalam diskusi ekonomi terkini, terutama terkait nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada Jumat (15/5/2026), rupiah mencatatkan kurs sebesar Rp 17.601 per dolar AS, menunjukkan tekanan yang semakin kuat terhadap mata uang lokal. Meski situasi ini memicu kekhawatiran di kalangan ekonom dan masyarakat, Special Plan yang diusung oleh Prabowo Subianto dianggap sebagai strategi untuk memperkuat fondasi perekonomian nasional. Dalam peresmian Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Prabowo menyatakan bahwa Special Plan membantu menjaga ketersediaan pangan serta energi meskipun nilai rupiah terus turun.

Komentar Pakar tentang Kenaikan Harga Pangan

Dalam wawancara yang dijadwalkan sebagai bagian dari Special Plan, para pakar ekonom memperingatkan bahwa pelemahan rupiah bisa berdampak signifikan pada harga bahan pokok. Rahma Gafmi, Guru Besar Universitas Airlangga, menyoroti bahwa tingkat inflasi dan kenaikan biaya produksi akibat Special Plan telah memaksa produsen tempe dan mi instan untuk menyesuaikan harga jualnya. Ia menegaskan bahwa kenaikan harga kedelai impor mencapai Rp11.000 per kilogram, yang secara langsung memengaruhi biaya produksi dan kebutuhan rakyat biasa.

Prabowo Subianto dalam Special Plan berargumen bahwa rakyat di daerah tidak bergantung sepenuhnya pada dolar, sehingga stabilitas ekonomi di tingkat masyarakat pedesaan tetap terjaga. “Meski rupiah sedang lemah, pangan dan energi nasional tetap aman karena Special Plan telah mencakup langkah-langkah untuk memastikan pasokan yang cukup,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas ekspor yang kuat, bahkan di tengah tekanan global seperti krisis geopolitik di Timur Tengah dan penghambatan perdagangan di Selat Hormuz.

“Rupiah seperti ini, rupiah seperti ini, apa, dolar seperti ini, dolar seperti ini. Orang, rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya banyak negara panik, Indonesia masih oke. Kita banyak, banyak yang diberikan Yang Maha Kuasa,”

Dalam Special Plan, Prabowo juga menekankan keberhasilan Indonesia dalam mengurangi ketergantungan pada impor bahan pokok. “Meski ada kebutuhan untuk mengimpor kedelai, Special Plan memastikan bahwa pasokan lokal tetap bisa memenuhi kebutuhan utama,” ujarnya. Ia mengkritik para ahli yang terlalu pesimis terhadap kondisi ekonomi, sementara menurutnya fakta di lapangan menunjukkan kekuatan sektor riil Indonesia.

Strategi Kebijakan dalam Special Plan

Special Plan yang diusung oleh Prabowo Subianto dirancang untuk mengatasi masalah ekonomi dengan pendekatan holistik. Beberapa langkah utama dalam rencana ini mencakup peningkatan produksi pangan nasional, pengembangan infrastruktur ekspor, serta pembatasan impor yang tidak strategis. Dengan Special Plan, pemerintah diharapkan mampu mengurangi defisit neraca perdagangan dan memperkuat cadangan devisa. Prabowo menegaskan bahwa Indonesia memiliki kelebihan dalam produksi beras dan kedelai, sehingga Special Plan bertujuan untuk menekan ketergantungan pada komoditas impor.

Banyak negara di Asia Tenggara seperti Australia, Filipina, India, Bangladesh, hingga Brasil kini berlomba membeli produk-produk Indonesia, termasuk pupuk urea dan beras, dalam rangka mendukung Special Plan yang menekankan kekuatan ekspor. Hal ini membuktikan bahwa kebijakan ekonomi Indonesia masih relevan dan bisa memberi dampak positif meski rupiah terus mengalami tekanan. Prabowo menambahkan bahwa Special Plan juga melibatkan kolaborasi dengan sektor swasta dan daerah untuk memastikan ketersediaan pasokan yang cukup.

Di sisi lain, para pakar ekonom menilai bahwa Special Plan perlu lebih banyak data dan analisis untuk memperkuat argumennya. Mereka menekankan bahwa pelemahan rupiah bisa memicu kenaikan harga bahan pokok, sehingga kebijakan pemerintah harus lebih proaktif dalam mengendalikan inflasi. “Kebijakan Special Plan baik, tetapi perlu dipertegas dengan langkah-langkah konkrit,” kata Rahma Gafmi. Ia menyoroti bahwa rakyat makan tempe hingga butuh impor kedelai karena ketidakstabilan ekonomi, yang menjadi perhatian utama dalam Special Plan.

Leave a Comment