Kesehatan

Latest Program: Indonesia Masuk 6 Besar Dunia Zero Dose Imunisasi, Ancaman Polio hingga Campak Mengintai

esar Dunia dalam Program Zero Dose Imunisasi, Risiko Penyakit Memuncak Latest Program - Program imunisasi terbaru di Indonesia mencatatkan kemajuan

Desk Kesehatan
Published Mei 22, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Indonesia Masuk 6 Besar Dunia dalam Program Zero Dose Imunisasi, Risiko Penyakit Memuncak

Latest Program – Program imunisasi terbaru di Indonesia mencatatkan kemajuan signifikan, namun juga menghadirkan tantangan serius. Berdasarkan laporan WHO dan UNICEF tahun 2024, negara ini berada di peringkat keenam global dalam jumlah anak yang belum menerima vaksinasi dasar (zero dose). Fakta ini menjadi perhatian khusus karena menunjukkan perluasan risiko penyakit seperti polio dan campak, yang sebelumnya dikendalikan dengan baik.

Kondisi Imunisasi Bayi di Tahun 2024

Menurut Direktorat Imunisasi Kemenkes, jumlah anak di bawah lima tahun yang belum pernah mendapatkan vaksin rutin meningkat drastis. Tahun 2023 mencatat 372.965 anak dalam kategori zero dose, sedangkan di tahun 2024 angka tersebut melonjak menjadi 973.378. Meski ada penurunan kecil di 2025, dengan 959.990 anak yang masih belum divaksinasi, angka ini tetap menjadi masalah utama dalam program imunisasi terbaru.

“Indonesia berada di urutan keenam dunia dengan angka zero dose tertinggi,” kata Edy Hariyanto, Administrator Kesehatan Ahli Madya Direktorat Imunisasi Kemenkes, saat menyampaikan data di Kota Banda Aceh, Kamis (21/5/2026).

Angka zero dose yang meningkat menunjukkan keluhan masyarakat terhadap akses layanan kesehatan, serta keterlambatan pelaksanaan program imunisasi terbaru. Total anak yang belum divaksinasi mencapai sekitar 2,3 juta di seluruh Indonesia, menyebabkan kegagalan pencapaian target nasional yang seharusnya mencapai 90 persen. Hingga Mei 2026, cakupan imunisasi bayi lengkap baru mencapai 17,6 persen, berdasarkan Dashboard ASIK terbaru.

Akibat Tidak Terpenuhinya Target Imunisasi

Kehilangan kekebalan di kelompok usia 5–14 tahun menjadi sorotan karena mengancam penyebaran penyakit yang menular. Polio dan campak, yang sempat dianggap terkendali, kembali berpotensi merebak. Peningkatan angka zero dose mengakibatkan kelemahan dalam sistem kekebalan tubuh nasional, yang menjadi celah untuk penyakit yang bisa menyebar cepat.

Menurut penelitian terkini, angka kematian akibat demam berdarah (DBD) pada usia 5–14 tahun meningkat seiring penurunan imunisasi. Di sisi lain, penyakit lain seperti rubella dan hepatitis B juga mulai muncul kembali, mengingat vaksinasi rutin tidak terlaksana secara optimal dalam program imunisasi terbaru. Hal ini menunjukkan bahwa kegagalan dalam program imunisasi terbaru berdampak luas pada kesehatan masyarakat.

Pelaksanaan Program Imunisasi di Daerah

Dalam rangka meningkatkan cakupan vaksinasi, Kementerian Kesehatan telah meluncurkan inisiatif pelaksanaan program imunisasi terbaru. Dalam beberapa wilayah, seperti DKI Jakarta dan Bali, upaya percepatan vaksinasi berhasil menurunkan jumlah zero dose. Namun, di daerah-daerah terpencil dan daerah dengan akses terbatas, pelaksanaan program imunisasi terbaru masih kurang optimal.

Edy Hariyanto menegaskan bahwa peningkatan akses ke layanan kesehatan, khususnya di daerah terpencil, menjadi fokus utama dalam program imunisasi terbaru. Langkah-langkah seperti penggunaan mobil imunisasi dan kerja sama dengan organisasi lokal diharapkan mampu mempercepat peningkatan cakupan vaksinasi, terutama untuk anak-anak yang terlambat menerima imunisasi.

Upaya Pemerintah dan Pihak Lain

Pemerintah telah mengambil langkah strategis untuk mengatasi keterlambatan program imunisasi terbaru. Dalam beberapa bulan terakhir, 2026 menjadi tahun kritis untuk mencapai target 90 persen cakupan vaksinasi. Rencana percepatan pelaksanaan, seperti kampanye vaksinasi massal dan pendidikan masyarakat, diharapkan memperbaiki situasi.

Sementara itu, lembaga donor seperti UNICEF dan WHO memberikan dukungan penuh. Program imunisasi terbaru mereka mencakup pendistribusian vaksin tambahan dan pelatihan tenaga kesehatan di daerah-daerah yang rentan. Dengan kolaborasi tersebut, Indonesia berharap bisa mengurangi risiko penyebaran penyakit seperti polio dan campak, yang menjadi ancaman serius dalam program imunisasi terbaru.

Kondisi Global dan Pelajaran untuk Indonesia

Dalam konteks global, angka zero dose di Indonesia tidak terlepas dari situasi serupa di negara-negara lain. Negara-negara seperti Nigeria, Afghanistan, dan Pakistan juga menghadapi tantangan serupa dalam pelaksanaan program imunisasi terbaru. Namun, Indonesia bisa belajar dari pengalaman mereka dalam mengatasi hambatan logistik dan masyarakat.

Edy Hariyanto menekankan bahwa keberhasilan program imunisasi terbaru tidak hanya bergantung pada ketersediaan vaksin, tetapi juga pada partisipasi masyarakat. Ia menyoroti pentingnya edukasi mengenai manfaat vaksinasi, terutama untuk orang tua yang mungkin ragu-ragu. Dengan memperkuat komunikasi dan kepercayaan publik, pemerintah bisa meningkatkan efektivitas program imunisasi terbaru.

Langkah Pemulihan dan Prospek Masa Depan

Program imunisasi terbaru Indonesia tengah diuji coba dalam skala besar, dengan harapan mampu menekan angka zero dose. Strategi ini melibatkan penggunaan teknologi informasi untuk melacak progres vaksinasi, serta peningkatan kualitas tenaga kesehatan di lapangan. Jika berhasil, program ini akan menjadi contoh efektif dalam peningkatan kesehatan global.

Leave a Comment