Key Issue: Alasan Zulkifli Hasan Akui Minta Jabatan Menko Pangan ke Prabowo
Key Issue – Dalam sebuah wawancara eksklusif yang diadakan dalam sesi podcast bersama Refly Harun, Zulkifli Hasan, yang saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pangan, mengungkapkan secara terbuka mengenai keinginannya untuk mengambil jabatan Menko Pangan. Menurut Zulhas, key issue utama yang mendorongnya membuat keputusan ini adalah hubungan emosional dan komitmen ideologisnya terhadap masalah ketahanan pangan serta nasib para petani di desa. “Key Issue ini menjadi dasar saya meminta jabatan Menko Pangan, karena saya yakin ini adalah isu yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia,” jelasnya, dalam sesi wawancara yang dilaporkan Rabu (27/5/2026).
Perjalanan dari Petani ke Pemimpin Kebijakan
Zulkifli Hasan, yang lahir dan besar di daerah pedesaan Lampung, menjelaskan bahwa keinginan untuk memimpin sektor pangan bermula dari keinginan ibunya untuk menjamin kesejahteraan keluarga. “Key Issue terbesar dalam hidup saya adalah membela petani dan memastikan mereka tidak terlalu tertekan oleh tekanan ekonomi global,” katanya. Ia menyatakan bahwa kehidupan para petani selama ini menjadi sumber inspirasi bagi dirinya dalam berpolitik, termasuk dalam memperjuangkan kebijakan yang mengutamakan ketahanan pangan.
“Key Issue pangan itu bukan hanya tentang produksi, tapi juga tentang kesejahteraan petani yang harus diutamakan,” tegas Zulhas.
Kebijakan Terbaru untuk Kemandirian Pangan
Menko Pangan juga menyebutkan bahwa kebijakan terbaru yang diterapkan pemerintah saat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional. Ia menegaskan bahwa pemerintah telah mengambil langkah-langkah konkrit seperti deregulasi distribusi pupuk, kenaikan harga pembelian gabah petani, dan pengembangan infrastruktur pertanian. “Key Issue swasembada pangan akan tercapai jika kita bisa memperkuat kebijakan-kebijakan ini secara berkelanjutan,” jelasnya.
Menurut Zulhas, kebijakan-kebijakan tersebut adalah hasil dari komitmen yang telah terbentuk sejak beberapa tahun terakhir. Ia menjelaskan bahwa sektor pangan tidak bisa dipisahkan dari kebijakan ekonomi nasional, terutama dalam menghadapi tantangan global seperti inflasi dan krisis pasokan bahan pokok.
Keterlibatan Prabowo dalam Agenda Pangan
Sebagai seorang pemimpin, Prabowo Subianto dinilai memiliki perhatian khusus terhadap key issue ketahanan pangan. Zulkifli Hasan mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo telah lama menempatkan swasembada pangan sebagai prioritas utama dalam pembangunan nasional. “Key Issue ini selalu menjadi fokusnya, baik dalam masa kampanye maupun setelah dilantik,” kata Zulhas.
“Key Issue pangan itu adalah salah satu dari tiga agenda utama yang ingin saya capai selama jabatan ini,” tambahnya.
Target Impor Beras Tahun 2025
Salah satu target utama yang diungkapkan Zulhas dalam wawancara tersebut adalah penyelesaian impor beras pada tahun 2025. Menurutnya, kenaikan produksi beras nasional hingga mencapai 34,69 juta ton adalah bukti bahwa pemerintah telah memperbaiki kebijakan sektor pangan. “Key Issue ini akan tercapai jika kita bisa terus mendorong pertanian dan memastikan harga jual petani tetap stabil,” jelasnya.
Zulhas juga mengingatkan bahwa key issue ketahanan pangan harus dipandang sebagai prioritas yang berkelanjutan, tidak hanya sekadar isu jangka pendek. Ia menekankan pentingnya kebijakan yang menekankan keadilan dalam distribusi hasil pertanian, sehingga kebutuhan masyarakat pedesaan dapat terpenuhi secara merata.
Harapan untuk Keterlibatan Sosial dan Politik
Kebijakan pangan yang diusung Zulhas diharapkan mampu menciptakan keterlibatan yang lebih kuat antara pemerintah dengan masyarakat pedesaan. Menurutnya, key issue ini juga menjadi jembatan untuk memperkuat koordinasi antar lembaga pemerintah, termasuk Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Perdagangan. “Key Issue ini tidak bisa diselesaikan oleh satu instansi saja, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Zulkifli Hasan juga menyoroti pentingnya edukasi dan sosialisasi kebijakan pangan kepada masyarakat. Ia menyatakan bahwa masyarakat perlu memahami bagaimana kebijakan tersebut akan memberikan manfaat langsung bagi kehidupan sehari-hari, termasuk harga bahan pokok yang lebih terjangkau.
