Strategi TOSS Tekan TBC Ala Yani Panigoro: Temukan, Obati, Sampai Sembuh, Kesigapan Kader Jadi Kunci
Key Strategy – Ketua Umum Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Ir. Yani Yuhani Panigoro, menyoroti peran penting kader di tingkat masyarakat dalam mendeteksi penderita Tuberkulosis (TBC). Organisasi yang ia pimpin mengandalkan strategi “TOSS” sebagai pilar utama dalam upaya menekan penyebaran penyakit ini. Strategi tersebut, yang diadaptasi dari program Kementerian Kesehatan, terdiri dari empat langkah utama: Temukan, Obati, Sampai Sembuh, serta kesigapan kader sebagai penggerak utama. Menurut Yani, meskipun dokter memegang peran kritis, garda terdepan dalam program ini adalah para ibu-ibu rumah tangga yang menjadi relawan atau kader.
Peran Kader dalam Mendampingi Pasien TBC
Dalam sesi wawancara khusus bersama Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra, di Studio Tribunnews, Palmerah, Jakarta, Selasa (19/5/2026), Yani menjelaskan betapa vitalnya kader dalam memastikan keberhasilan strategi TOSS. Ia mengatakan, “Siapa yang menemukan penderita? Apakah saya yang door-to-door? Ya kapan saya tidurnya kalau begitu. Maka dari itu, kita punya banyak kader. Ibu-ibu biasa yang terpanggil hatinya untuk mencari orang-orang yang suspect TBC.” Kader-kader ini bertugas untuk menemukan individu yang mungkin terjangkit TBC, kemudian membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat.
Ketelatenan dan kesabaran adalah kunci dalam menjalankan tugas ini. Setelah seorang warga diduga menderita TBC ditemukan, kader berperan dalam mengawasi proses pengobatan. Pasien yang terbukti positif harus menjalani terapi selama enam bulan secara terus-menerus, tanpa henti. “Kasih obat itu satu hal, tapi memastikan mereka minum obat setiap hari selama enam bulan itu tidak gampang,” tambah Yani. Tugas utama kader bukan hanya menemukan pasien, tetapi juga memastikan mereka tetap disiplin dalam pengobatan. Jika tidak dilakukan dengan konsisten, risiko penyebaran TBC ke lingkungan sekitar sangat tinggi.
Mengatasi Mitos dan Penyadaran Masyarakat
Yani menjelaskan bahwa edukasi yang dilakukan kader menjadi aset penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Banyak orang masih menganggap gejala TBC seperti batuk-batuk sebagai hal yang biasa, bahkan bisa sembuh sendiri. “TBC itu beda dengan COVID. Kalau COVID deteksinya cepat dan orang takut. Kalau TBC, orang batuk-batuk dianggap nanti juga sembuh sendiri. Tiba-tiba sudah batuk darah dan terlambat,” kata Yani. Dengan pendekatan yang lebih dekat dan personal, kader mampu mengubah persepsi masyarakat tentang penyakit ini.
Menurut Yani, pendampingan kader tidak hanya membantu dalam pengobatan, tetapi juga memberikan dorongan emosional yang besar. “Maka pendampingan kader ini sangat menyentuh hati saya karena mereka mau berkorban waktu dan tenaga,” jelasnya. Hal ini menggambarkan dedikasi kader dalam memberikan layanan kesehatan yang berkelanjutan dan terjangkau.
Pertumbuhan dan Cakupan PPTI di Wilayah Indonesia
Hingga saat ini, PPTI telah berkembang ke 14 provinsi dengan 64 cabang tingkat kota dan 120 anak ranting. Angka ini menunjukkan upaya serius organisasi dalam menjangkau masyarakat yang terpencil. Yani menyebutkan bahwa cakupan tersebut memungkinkan strategi TOSS diterapkan secara luas, terutama di daerah dengan akses kesehatan yang terbatas. “Kesigapan kader jadi kunci, karena mereka yang terdepan di lapangan,” ujarnya.
Selain itu, Yani juga menekankan bahwa pendekatan berbasis komunitas ini lebih efektif dibandingkan metode lainnya. “Dengan melibatkan ibu-ibu rumah tangga, kita bisa membangun kepercayaan masyarakat terhadap program pemberantasan TBC,” tambah Yani. Hal ini mencerminkan inisiatif yang inovatif, menggabungkan keahlian medis dengan partisipasi aktif masyarakat lokal.
Perbandingan TBC dan COVID-19 dalam Penyebaran
Yani mengungkapkan bahwa penyebaran TBC di Indonesia memiliki korelasi kuat dengan tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat. Ia membandingkan kondisi kesehatan antara warga yang tinggal di perumahan layak dengan penduduk kawasan padat. “Bahaya TBC di kawasan padat penduduk sangat tinggi karena kemungkinan penyebaran lebih cepat,” urai Yani. Di sini, kader menjadi garda terdepan yang mampu meredam penyebaran penyakit dengan cara aktif.
Dalam wawancara tersebut, Yani juga menyoroti tantangan yang dihadapi dalam pemberantasan TBC. Ia mengakui bahwa pengobatan jangka panjang membutuhkan keberlanjutan dan komitmen tinggi dari kader. “Kalau tidak tuntas, justru bisa menularkan ke yang lain,” tambahnya. Pernyataan ini menegaskan betapa kritisnya peran kader dalam menjaga kepatuhan pasien terhadap pengobatan.
Strategi TOSS yang diterapkan PPTI di bawah kepemimpinan Yani menunjukkan langkah-langkah yang sistematis dan berkelanjutan. Dengan menggabungkan pendekatan deteksi dini, edukasi, dan pendampingan, program ini berupaya memastikan bahwa setiap penderita TBC bisa sembuh secara menyeluruh. Yani mengungkapkan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat terhadap kader yang menjadi bagian dari komunitas mereka.
Sebagai seorang ketua umum, Yani Panigoro menyadari bahwa peran kader tidak hanya membangun kesadaran, tetapi juga memperkuat sistem kesehatan nasional. “Kader adalah tulang punggung program TOSS,” jelasnya. Dengan adanya komunitas kader yang aktif, PPTI mampu menekan angka TBC secara signifikan, terutama di daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh layanan kesehatan formal.
Dalam rangka menghadapi tantangan ini, Yani berharap bahwa peran kader akan terus didukung oleh pemerintah dan masyarakat. “Kita harus bersama-sama menjaga kesigapan dan semangat kader,” tegasnya. Hal ini menunjukkan bahwa strategi TOSS bukan hanya program medis, tetapi juga kemitraan sosial yang kuat antara masyarakat dan organisasi kesehatan. Dengan pengorbanan dan ketekunan, kader membantu memastikan bahwa TBC tidak hanya ditemukan, tetapi juga diatasi sampai benar-benar sembuh.
