KTT Trump-Xi Dianggap Maskulin dan Eksklusif karena Tidak Ada Perempuan dalam Meja Perundingan
Main Agenda menjadi topik utama yang mengemuka dalam KTT antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Dalam pertemuan yang berlangsung pada Kamis (14/5/2026), tidak ada satu pun perempuan yang hadir dalam meja perundingan, menimbulkan kritik terhadap representasi gender dalam kebijakan luar negeri dua negara adidaya. Peristiwa ini dianggap sebagai bukti eksklusivitas dan dominasi maskulin dalam pembentukan kebijakan global, sekaligus memicu perdebatan mengenai keadilan dalam partisipasi pihak-pihak yang memiliki peran strategis.
Kritik terhadap KTT Trump-Xi: Keterbatasan Perspektif Perempuan
Main Agenda KTT ini dianggap kurang inklusif karena mengabaikan peran perempuan dalam membentuk dialog antar-negara. Ekonom Amerika, Gita Gopinath, mantan Wakil Direktur Pelaksana IMF, menyoroti hal ini dalam unggahannya di media sosial. Ia menulis, “Sebuah gambaran tentang berakhirnya meritokrasi: Pertemuan dua ekonomi terbesar di dunia tanpa satu pun perempuan di meja perundingan,” sambil membagikan foto pertemuan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Main Agenda KTT Trump-Xi tidak hanya tentang isu ekonomi, tetapi juga mencerminkan struktur kekuasaan yang cenderung tidak seimbang.
Kritik terhadap KTT ini tidak hanya datang dari akademisi, tetapi juga dari kelompok advokat perempuan di tingkat internasional. Mereka menilai bahwa pengabaian perempuan dalam perundingan dapat memperkuat kesan bahwa kebijakan luar negeri terlalu berorientasi pada kekuatan militer dan ekonomi, sehingga mengabaikan isu-isu sosial dan kemanusiaan yang penting bagi keberlanjutan hubungan internasional.
Perbandingan dengan Era Obama: Perbedaan Representasi Gender
Dalam era pemerintahan Obama, kehadiran perempuan di ruang perundingan antara AS-China justru dianggap sebagai prestasi. Halima Kazem, Wakil Direktur Program Studi Feminis, Gender, dan Seksualitas di Universitas Stanford, menyatakan bahwa hal tersebut mencerminkan keberagaman dalam pembuatan keputusan global. “Pertemuan bilateral AS-China di masa Obama melibatkan perempuan di meja perundingan,” katanya. Namun, dalam KTT Trump-Xi, kedua negara adidaya ini terlihat kembali pada tradisi eksklusif, di mana kepemimpinan dan keputusan penting hanya dibuat oleh laki-laki.
Main Agenda dalam KTT Trump-Xi dinilai kurang menggambarkan keberagaman kemampuan dan perspektif yang ada di masyarakat internasional. Banyak pihak menilai bahwa ini adalah kesempatan untuk menyosialisasikan nilai-nilai inklusivitas, tetapi justru dianggap sebagai langkah mundur dalam pengakuan peran perempuan dalam politik global.
Isu Taiwan Menjadi Sorotan Awal KTT
Pada hari pertama KTT, Xi Jinping menegaskan bahwa Taiwan tetap menjadi isu utama dalam hubungan antara China dan AS. Pernyataan tersebut diunggah oleh Kementerian Luar Negeri China setelah pertemuan dua jam dengan Trump. Main Agenda KTT ini juga mencakup pembahasan mengenai kebijakan perdagangan dan keamanan regional, dengan fokus pada perang di Ukraina dan Iran. Namun, kekurangan partisipasi perempuan menimbulkan pertanyaan apakah kebijakan luar negeri kedua negara benar-benar mencerminkan keberagaman perspektif yang ada di masyarakat internasional.
Kritik terhadap KTT Trump-Xi juga melibatkan isu-isu yang bisa diangkat oleh perempuan. Misalnya, tentang keadilan gender dalam perdagangan global, atau pengaruh perempuan dalam membangun hubungan diplomatik. Dengan tidak adanya perempuan di meja perundingan, Main Agenda KTT ini dianggap lebih mengutamakan sifat maskulin, seperti ketegasan dan kekuatan, daripada kepekaan terhadap isu-isu yang lebih humanis.
Konteks Global: Eksklusivitas dalam KTT Terbesar Dunia
Main Agenda KTT Trump-Xi menunjukkan pola eksklusivitas yang terjadi dalam forum internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, pertemuan antara AS dan China sering kali dianggap sebagai kunci dalam pengambilan keputusan global. Namun, ketiadaan perempuan di meja perundingan mengubah atmosfer KTT ini menjadi lebih dominan oleh pemikiran maskulin, yang dianggap mengabaikan kontribusi perempuan dalam pembangunan kebijakan.
Kritik terhadap Main Agenda KTT ini juga melibatkan perbandingan dengan KTT sebelumnya. Banyak pihak menilai bahwa pertemuan sebelumnya, seperti KTT di era Obama, lebih menekankan keberagaman dan kesetaraan gender. Dengan tidak adanya perempuan di KTT Trump-Xi, Main Agenda tampak tidak hanya berfokus pada isu ekonomi dan keamanan, tetapi juga menggambarkan struktur kekuasaan yang terus berjalan tanpa perubahan signifikan.
Impak pada Kebijakan Global: Apakah Ini Bisa Berubah?
Main Agenda KTT Trump-Xi menimbulkan pertanyaan tentang masa depan representasi perempuan dalam kebijakan luar negeri. Meski kritik terus mengalir, beberapa pihak mengatakan bahwa ini bisa menjadi awal dari perubahan. Dengan tetap melibatkan perempuan dalam perundingan, KTT bisa menjadi contoh yang lebih baik dalam membangun kemitraan global yang inklusif. Namun, saat ini, Main Agenda dianggap sebagai bukti bahwa kekuasaan masih dipegang oleh laki-laki dalam sistem politik yang dominan.
Kehadiran perempuan dalam KTT Trump-Xi juga penting untuk memastikan bahwa Main Agenda tidak hanya menyasar isu-isu ekonomi dan keamanan, tetapi juga isu sosial seperti kesetaraan gender dan lingkungan. Dengan mengabaikan perempuan, kebijakan luar negeri kedua negara adidaya ini dianggap kurang menyeluruh dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
