Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Key Strategy dalam Perayaan dan Konservasi Flora Endemik di Gunung Pinang Banten
Key Strategy – Dalam rangkaian perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, sebuah Key Strategy yang diusung oleh Krakatau Posco dan Perhutani menarik perhatian masyarakat sekitar serta para pelaku konservasi lingkungan. Kegiatan penanaman pohon di kawasan Gunung Pinang, Serang, Banten, yang dilakukan pada akhir Mei 2026, menjadi simbol komitmen dalam menjaga keanekaragaman hayati dan memperkuat hubungan antara sektor industri, alam, serta masyarakat. Lokasi ini tidak hanya merupakan habitat alami beberapa spesies langka, tetapi juga berperan penting dalam siklus hidrologi dan keseimbangan ekosistem lokal.
Peran Tanaman Endemik dalam Mempertahankan Keunikan Ekosistem
Kokoleceran (Vatica bantamensis) menjadi salah satu spesies yang diprioritaskan dalam Key Strategy ini. Tanaman yang hanya terdapat di wilayah Banten ini dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 Tahun 2018. Tumbuhan ini tidak hanya memiliki nilai ekologis tinggi, tetapi juga merupakan bagian dari identitas flora khas Indonesia yang perlu dilestarikan agar tidak punah. Proses penanaman dilakukan secara terencana untuk memastikan pertumbuhan optimal tanaman endemik tersebut.
Penanaman Kokoleceran di Gunung Pinang juga diimbangi dengan penghijauan spesies pendukung ekosistem, seperti trembesi, pinang, dan meranti. Pilihan tanaman ini didasarkan pada kebutuhan habitat dan fungsi ekologisnya dalam memperkuat struktur hutan serta menjaga kestabilan lingkungan. “Kami percaya bahwa Key Strategy ini akan menjadi fondasi dalam menciptakan ekosistem yang lebih seimbang dan berkelanjutan,” ujar Direktur Technology & Business Development Krakatau Posco, Alhadis Syamsuddin, dalam wawancara terpisah.
Langkah Kolaboratif untuk Masa Depan yang Hijau
Kolaborasi antara Krakatau Posco dan Perhutani dalam kegiatan penanaman pohon ini mencerminkan komitmen untuk membangun kebijakan lingkungan yang berbasis keberlanjutan. Total 400 pohon ditanam di lahan seluas 1 hektare, tepatnya pada petak 16 RPH Cilegon BKPH Serang. Selain tanaman endemik, pohon dengan nilai ekonomi tinggi seperti durian, alpukat, dan nangka juga ditanam guna mendukung pendapatan masyarakat sekaligus mengurangi tekanan pada hutan primer.
Dalam Key Strategy ini, komunitas lokal juga diberikan pelatihan mengenai cara merawat tanaman dan memahami keanekaragaman hayati sekitar. “Kawasan Gunung Pinang memiliki posisi strategis sebagai hutan lindung Provinsi Banten, sehingga kegiatan ini menjadi langkah krusial untuk menjaga kelestariannya,” kata Wakil Administratur Perhutani KPH Banten, Encang Suryana. Ia menekankan bahwa penanaman pohon bukan sekadar upaya estetika, tetapi sebagai bagian dari kebijakan lingkungan yang holistik.
Dengan kegiatan penanaman massal ini, diharapkan dapat meningkatkan luas area hutan yang terjaga, menurunkan emisi karbon, serta mengurangi erosi tanah. Selain itu, Key Strategy ini juga menjadi ajang pengenalan masyarakat terhadap flora langka dan pentingnya partisipasi kolektif dalam konservasi. “Setiap pohon yang ditanam adalah investasi untuk masa depan,” imbuh Alhadis Syamsuddin, yang menyoroti pentingnya partisipasi sektor swasta dalam kebijakan lingkungan.
Kegiatan yang dilaksanakan selama POSCO Global Volunteer Week 2026 ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan. Dengan penanaman 400 pohon, jumlah total pohon yang telah ditanam di Gunung Pinang mencapai 1.200 unit dalam tiga tahun terakhir. Angka ini merupakan bukti nyata bahwa Key Strategy berbasis kemitraan dapat menciptakan dampak jangka panjang bagi lingkungan.
Di sisi lain, aktivitas penanaman di Gunung Pinang juga menjadi contoh bagus dalam menggabungkan isu lingkungan dengan kepentingan sosial dan ekonomi. Dengan memanfaatkan spesies yang memiliki nilai ekonomi, pihak-pihak terkait berharap mendorong penghijauan yang berkelanjutan sekaligus menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar. “Kami ingin menciptakan kawasan hijau yang bisa dijaga secara mandiri oleh masyarakat,” ujar Encang Suryana, yang menegaskan bahwa keberhasilan konservasi bergantung pada partisipasi aktif dari semua pihak.
