Nasional

Announced: Tim Rukyat Hilal Kemenag: Secara Hisab, Awal Zulhijah 1447 H Jatuh pada 18 Mei 2026

emenag Umumkan Awal Zulhijah 1447 H Jatuh pada 18 Mei 2026 Announced - Tim Rukyat Hilal Kementerian Agama (Kemenag) telah mengumumkan bahwa awal Zulhijah 1447

Desk Nasional
Published Mei 17, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments
Table of Contents
  1. Tim Rukyat Hilal Kemenag Umumkan Awal Zulhijah 1447 H Jatuh pada 18 Mei 2026
  2. Proses Rukyat dan Kemitraan dalam Menentukan Awal Ramadan

Tim Rukyat Hilal Kemenag Umumkan Awal Zulhijah 1447 H Jatuh pada 18 Mei 2026

Announced – Tim Rukyat Hilal Kementerian Agama (Kemenag) telah mengumumkan bahwa awal Zulhijah 1447 H akan jatuh pada hari Senin, 18 Mei 2026. Kesimpulan ini diperoleh melalui analisis hisab yang dilakukan secara konsisten oleh para ahli astronomi dan ulama di seluruh Indonesia. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, hilal yang menjadi penanda awal bulan Zulhijah telah memenuhi syarat untuk diamati secara langsung di berbagai lokasi NKRI.

Kriteria Observasi Hilal dan Kemitraan Antar Negara

“Kesimpulan mengenai awal Zulhijah 1447 H diperoleh dari kriteria MABIMS, yaitu perjanjian antara Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura,” terang Cecep Nurwendaya, anggota tim rukyatul hilal Kemenag, seperti dikutip dari YouTube Kemenag pada Minggu (17/5/2026).

Menurut Cecep, kriteria tersebut memastikan konsistensi dalam menentukan awal bulan Ramadan, yang menjadi acuan penting bagi umat Muslim. Syarat yang digunakan mencakup tinggi hilal minimal tiga derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Kedua parameter ini diukur dari posisi hilal terhadap ufuk dan sudut jaraknya dari matahari. Dengan memenuhi kriteria tersebut, hilal dapat diamati secara jelas dan akurat di berbagai wilayah.

Detail Perhitungan Hisab dan Waktu Ijtima

Tim hisab Kemenag menyatakan bahwa ijtima’ (pertemuan bulan dan matahari) menjelang Zulhijah 1447 H terjadi pada Ahad, 17 Mei 2026, sekitar pukul 03.00.55 WIB. Proses ini menunjukkan bahwa hilan sudah berada di atas ufuk dengan ketinggian antara 3º 37′ 51″ hingga 6º 54′ 23″ serta sudut elongasi berkisar antara 8º 58′ 23″ hingga 10º 36′ 52″.

“Dengan memenuhi parameter tersebut, hilal awal Zulhijah 1447 H sangat memungkinkan untuk diamati secara teoritis, sehingga menjadi dasar bagi pengumuman resmi,” tambah Cecep.

Announced – Kemenag menggarisbawahi bahwa keputusan mengenai awal Zulhijah 1447 H harus melalui sidang isbat yang dihadiri oleh para ahli hisab dan ulama dari berbagai daerah. Proses ini dilakukan untuk memastikan akurasi dan kepastian tanggal yang akan digunakan sebagai awal pembacaan shalat dan pengamatan bulan suci.

Proses Rukyat dan Kemitraan dalam Menentukan Awal Ramadan

Announced – Rukyat hilal dilakukan di 88 titik observasi strategis yang tersebar di seluruh Indonesia. Tim tersebut memastikan bahwa hasil pengamatan dari semua lokasi berada dalam kisaran yang sejalan dengan perhitungan hisab. Dengan demikian, penentuan awal Zulhijah 1447 H dianggap lebih objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Pemantauan hilal oleh 88 titik observasi menjadi bukti bahwa proses penentuan awal Ramadan dilakukan secara kolektif dan terkoordinasi,” jelas Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, di Jakarta.

Announced – Sidang isbat yang dilakukan pada 17 Mei 2026, hari Jumat 29 Zulkaidah 1447 H, di Auditorium H.M. Rasjidi, Kemenag, menjadi momen penting dalam menyatukan kesepakatan. Dalam sidang ini, para ahli memperhitungkan data dari seluruh titik observasi serta konsultasi dengan negara-negara anggota MABIMS. Hasilnya, tanggal 18 Mei 2026 dipilih sebagai awal Zulhijah 1447 H.

Implikasi bagi Umat Muslim dan Penyesuaian Jadwal Ibadah

Announced – Penentuan awal Zulhijah 1447 H memengaruhi jadwal ibadah umat Muslim, terutama dalam hal pengamatan dan pembacaan shalat. Masyarakat akan menyesuaikan kegiatan ibadah sesuai dengan tanggal resmi yang diumumkan. Sebagai contoh, shalat terawih dan lainnya akan dimulai segera setelah hilal terbit.

Announced – Selain itu, pengumuman ini juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan perayaan Idul Adha secara bersamaan. Dengan kesepakatan antar negara, keharmonisan dalam ritual keagamaan dapat terjaga, termasuk dalam hal penentuan tanggal berdasarkan hisab.

Announced – Pemantauan hilal dan perhitungan hisab terus dilakukan secara berkala untuk memastikan konsistensi dalam menentukan awal bulan. Dengan metode ini, Kemenag berupaya menjaga akurasi waktu ibadah dan meminimalkan kesalahan dalam penentuan hari rukyat.

Leave a Comment