Rupiah Tertekan, Pelemahan Mata Uang Asia Dipicu Kemenangan Opini AS atas Iran
Penulis: Dr. Surya Vandiantara
Rupiah Tertekan – Dr. Surya Vandiantara, seorang ekonom dan akademisi, saat ini menjabat sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Ia menyoroti penurunan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut. Meski sempat menguat sementara, mata uang domestik kembali mencatatkan pelemahan terbesar sepanjang sejarah, yakni mencapai Rp 17.500 per dolar AS. Fenomena ini tidak hanya mengguncang pasar Indonesia, tetapi juga memengaruhi sebagian besar negara Asia.
Kenaikan dolar AS yang signifikan berdampak langsung pada kestabilan mata uang lokal. Rupiah, sebagai salah satu yang paling tertekan, mengalami tekanan akibat kemenangan opini Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran. Perang opini antara AS dan Iran menyebabkan investor lebih memilih dolar sebagai alat tukar dan instrumen investasi. Hal ini meningkatkan permintaan terhadap US$, sehingga nilai tukar dolar menguat.
Menurut laporan Reuters, pelemahan rupiah terjadi dalam suasana di mana sejumlah besar mata uang Asia mengalami tekanan serupa. Di antara mereka, won Korea Selatan turun 0,90% ke level 1.486,1 per dolar, peso Filipina melemah 0,81% ke 61,406 per dolar, serta yen Jepang, baht Thailand, dan ringgit Malaysia masing-masing mengalami penurunan sebesar 0,23%, 0,29%, dan 0,25%. Di sisi lain, dolar Taiwan sedikit menguat 0,01%, sementara yuan China naik 0,03%.
Dari segi kinerja tahunan, rupiah menunjukkan performa negatif sejak awal 2026. Mata uang ini turun 4,72% dibandingkan level akhir 2025 yang berada di Rp 16.670 per dolar AS. Kondisi ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang Asia dengan penurunan terbesar sepanjang tahun. Jika dibandingkan, rupee India mengalami koreksi lebih dalam sebesar 5,71%, sedangkan peso Filipina turun 4,24%, won Korea Selatan melemah 3,14%, dan baht Thailand menurun 2,78% secara YTD.
Dengan berbagai faktor global seperti perang opini AS-Iran dan dinamika pasar keuangan, nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan. Penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang memicu ketidakstabilan mata uang negara berkembang di kawasan Asia.
