Pakar Sebut Kepala BGN Harus Ahli Gizi, Sudaryono Dipertanyakan
Tuntutan Kompetensi Gizi untuk Pimpinan BGN
Beritahitam.com – Penunjukan Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) telah memicu perdebatan serius di kalangan para ahli. Emrus Sihombing, seorang akademisi dan pakar komunikasi politik, menyatakan bahwa figur yang memimpin lembaga ini seharusnya memiliki keahlian substansial di bidang gizi. Hal ini mengingat peran vital BGN dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi prioritas nasional.
Menurut Emrus, pemilihan pemimpin BGN tidak boleh hanya didasarkan pada pertimbangan politik atau administratif semata. Lembaga yang bertanggung jawab atas program gizi nasional memerlukan pemimpin dengan pemahaman mendalam tentang ilmu gizi. Pemimpin yang memiliki latar belakang gizi akan lebih mampu merumuskan kebijakan yang berbasis pada konsep, teori, dan filosofi keilmuan yang kuat.
Untuk dapat menakodai BGN dan MBG mengarungi gelombang dan ombak besar, pengganti Nanik S. Deyang menurut hemat saya harus memiliki kompetensi di bidang gizi.
Emrus juga menekankan bahwa pemimpin dengan kompetensi yang sesuai akan menghasilkan keputusan dan program yang lebih berkualitas. Sebaliknya, pemimpin yang tidak sesuai dengan kompetensinya cenderung mengambil keputusan secara pragmatis tanpa dasar keilmuan yang kuat. Hal ini dapat berdampak pada efektivitas program MBG secara keseluruhan.
Profil Sudaryono Didominasi Pertanian dan Manajemen
Rekam jejak Sudaryono menunjukkan bahwa latar belakangnya lebih condong ke sektor pertanian dan manajemen daripada ilmu gizi. Ia menyelesaikan pendidikan menengah di SMA Taruna Nusantara sebelum melanjutkan studi Teknik Mesin di National Defense Academy (NDA) Jepang. Setelah itu, ia menempuh Magister Administrasi Bisnis (MBA) di Swiss German University.
Gelar doktor diraih Sudaryono dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan fokus pada manajemen dan agribisnis. Perjalanan profesionalnya di sektor pemerintahan maupun swasta juga lebih banyak menyentuh ranah pertanian dan ketahanan pangan. Sebelum resmi dilantik sebagai Kepala BGN, ia telah menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian.
Orang yang memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidang unit yang dipimpin akan lebih baik daripada yang tidak sesuai dengan kompetensinya. Sebab, yang tidak sesuai dengan kompetensinya, keputusan yang diambil dan programnya dipastikan tidak memiliki dasar konsep, teori, dan filsafat yang kuat.
MBG Watch Desak Pembenahan Tata Kelola
Sudaryono dikenal aktif dalam mengawal berbagai inisiatif peningkatan produksi pangan, distribusi hasil tani, penyaluran pupuk, hingga penguatan rantai pasok nasional. Dengan pengalaman tersebut, kompetensinya dinilai kuat pada aspek tata kelola pangan dan manajemen, bukan pada ilmu gizi sebagai disiplin akademik murni.
Secara konseptual, kedua bidang memang saling bersinggungan, namun memiliki fokus yang berbeda. Pertanian dan ketahanan pangan lebih menitikberatkan pada produksi, distribusi, dan ketersediaan bahan pangan. Sementara itu, ilmu gizi lebih berfokus pada aspek nutrisi, kesehatan, dan pengembangan program gizi masyarakat.
MBG Watch mendesak agar pembenahan tata kelola dilakukan sebelum perubahan kepemimpinan terjadi. Mereka berharap BGN dapat memperkuat kapasitas teknis di bidang gizi untuk mendukung program MBG secara optimal. Dengan demikian, program makan bergizi gratis dapat berjalan sesuai dengan tujuan awalnya.

