Gencatan Senjata Memanas: Hizbullah Serang Israel 14 Kali, Korban Lebanon Capai 3.020 Jiwa
Gencatan Senjata Memanas – Konflik antara Hizbullah dan Israel kembali memanas setelah gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat diperpanjang selama 45 hari. Meski kesepakatan ini mencoba mendinginkan situasi di perbatasan Lebanon-Israel, kelompok Hizbullah tetap mengambil inisiatif dengan melakukan serangan terhadap pasukan Israel sebanyak 14 kali dalam sehari, Senin (18/5/2026). Operasi tersebut melibatkan serangkaian serangan menggunakan drone peledak, rudal, dan senjata artileri berat, yang terfokus pada lokasi konsentrasi militer Israel di wilayah selatan Lebanon. Serangan-serangan ini menjadi bukti ketegangan yang semakin tinggi, meski ada harapan gencatan senjata bisa mengurangi eskalasi kekerasan.
Korban Meningkat, Dukungan Internasional Diperlukan
Menurut laporan Kementerian Kesehatan Lebanon, jumlah korban tewas akibat operasi militer Israel telah mencapai 3.020 jiwa sejak konflik memanas pada 2 Maret 2026. Angka ini termasuk 9.273 orang yang terluka. Seorang korban terbaru adalah Wael Abdel Halim, anggota utama kelompok Jihad Islam Palestina, yang gugur bersama putrinya, Rama (17 tahun), setelah menjadi sasaran serangan udara di apartemen di Douris, distrik Baalbek, Lebanon Timur. Serangan tersebut memperlihatkan tingkat keparahan yang meningkat, dengan korban tewas dilaporkan mencapai tujuh orang dalam sehari menurut BBC.
“Dalam beberapa hari terakhir, gempuran udara terus menghantam berbagai wilayah Lebanon, termasuk daerah yang menjadi sasaran utama Hizbullah,” tulis Al Jazeera dalam laporannya.
Operasi Militer Israel Tetap Berjalan
Israel tidak menghentikan operasi militer meski gencatan senjata tetap berlaku. Aksi serangan udara terus dilakukan di kawasan seperti Hanaway, Dibal, Deir Ammar, Deir Amess, Meirka, dan Harouf, yang terletak di wilayah selatan Lebanon. Pihak Israel menyatakan bahwa serangan-serangan ini bertujuan menetralisir aktivitas militer Hizbullah dan mencegah keberlanjutan serangan dari pihak Lebanon. Meski begitu, proses gencatan senjata yang diumumkan di Washington DC tampak tidak cukup efektif untuk menghentikan serangan berulang.
“Kesepakatan gencatan senjata memberi ruang bagi Israel untuk terus melakukan operasi militer, meski ada konsensus untuk mengurangi konflik,” jelas sumber dari organisasi kemanusiaan internasional.
Kelompok Hizbullah Tetap Aktif dalam Serangan
Hizbullah menegaskan komitmen mereka untuk terus membalas serangan Israel, termasuk menargetkan pasukan dan infrastruktur militer. Dalam operasi terbaru, kelompok tersebut mengklaim berhasil menyerang buldoser militer menggunakan drone di Deir Siryan. Sementara itu, rudal diluncurkan ke wilayah Rashaf, yang menjadi pusat konsentrasi tentara Israel. Serangan-serangan ini menunjukkan bahwa Hizbullah tetap aktif dalam upaya memperkecil kekuatan pasukan Israel, meski kondisi di lapangan semakin rumit.
“Hizbullah menegaskan bahwa serangan berulang adalah bagian dari strategi mereka untuk memperkuat posisi dalam konflik dengan Israel,” ungkap laporan media lokal.
Wilayah Lebanon Terus Mengalami Kerusakan
Konflik ini tidak hanya mengakibatkan korban jiwa, tetapi juga merusak infrastruktur dan memperparah krisis logistik di Lebanon. Berbagai daerah seperti Baalbek, yang menjadi tempat pemakaman korban terbaru, mengalami kerusakan parah akibat serangan udara. Situasi ini memperhatinkan kebutuhan masyarakat Lebanon akan bantuan internasional, terutama dalam mengatasi dampak dari perang yang berlangsung tanpa henti. Angka korban tewas dan cedera juga memperlihatkan bagaimana gencatan senjata tidak cukup untuk mencegah ketimpangan dalam jumlah korban.
Kesepakatan Gencatan Senjata Tidak Bisa Menghentikan Serangan
Meski ada perpanjangan gencatan senjata, pasukan Israel tetap menjalankan operasi militer. Mereka mengklaim bahwa serangan-serangan mereka adalah tindakan untuk memastikan keamanan dan mencegah ancaman dari Hizbullah. Namun, data dari Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan bahwa jumlah korban tetap meningkat, bahkan melebihi target awal dari kesepakatan ini. Hal ini memperlihatkan bahwa gencatan senjata memanas justru memperparah ketegangan di lapangan.
Perspektif Internasional: Kecemasan tentang Kebuntuan Perang
Penegak kebijakan gencatan senjata, seperti organisasi mediasi internasional, mengkhawatirkan keberlanjutan konflik. Meski ada upaya untuk menyelesaikan pertikaian ini, angka korban yang terus meningkat dan serangan berulang mengindikasikan bahwa kekacauan tidak akan segera berakhir. Beberapa analis mengatakan bahwa keberhasilan kesepakatan ini tergantung pada kemampuan pihak Lebanon dan Israel untuk menjaga komitmen mengurangi kekerasan, meskipun hingga kini belum tercapai.
