Visit Agenda: Budayawan Butet Kartaredjasa Orasi di Titik Nol Yogya untuk 28 Tahun Reformasi
Visit Agenda menjadi salah satu momen penting dalam rangkaian kegiatan memperingati 28 tahun peristiwa Reformasi di Indonesia. Pada Kamis (21/5/2026), sekitar ratusan pemuda, seniman, dan aktivis berkumpul di Titik Nol Yogyakarta untuk mengikuti seruan aksi yang dihelat oleh berbagai organisasi masyarakat. Acara ini tidak hanya sekadar memperingati sejarah, tetapi juga sebagai ajang diskusi dan refleksi untuk menyatukan generasi muda dalam menghadapi tantangan sosial dan politik saat ini. Butet Kartaredjasa, tokoh budayawan senior, menjadi pengisi acara utama dengan orasi yang menginspirasi dan mengingatkan kembali perjuangan masa lalu.
Sejarah dan Harapan untuk Masa Depan
Acara yang diadakan di Titik Nol Yogya ini dianggap sebagai sarana untuk memperkuat semangat kolektif masyarakat. Butet Kartaredjasa, dalam orasinya, menyoroti peran penting generasi muda dalam membawa perubahan besar, seperti yang pernah terjadi pada tahun 1998. Ia mengingatkan bahwa perjuangan politik reformasi tidak terlepas dari kekuatan rakyat yang berani memperjuangkan hak mereka. “Visit Agenda ini bukan hanya sekadar memperingati hari kemerdekaan, tetapi juga sebagai ajang untuk menumbuhkan kesadaran politik di kalangan pemuda,” katanya, menegaskan bahwa kehadiran generasi muda di titik nol masih sangat relevan dalam era reformasi.
“Kawan-kawan, 28 tahun yang lalu kita mengingat peristiwa besar yang mengubah sejarah Indonesia. Dan anak-anak muda seperti kalian inilah yang berhasil melengserkan presiden yang berkuasa selama 32 tahun. Dulu, saya adalah saksi yang hadir di Alun-alun Utara saat Pisowanan Agung dilakukan. Kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X, para mahasiswa dari seluruh penjuru kota datang untuk menuntut keadilan. Hari itu, Pak Harto mengundurkan diri setelah mendengar pidato dari para pemimpin daerah,”
“Sekarang, kita menghadapi situasi yang berbeda. Harga beras sudah mencapai 17.000 rupiah per kilogram. Jika harga terus naik, rakyat akan kelaparan. Maka, saya bertanya kepada kalian: Apakah kalian siap menjadi pelaku perubahan di garis depan?”
Pelajaran dari Karya Seni dan Perjuangan Masa Lalu
Butet Kartaredjasa juga memakai orasi ini untuk mengingatkan peserta aksi akan film Pesta Babi, karya seni yang menggambarkan kolonialisme dan ketimpangan sosial. “Kita tidak boleh lupa bahwa Reformasi bukan sekadar perubahan politik, tapi juga perjuangan melawan struktur kekuasaan yang menindas,” ujarnya. Ia menekankan bahwa film tersebut tetap relevan dalam mengungkap dinamika sosial yang terjadi di Papua dan berbagai daerah lain. “Kita perlu melihat kembali bagaimana bentuk penjajahan yang masih berlangsung, baik secara langsung maupun tidak langsung,” tambahnya.
Aksi di Titik Nol Yogya menjadi momentum untuk merefleksikan perjuangan rakyat yang terus berlanjut. Peserta aksi diharapkan bisa menjadi pelaku utama perubahan, seperti yang pernah dilakukan generasi sebelumnya. Butet Kartaredjasa menyoroti bahwa keberhasilan Reformasi tahun 1998 didasari oleh kesadaran kolektif yang terbangun melalui aksi-aksi sosial. “Visit Agenda ini adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Kita harus terus bergerak, karena Reformasi masih memerlukan pengawasan dan perjuangan yang konsisten,” katanya.
Konteks SMI dan Peran Budayawan dalam Sosialisme
Acara ini juga merayakan ulang tahun ke-13 organisasi SMI (Social Movement Institute), lembaga yang berperan penting dalam memantau dan mendorong gerakan sosial di Indonesia. SMI berupaya menjembatani antara teori sosialisme dengan praktik perjuangan di lapangan. Butet Kartaredjasa menegaskan bahwa budayawan tidak hanya sebagai pengisi hiburan, tetapi juga sebagai pelaku politik yang mampu menggerakkan masyarakat. “Visit Agenda ini memberikan ruang bagi budayawan untuk memperkuat peran mereka dalam menyampaikan pesan sosial dan politik,” imbuhnya.
Peringatan 28 tahun Reformasi di Titik Nol Yogya menjadi kesempatan untuk menggali makna sejarah dan menarik pelajaran bagi generasi muda. Butet Kartaredjasa menekankan bahwa keberhasilan Reformasi membutuhkan dukungan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk budayawan, seniman, dan pemuda. “Kita perlu menyadari bahwa perubahan yang terjadi hari ini adalah hasil dari aksi-aksi yang dijalani oleh generasi sebelumnya. Visit Agenda ini adalah pengingat bahwa perjuangan tidak pernah berhenti,” katanya.
