Bisnis

Visit Agenda: Jejak Kain Lukis Nasrafa, Berjuang Dari Sebar Brosur Kini Menjangkau Pasar Dunia

rosur Hingga Penjangkauan Pasar Global Visit Agenda menyoroti perjalanan kreatif yang dibangun oleh Yani Mardiyanto, seorang pelukis yang memulai usahanya

Desk Bisnis
Published Mei 12, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments

Jejak Kain Lukis Nasrafa: Dari Brosur Hingga Penjangkauan Pasar Global

Visit Agenda menyoroti perjalanan kreatif yang dibangun oleh Yani Mardiyanto, seorang pelukis yang memulai usahanya dari selembar kain polos dan brosur sederhana. Berawal di ruang kecil di IKM Center Semanggi, Solo, usaha yang diberi nama Nasrafa ini kini telah menembus batas negara, memperlihatkan potensi seni kain lukis dalam dunia internasional.

Menggali Potensi Seni Lokal

Nasrafa, yang didirikan pada 20 Januari 2012 di Kampung Petoran, Jebres, Solo, bermula dari keinginan Yani untuk memberi ruang kepada para pelukis muda di Solo. Ia memperhatikan bahwa banyak pemuda memiliki bakat, tetapi tidak memiliki akses ke media yang memadai. Kebutuhan akan penjualan yang lebih luas menginspirasi Yani untuk mengubah cara mereka mengekspresikan kreativitas—dari kanvas ke kain.

Dengan modal terbatas, Yani dan timnya hanya mengandalkan cat air, kain goni, serta rak sederhana. Proses melukis bunga sakura, pola tradisional, atau desain modern mengambil waktu berjam-jam, tetapi hasilnya memenuhi keinginan para penggemar seni. Karya-karya ini, yang dulunya hanya dilihat oleh wisatawan di Pasar Klewer dan Pasar Gedhe, kini mencapai pasar internasional.

Transformasi dari Brosur ke Brand Global

Dulu, promosi Nasrafa sangat manual. Yani berkeliling pasar, menyebarkan brosur yang dilipat kecil, lalu menunggu penjualan satu per satu. Di era sebelum media sosial berkembang, langkah ini menjadi pondasi utama untuk membangun nama usaha. “Dulu promosinya benar-benar manual. Saya bawa brosur ke pasar, ke wisatawan, menawarkan satu-satu,” kenang Yani, yang ditemui pada Jumat (8/5/2026).

Dari sana, kreativitas para pelukis muda berubah menjadi komoditas. Nasrafa tidak hanya berfokus pada seni, tetapi juga pada inovasi dalam distribusi. Dengan memanfaatkan jaringan lokal, usaha ini perlahan merambah ke luar Solo. Berbagai pameran di luar negeri, seperti di Osaka, Jepang, memperlihatkan bahwa kain lukis Nasrafa mulai dikenal luas.

Visit Agenda tidak hanya menjadi media untuk memperkenalkan kain lukis, tetapi juga membantu membangun strategi pemasaran yang lebih modern. Dengan menggabungkan tradisi lokal dan teknik komunikasi digital, Yani berhasil memperluas jangkauan Nasrafa. Hal ini menunjukkan bagaimana inisiatif kecil dapat berkembang menjadi bisnis berbasis seni yang punya dampak luas.

Bersamaan dengan pertumbuhan Nasrafa, Yani juga menekankan pentingnya pendidikan seni bagi generasi muda. Ia berharap kain lukis bisa menjadi bagian dari identitas budaya Solo. “Saya ingin para anak muda tahu bahwa seni bisa menjadi mata pencaharian,” imbuhnya. Dengan berbagai inisiatif, Nasrafa kini menjadi contoh nyata tentang bagaimana Visit Agenda dan kreativitas lokal bisa memperkukuh posisi di pasar global.

Leave a Comment