Bisnis

Belajar dari Karung Goni Bekas – Erina Sukses Bikin Fesyen Berkelas, Dilirik Pembeli Jepang dan Korea

Belajar dari Karung Goni Bekas: Erina Sukses Bikin Fesyen Berkelas, Dilirik Pembeli Jepang dan Korea Belajar dari Karung Goni Bekas - Dari kebiasaan sederhana

Desk Bisnis
Published Mei 27, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments

Belajar dari Karung Goni Bekas: Erina Sukses Bikin Fesyen Berkelas, Dilirik Pembeli Jepang dan Korea

Belajar dari Karung Goni Bekas – Dari kebiasaan sederhana mengoleksi karung goni bekas, Erina Cahya Anggraini merintis bisnis fesyen inovatif yang kini mendapat perhatian dari pasar internasional. Sejak 2019, ia mengubah limbah tekstil yang biasanya dianggap tidak bernilai menjadi produk bernilai tinggi, terutama bagi pembeli dari Jepang dan Korea. Konsep ini tidak hanya memberi arti baru pada barang bekas, tetapi juga menginspirasi keberlanjutan dalam industri mode.

Motivasi dan Proses Kreatif

Erina memulai perjalanan ini dari keinginan untuk meminimalkan sampah tekstil di Pasar Legi, Solo, Jawa Tengah. Setiap karung goni yang ia kumpulkan melalui proses pembersihan dan pengeringan yang rumit. Dalam pembicaraan dengan Tribunnews, ia mengungkapkan bahwa setiap tahap harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari jamur yang merusak kualitas bahan. “Dari pembersihan hingga penyelesaian, semua proses harus dilalui berulang kali agar hasilnya bisa diakui oleh konsumen,” katanya, Sabtu (23/5/2026).

“Karung goni bekas bukan hanya bahan untuk membuat produk sederhana. Dengan teknik tertentu, bahan ini bisa menghasilkan aksesori yang elegan dan tahan lama,” jelas Erina, menambahkan bahwa keberlanjutan adalah inti dari usahanya.

Setelah menemukan bahan yang tepat, Erina mengembangkan desain yang menarik. Ia menyadari bahwa karung goni tertentu tidak mengandung serabut yang kasar, sehingga nyaman dipakai dan tidak mudah kusut. Dengan kombinasi teknik tradisional dan inovasi modern, produk yang dihasilkan kini menawarkan kualitas premium yang sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular.

Pengembangan Produk dan Pasar

Produk Erina meliputi berbagai aksesori seperti topi, tas, sandal, dan sepatu. Harga bervariasi, mulai dari Rp5.000 untuk dompet kecil hingga Rp400 ribu untuk sepatu yang tergabung dari goni dan kulit sapi asli. Proses produksi yang terpusat di workshop Erlene Handycraft, Dusun Gebyok, Desa Ngemplak, Sukoharjo, membutuhkan ketelitian tinggi. Setiap item dibuat secara manual, menjadikan produk ini memiliki nilai unik yang sulit ditemukan di pasar konvensional.

Dalam sebulan, Erina mampu memproduksi sekitar 150 pasang sepatu, 2.000 unit dompet dan tas kecil, serta 100 unit tas dengan desain rumit. Meski produknya memiliki bahan yang beragam, ia tetap mempertahankan konsistensi kualitas. “Belajar dari karung goni bekas mengajarkan saya tentang keuletan dan inovasi,” ujarnya, menyoroti cara kerja yang dilakukan sejak usia remaja.

Usaha ini tidak hanya menginspirasi penggunaan bahan daur ulang, tetapi juga menunjukkan potensi ekonomi dari lingkungan sekitar. Erina memberdayakan lima ibu-ibu di wilayahnya untuk bergabung dalam proses produksi. Kesadaran akan keberlanjutan ini terus berkembang, bahkan menarik perhatian pembeli dari Jepang dan Korea yang memilih produknya sebagai bagian dari gaya hidup ramah lingkungan.

Kehadiran Erina di dunia fesyen menunjukkan bahwa belajar dari karung goni bekas bisa menjadi jalan untuk mengubah perspektif terhadap limbah. Dengan menekankan keindahan dari bahan sederhana, ia membuktikan bahwa inovasi lokal bisa bersaing di panggung internasional. Usaha ini juga menjadi contoh bagaimana kecil-kecilan bisa berkembang menjadi besar, selama ada komitmen dan kreativitas yang terus berkembang.

Leave a Comment