Peternak Perketat Pengawasan Hewan Kurban Jelang Idul Adha untuk Cegah PMK
Jelang Idul Adha, masyarakat mulai mempersiapkan kebutuhan hewan kurban untuk merayakan hari raya yang menjadi bagian dari tradisi keagamaan. Dengan meningkatnya permintaan akan sapi, kambing, dan kerbau, para peternak memperketat pengawasan kesehatan ternak sebagai langkah preventif untuk menghindari penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK). Perhatian ini semakin intens karena PMK dikenal sebagai penyakit yang bisa mengganggu kesehatan hewan dan berdampak pada ketersediaan daging kurban bagi masyarakat.
Peningkatan Permintaan Hewan Kurban Jelang Idul Adha
Sonny Eko Kustiawan, pelaku usaha peternakan, mengatakan bahwa persiapan hewan kurban jelang Idul Adha 1447 Hijriah menyebabkan permintaan terhadap ternak mengalami lonjakan. “Masyarakat membeli hewan kurban lebih awal, bahkan beberapa bulan sebelum hari raya, untuk memastikan ketersediaan,” jelasnya. Peningkatan ini memaksa peternak untuk lebih ketat dalam memantau kesehatan hewan, terutama di masa transisi musim dan perubahan pola makan ternak.
Persaingan memilih hewan kurban yang sehat meningkat, sehingga peternak wajib memastikan standar kesehatan terpenuhi.
Indikator Kesehatan Ternak untuk Kurban
Sonny menjelaskan bahwa peternak menggunakan berbagai indikator fisik untuk menilai kesehatan hewan. Salah satu tanda yang diperhatikan adalah keadaan cairan dari hidung, telinga, atau anus. Jika ada keluaran cairan yang tidak normal, hewan tersebut dianggap berpotensi terjangkit PMK. Selain itu, kondisi bulu juga menjadi penanda, karena hewan sehat biasanya memiliki bulu yang bersih dan mengilap. “Bulu kusam atau berminyak bisa menjadi tanda penyakit atau kurang perawatan,” tambahnya.
Para peternak juga memeriksa aktifitas dan perilaku hewan, seperti apakah mereka aktif atau lesu saat dipelihara.
Di samping itu, para peternak menjelaskan bahwa PMK bisa menular ke manusia melalui kontak langsung dengan hewan yang sakit. Oleh karena itu, penegakan standar kesehatan hewan kurban menjadi penting untuk menjaga keamanan pangan dan kesejahteraan warga. Sonny menekankan bahwa pemilihan hewan harus dilakukan secara hati-hati, terutama oleh calon pembeli yang masih awam tentang kriteria kesehatan.
Pemerintah juga berperan aktif dalam memberikan petunjuk teknis pengawasan kesehatan hewan kurban.
Dalam upaya mencegah penyebaran PMK, Kementerian Pertanian memperketat pemeriksaan kesehatan hewan kurban sejak tahap persiapan. Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, I Ketut Wirata, menyatakan bahwa seluruh tahapan dari pemeliharaan hingga penyembelihan harus memenuhi standar kesehatan dan higienitas. “Pemeriksaan berkelanjutan dilakukan untuk memastikan tidak ada hewan yang terjangkit PMK masuk ke pasar kurban,” tambah Wirata.
Langkah-langkah ini diambil sebagai respons terhadap ancaman PMK yang beberapa tahun terakhir memengaruhi produksi ternak nasional. Dengan memastikan hewan kurban dalam kondisi optimal, peternak dan pemerintah berupaya menjaga kualitas daging yang dikonsumsi masyarakat, serta mengurangi risiko penularan penyakit. “Kami berharap konsumen lebih memahami pentingnya memilih hewan yang sehat, sehingga bisa memastikan penggunaan daging kurban yang aman dan berkualitas,” imbuh Sonny.