Meeting Results – Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang penuh keutamaan dalam Islam. Berdasarkan informasi dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) , mulai 18 Mei 2026 umat Islam dianjurkan memperbanyak puasa sunnah di awal Dzulhijjah sebagai bentuk ibadah menyambut hari-hari yang penuh keberkahan. Seperti diketahui, saat bulan Dzulhijjah datang, umat Muslim dianjurkan melaksanakan puasa sunnah 10 hari hingga menjelang datangnya Tarwiyah dan Arafah.
Namun, muncul pertanyaan yang sering dibahas: apakah boleh menggabungkan puasa sunnah Dzulhijjah dengan qadha puasa Ramadhan yang belum selesai? Hukum Menggabungkan Puasa Dzulhijjah dan Qadha Ramadhan Dalam Islam, puasa qadha Ramadhan adalah kewajiban yang harus ditunaikan terlebih dahulu bagi mereka yang memiliki utang puasa. Mengutip penjelasan Majelis Ulama Indonesia (MUI) , seseorang diperbolehkan melaksanakan puasa qadha Ramadhan pada hari-hari yang bertepatan dengan puasa sunnah Dzulhijjah.
Artinya, ketika seseorang menjalankan puasa wajib, ia tetap bisa mendapatkan keutamaan puasa sunnah di waktu tersebut. Pandangan ini juga sejalan dengan pendapat Imam Al-Barizi yang dinukil oleh Syekh Abu Bakr Syatha Ad-Dimyathi, bahwa amalan wajib yang dilakukan di waktu istimewa dapat sekaligus mendatangkan pahala sunnahnya, meskipun seseorang hanya berniat mengerjakan puasa wajib seperti qadha Ramadhan. Kemudian, menurut mayoritas ulama fikih dari mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah, serta Imam Ahmad bin Hanbal, menggabungkan puasa qadha Ramadan dengan puasa sunnah seperti Dzulhijjah hukumnya sah.
Artinya, seorang Muslim diperbolehkan untuk melaksanakan satu puasa dengan dua niat yaitu niat mengganti puasa Ramadhan dan sekaligus meraih keutamaan puasa Dzulhijjah, seperti Arafah. Jadwal Lengkap Puasa Tarwiyah dan Arafah Jelang Idul Adha 1447 H/2026, Lengkap dengan Bacaan Niatnya Hal ini berdasarkan prinsip bahwa amalan sunnah yang bersifat umum dapat digabungkan dengan amalan wajib, selama tidak ada dalil khusus yang melarangnya. Tak hanya itu, salah satu rujukan penting dalam hal ini adalah pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, seorang ulama besar Arab Saudi.
Dalam kitab Fatawa as-Shuiyam (halaman 438), beliau menjelaskan: "Orang yang melakukan puasa hari Arafah, atau puasa hari Asyura, dan dia punya tanggungan qadha Ramadhan, maka puasanya sah. Dan jika dia meniatkan puasa pada hari itu sekaligus qadha Ramadan, maka dia mendapatkan dua pahala: (1) Pahala puasa Arafah, atau pahala puasa Asyura, dan (2) Pahala puasa qadha. Ini untuk puasa sunnah mutlak, yang tidak ada hubungannya dengan Ramadan.” TRIBUNNEWS.COM – Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang penuh keutamaan dalam Islam.
Berdasarkan informasi dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) , mulai 18 Mei 2026 umat Islam dianjurkan memperbanyak puasa sunnah di awal Dzulhijjah sebagai bentuk ibadah menyambut hari-hari yang penuh keberkahan. Seperti diketahui, saat bulan Dzulhijjah datang, umat Muslim dianjurkan melaksanakan puasa sunnah 10 hari hingga menjelang datangnya Tarwiyah dan Arafah. Namun, muncul pertanyaan yang sering dibahas: apakah boleh menggabungkan puasa sunnah Dzulhijjah dengan qadha puasa Ramadhan yang belum selesai?
Dalam Islam, puasa qadha Ramadhan adalah kewajiban yang harus ditunaikan terlebih dahulu bagi mereka yang memiliki utang puasa. Mengutip penjelasan Majelis Ulama Indonesia (MUI) , seseorang diperbolehkan melaksanakan puasa qadha Ramadhan pada hari-hari yang bertepatan dengan puasa sunnah Dzulhijjah. Artinya, ketika seseorang menjalankan puasa wajib, ia tetap bisa mendapatkan keutamaan puasa sunnah di waktu tersebut.
Pandangan ini juga sejalan dengan pendapat Imam Al-Barizi yang dinukil oleh Syekh Abu Bakr Syatha Ad-Dimyathi, bahwa amalan wajib yang dilakukan di waktu istimewa dapat sekaligus mendatangkan pahala sunnahnya, meskipun seseorang hanya berniat mengerjakan puasa wajib seperti qadha Ramadhan. Kemudian, menurut mayoritas ulama fikih dari mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah, serta Imam Ahmad bin Hanbal, menggabungkan puasa qadha Ramadan dengan puasa sunnah seperti Dzulhijjah hukumnya sah. Artinya, seorang Muslim diperbolehkan untuk melaksanakan satu puasa dengan dua niat yaitu niat mengganti puasa Ramadhan dan sekaligus meraih keutamaan puasa Dzulhijjah, seperti Arafah.
Jadwal Lengkap Puasa Tarwiyah dan Arafah Jelang Idul Adha 1447 H/2026, Lengkap dengan Bacaan Niatnya Hal ini berdasarkan prinsip bahwa amalan sunnah yang bersifat umum dapat digabungkan dengan amalan wajib, selama tidak ada dalil khusus yang melarangnya. Tak hanya itu, salah satu rujukan penting dalam hal ini adalah pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, seorang ulama besar Arab Saudi. Dalam kitab Fatawa as-Shuiyam (halaman 438), beliau menjelaskan: "Orang yang melakukan puasa hari Arafah, atau puasa hari Asyura, dan dia punya tanggungan qadha Ramadhan, maka puasanya sah.
Dan jika dia meniatkan puasa pada hari itu sekaligus qadha Ramadan, maka dia mendapatkan dua pahala: (1) Pahala puasa Arafah, atau pahala puasa Asyura, dan (2) Pahala puasa qadha. Ini untuk puasa sunnah mutlak, yang tidak ada hubungannya dengan Ramadan.”
