Seleb

Special Plan: Ammar Zoni Ketakutan Mendekam di Lapas High Risk Nusakambangan: Lama-lama di Sini Gue Lumpuh

Special Plan: Ammar Zoni Takut Di Lapas Nusakambangan Special Plan menjadi sorotan utama setelah aktor dan mantan suami Irish Bella, Ammar Zoni, dinyatakan

Desk Seleb
Published Mei 22, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Special Plan: Ammar Zoni Takut Di Lapas Nusakambangan

Special Plan menjadi sorotan utama setelah aktor dan mantan suami Irish Bella, Ammar Zoni, dinyatakan mendekam di Lapas High Risk Nusakambangan. Hukuman penjara selama tujuh tahun dan denda Rp1 miliar yang dijatuhkan terhadapnya menimbulkan kecemasan yang nyata. Sebagai warga bermasalah, ia harus menghadapi kondisi khusus yang terbilang ketat di dalam tahanan. Lokasi Nusakambangan, Jawa Tengah, dikenal sebagai tempat penjara berstatus High Risk, yang memperparah kekhawatiran Ammar terhadap masa depan di dalam sel.

Kondisi Fisik dan Keterbatasan Ruang

Menurut keterangan saudara kandungnya, Aditya Zoni, dalam wawancara di acara Pagi Pagi Ambyar, Trans TV, Ammar menggambarkan sel yang ia tempati sebagai ruangan sempit dan tidak nyaman. Ia menghabiskan waktu sehari-hari di dalam ruang berukuran kecil, yang hanya cukup untuk berdiri atau tidur dengan posisi kaki yang melengkung karena tingginya 187 cm. Aditya menyebutkan bahwa kondisi ini membuat Ammar merasa terbatas dalam aktivitas sehari-hari, termasuk kebutuhan untuk bergerak bebas.

“Di dalam sel itu sangat sempit, kalau tidur posisinya harus nekuk karena tingginya 187 cm. Kakinya harus berbantukan di samping tubuh, ini membuat dia merasa sangat kikuk,” ujar Aditya.

Proses dan Sosok Special Plan

Ammar Zoni menjalani Special Plan sebagai bagian dari program penjara yang dirancang untuk mengurangi risiko kejahatan selama masa tahanan. Nusakambangan, tempat penahanannya, dipilih sebagai lokasi High Risk karena penghuninya diharapkan lebih waspada dalam menghadapi tekanan lingkungan. Namun, kondisi fisik Ammar justru menjadi sumber kekhawatiran, terutama dalam konteks Special Plan yang menuntut kebugaran dan konsentrasi tinggi. Ia mengungkapkan bahwa setiap hari di dalam sel membuatnya merasa seperti terjebak dalam kehidupan yang monoton.

“Special Plan itu jadi tantangan ekstra. Di dalam sel ini, berasa kayak lumpuh aja kalau terus-menerus duduk. Dia bilang, ‘lama-lama kalau gue di sini udah lumpuh nih’,” tutur Aditya.

Rutinitas dan Tekanan Psikologis

Ammar Zoni menjalani rutinitas ketat dalam Special Plan. Ia hanya diberi waktu 10 menit setiap minggu untuk keluar sel dan menikmati paparan matahari, yang menjadi hal terpenting bagi kesehatannya. Di luar sel, kegiatan terbatas pada pekerjaan fisik atau komunikasi dengan petugas. Kondisi ini membuat ia merasa terasing dan kurang adaptif. Aditya menambahkan bahwa selama masa tahanan, Ammar sering kali menyampaikan rasa kebosanan dan rasa trauma akibat lingkungan yang sempit dan berisik.

Proses Pemasyarakatan dan Kekhawatiran Keluarga

Dalam Special Plan, Ammar Zoni juga mengalami tekanan mental yang signifikan. Keluarga mengungkapkan bahwa ia kesulitan beradaptasi dengan aturan ketat di Lapas High Risk. Selain itu, kondisi fisiknya yang membatasi gerakan menjadi kekhawatiran utama. Aditya mengatakan bahwa Ammar sering kali mengatakan bahwa dirinya bisa menjadi lumpuh jika terus-menerus berada dalam keadaan seperti itu.

“Keluarga sangat khawatir, terutama dalam konteks Special Plan. Dia bilang, ‘kalau terus di sini, udah pasti lumpuh nih. Dulu pas di rumah, jadi bisa berjalan bebas,’” kata Aditya.

Kebutuhan Adaptasi dan Peran Keluarga

Ammar Zoni harus beradaptasi dengan kehidupan baru di dalam Special Plan. Ia terus menerus mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda dari sebelumnya. Aditya mengungkapkan bahwa keluarga memberikan dukungan moral dan emosional selama masa tahanan. Namun, kekhawatiran terhadap risiko fisik tetap menjadi fokus utama. Dalam wawancara tersebut, ia juga menyebutkan bahwa setiap hari di Lapas High Risk membuatnya merasa seperti terperangkap dalam skenario yang tidak bisa diprediksi.

Kondisi Penjara dan Harapan untuk Keluar

Kondisi Lapas Nusakambangan yang ketat dalam Special Plan memperkuat kecemasan Ammar Zoni. Ia mengalami tekanan fisik dan mental sekaligus, terutama karena keterbatasan ruang dan kegiatan yang tidak memadai. Aditya mengatakan bahwa dalam wawancara terbarunya, Ammar berharap bisa segera keluar dari sel dan kembali ke kehidupan normal. Meski begitu, ia tetap menyesuaikan diri dengan tuntutan Special Plan, yang memberikan kepastian tentang proses pemasyarakatan yang disiplin.

Leave a Comment