Seleb

Rincian Nafkah Anak dari Ruben Onsu yang Diminta Sarwendah: Gaji ART – Laundry, Uang Sarang Burung

en Onsu: Detail Gaji ART, Laundry, dan Uang Sarang Burung Rincian Nafkah Anak dari Ruben Onsu - Dalam kasus perceraian antara Ruben Onsu dan Sarwendah, isu

Desk Seleb
Published Juni 10, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Nafkah Anak Ruben Onsu: Detail Gaji ART, Laundry, dan Uang Sarang Burung

Rincian Nafkah Anak dari Ruben Onsu – Dalam kasus perceraian antara Ruben Onsu dan Sarwendah, isu nafkah anak Ruben Onsu menjadi sorotan utama. Setelah berpisah pada 24 September 2024, Ruben mengakui telah rutin membayar biaya nafkah anak dalam jumlah besar, namun Sarwendah terus menunda aksesnya untuk bertemu langsung dengan putrinya. Dalam pernyataan terbarunya, Ruben menyebutkan bahwa meski ia memenuhi kewajiban finansial, kesulitan dalam interaksi dengan anak tetap terjadi.

Detail Biaya Nafkah yang Dibebankan

Melalui kuasa hukumnya, Minola Sebayang membongkar beberapa item dalam nafkah anak Ruben Onsu yang dianggap tidak relevan. Menurut Minola, biaya seperti gaji asisten rumah tangga (ART), biaya laundry, uang sarang burung, serta kebutuhan buah dan kebersihan rumah dianggap sebagai bagian dari pengeluaran rumah tangga, bukan kewajiban nafkah anak. “Kami menilai bahwa uang ini seharusnya menjadi tanggung jawab Ruben, karena anak-anaknya yang butuh,” terangnya dalam wawancara dengan YouTube Intens Investigasi, Rabu (10/6/2026).

Dalam klarifikasi tersebut, Minola menekankan bahwa Ruben telah membayar biaya-biaya tersebut tanpa meminta pengembalian, meski ia memang diberi tahu bahwa beberapa item dianggap tidak sesuai. Contoh yang diberikan termasuk biaya kebutuhan hewan peliharaan, gaji pengasuh, dan pembayaran listrik, yang dianggap sebagai biaya kebutuhan rumah tangga. Menurut Minola, ini berpotensi membuat Ruben merasa tertekan dan tidak adil dalam pembagian tanggung jawab.

Kesulitan Komunikasi dan Perbedaan Pandangan

Ruben Onsu menyatakan kelelahan karena terus-menerus menghadapi masalah dalam menemui anaknya. Ia mengungkapkan bahwa sebelum bercerai, kebutuhan keluarga bisa terpenuhi tanpa hambatan, tetapi sekarang ia merasa dihargai secara keuangan tetapi tidak diberi akses langsung kepada anak. “Ini seperti meminta Ruben menanggung biaya rumah tangga, tetapi anaknya mana?” keluhnya, menunjukkan ketidakpuasan terhadap pembayaran yang dianggap tidak relevan.

Sementara itu, Sarwendah dituding menunda keinginan Ruben untuk bertemu anak. Dalam konflik ini, Minola menekankan bahwa beberapa item yang dianggap sebagai nafkah anak justru terlihat seperti biaya operasional rumah tangga. Misalnya, gaji ART dan biaya laundry dianggap sebagai bagian dari kebutuhan sehari-hari, bukan kewajiban eksklusif terhadap anak. Perbedaan ini menjadi penyebab utama ketegangan dalam hubungan mereka.

Analisis Dari Sudut Pandang Hukum

Menurut ahli hukum keluarga, pembagian nafkah anak biasanya melibatkan penghitungan kebutuhan pokok seperti makanan, pendidikan, dan kesehatan. Dalam kasus Ruben Onsu, Minola Sebayang menyebutkan bahwa beberapa item yang dibebankan berupa biaya listrik, kebersihan, dan kebutuhan buah seharusnya menjadi bagian dari pengeluaran rumah tangga, bukan nafkah anak. “Mungkin ada kesalahan interpretasi dalam pembagian tanggung jawab,” ujar salah satu pakar hukum di Jakarta.

Dalam perspektif hukum, nafkah anak diatur berdasarkan kesepakatan atau putusan pengadilan. Dalam kasus ini, pembayaran yang dibebankan Ruben Onsu termasuk dalam kategori kebutuhan sehari-hari, yang bisa membuat ia merasa tidak adil. Pakar hukum juga menyarankan agar kedua pihak dapat menyusun daftar pengeluaran secara rinci agar tidak terjadi salah paham. “Selama ini nafkah anak Ruben Onsu telah dianggap lengkap, tetapi terdapat perbedaan pendapat terkait detail biaya,” tambahnya.

Langkah-Langkah untuk Penyelesaian

Saat ini, salah satu langkah yang diusulkan adalah melibatkan mediator untuk membantu memperjelas tanggung jawab masing-masing pihak. Minola Sebayang berharap agar ada kesepakatan yang jelas tentang apa yang termasuk nafkah anak dan apa yang menjadi biaya rumah tangga. “Dengan penjelasan yang lebih jelas, Ruben Onsu bisa fokus pada kewajibannya yang sebenarnya,” katanya.

Komunikasi antara Ruben dan Sarwendah juga menjadi fokus penyelesaian. Dalam wawancara terbaru, Ruben menyatakan bahwa ia berharap bisa berinteraksi langsung dengan anak-anaknya tanpa hambatan. Sementara Sarwendah mengakui kesulitan dalam memenuhi keinginan Ruben, ia berharap agar biaya nafkah anak Ruben Onsu dapat dibayarkan secara adil. “Kami hanya ingin nafkah anak diberikan sesuai kebutuhan, bukan menjadi alasan untuk membatasi pertemuan,” tuturnya.

Dengan penyelesaian yang jelas dan adil, diperkirakan akan meminimalkan konflik yang terjadi. Hal ini tidak hanya berdampak pada Ruben dan Sarwendah, tetapi juga menjadi contoh bagaimana nafkah anak bisa dipahami secara tepat dalam konteks kehidupan keluarga. Karena itu, penting bagi kedua pihak untuk memahami bahwa nafkah anak adalah bentuk tanggung jawab finansial yang seharusnya memastikan kesejahteraan anak, bukan menjadi alasan untuk ketidakpuasan. Dalam hal ini, nafkah anak Ruben Onsu menjadi pusat perhatian publik.

Leave a Comment