Internasional

Topics Covered: Trump dan Xi Bertemu di Beijing, Pengamat: Dunia Masuk Fase Geopolitik Lebih Berbahaya

Topics Covered: Trump dan Xi Bertemu di Beijing, Pakar: Dunia Masuk Fase Geopolitik Lebih Berbahaya Topics Covered - JAKARTA - Pertemuan antara Donald Trump

Desk Internasional
Published Mei 16, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Topics Covered: Trump dan Xi Bertemu di Beijing, Pakar: Dunia Masuk Fase Geopolitik Lebih Berbahaya

Topics Covered – JAKARTA – Pertemuan antara Donald Trump, mantan presiden Amerika Serikat, dan Xi Jinping, presiden Tiongkok, di Beijing pada 15 Mei 2026 dinilai sebagai momentum penting dalam mengatur persaingan global. Meski disusun sebagai upaya mengurangi ketegangan, pertemuan ini justru menegaskan bahwa persaingan antara AS dan Tiongkok belum berakhir. Menurut para pakar, pertemuan tersebut memperkuat kecenderungan dunia memasuki fase geopolitik yang lebih rentan dan dinamis.

Manajemen Ketegangan, Bukan Akhir dari Perang Ideologi

Sejumlah pengamat menyebutkan bahwa pertemuan Trump-Xi lebih mengarah pada koordinasi daripada penyelesaian. “Meski ada simbolisasi kerja sama, ketegangan utama antara dua kekuatan besar tetap berlangsung,” kata Ahmad Khoirul Umam, Direktur Paramadina Graduate School of Diplomacy, dalam pernyataannya. Dalam diskusi, Xi Jinping memperkenalkan konsep Thucydides Trap, yang menunjukkan bahwa hubungan antara kekuatan dominan dan kekuatan baru sering kali berpotensi memicu konflik.

“Pertemuan ini adalah upaya mengelola konflik, bukan tanda akhir dari persaingan struktural. AS dan Tiongkok masih bersaing untuk menentukan arah tatanan global abad ini,” ujarnya. Konsep tersebut mencerminkan keinginan Tiongkok untuk dilihat sebagai kekuatan yang sah dalam era multipolar, sementara AS mencoba mempertahankan dominasi sektor strategis seperti teknologi dan ekonomi.

Khoirul Umam menekankan bahwa hasil pertemuan ini tidak mengubah arah persaingan, tetapi memperkuat pertaruhan geopolitik. “Dunia kini sedang menghadapi fase konfrontasi antar kekuatan besar yang memicu perubahan struktural,” katanya. Kebijakan luar negeri AS dan Tiongkok tetap berfokus pada kepentingan nasional, termasuk dalam bidang ekonomi, keamanan, dan teknologi.

Isu Taiwan: Pemicu Konflik yang Tak Pernah Redup

Dalam konteks kebijakan luar negeri, isu Taiwan masih menjadi faktor risiko utama. Xi Jinping menekankan bahwa keberhasilan mengelola isu ini krusial untuk mencegah eskalasi persaingan. “Situasi di Taiwan menggambarkan titik kritis dalam hubungan AS-Tiongkok,” jelas Khoirul Umam. Kedua negara bersaing untuk memperkuat pengaruh di kawasan Asia Timur, dengan AS mencoba memperluas aliansi dan Tiongkok menekankan stabilitas wilayah.

Pertemuan tersebut juga menyoroti tekanan AS terhadap Tiongkok dalam isu teknologi, khususnya pengembangan chip dan AI. Dalam Topics Covered, para pengamat menilai bahwa Tiongkok berusaha membangun posisi sebagai pihak yang dominan, sementara AS masih menginginkan keunggulan dalam bidang inovasi dan kontrol rantai pasok global. Dinamika ini menjadi inti dari persaingan yang tak terhindarkan.

Konteks Geopolitik Global: Fragmentasi dan Dampak Ekonomi

Analisis dalam Topics Covered menunjukkan bahwa konflik AS-Tiongkok semakin memengaruhi kerangka geopolitik internasional. Khoirul Umam memperingatkan bahwa rivalitas ini bisa memicu fragmentasi geoeonomi, dengan negara-negara berkembang terjebak dalam pilihan antara dua kekuatan besar. “Indonesia, sebagai negara menengah, harus menghadapi tekanan geopolitik yang semakin kompleks,” ujarnya.

Dampaknya terasa di berbagai sektor, termasuk energi, pertanian, dan industri kritis. Umam menambahkan bahwa forum multilateral seperti PBB dan IMF bisa kehilangan pengaruh karena keputusan penting kini ditentukan melalui negosiasi bilateral. “Geopolitik global mulai bergeser ke arah dominasi dua kekuatan utama, dengan risiko munculnya konflik lebih besar dalam jangka pendek,” katanya.

Dalam Topics Covered, para pakar menyoroti bahwa dinamika ini tidak hanya terbatas pada AS dan Tiongkok. Negara-negara lain seperti India dan Rusia juga turut terlibat dalam persaingan, menciptakan ketidakstabilan yang memperumit koordinasi internasional. Kehadiran kekuatan baru memaksa sistem kekuasaan global untuk beradaptasi, tetapi juga menimbulkan risiko kerusakan pada hubungan bilateral yang sudah memanas.

Leave a Comment