WHO Sampaikan Pemandangan Menyedihkan Tentang Serangan Terhadap Sektor Kesehatan Lebanon
WHO Ungkap 190 Serangan ke Sektor – JENOWA, JENEWA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk di Lebanon setelah mengkonfirmasi sebanyak 190 serangan terhadap fasilitas kesehatan dan tenaga medis dalam tiga bulan terakhir. Konflik bersenjata yang semakin intens membuat dampak serangan ini lebih parah, bukan hanya mengakibatkan kematian, tetapi juga mengganggu akses layanan kesehatan yang vital bagi masyarakat.
Korban Jiwa dan Kerusakan Infrastruktur
Dalam konferensi pers di Jenewa, Selasa (2/6/2026), perwakilan WHO untuk Lebanon, Abdinasir Abubakar, menyatakan bahwa lebih dari 3.400 orang meninggal dan hampir 10.400 lainnya terluka sejak operasi militer Israel memanas pada Maret 2026. Fase ini dianggap sebagai salah satu yang paling mematikan sejak konflik berkecamuk Oktober 2023.
“Ini adalah bulan terberat bagi Lebanon sejak awal konflik. Kerusakan pada sistem layanan publik, khususnya kesehatan, jauh lebih dari jumlah korban jiwa,” ujar Abubakar.
Dari 190 serangan yang diverifikasi, setidaknya 128 tenaga kesehatan tewas sementara 332 di antaranya terluka. Korban mencakup dokter, perawat, petugas ambulans, hingga staf pendukung di rumah sakit. Serangan-serangan ini menimbulkan dampak berlapis, baik secara langsung maupun melalui penghambatan layanan medis yang dibutuhkan masyarakat.
Kerusakan Fasilitas Kesehatan
WHO melaporkan bahwa sedikitnya 17 rumah sakit mengalami kerusakan sebagian, sementara tiga unit rumah sakit dan 42 pusat layanan kesehatan primer harus ditutup karena pertimbangan keamanan atau kerusakan infrastruktur. Penutupan fasilitas tersebut memengaruhi ribuan warga yang bergantung pada layanan dasar, termasuk ibu hamil, anak-anak, lansia, dan pasien penyakit kronis.
Kerusakan pada sistem kesehatan Lebanon semakin memperparah situasi di lapangan. Selain mengorbankan nyawa, serangan juga menghambat kemampuan masyarakat untuk mendapatkan perawatan, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan medis akibat konflik.
