Kenapa Badan Terasa Pegal dan Demam Setelah Vaksin? Begini Penjelasan Dokter
Solution For – Dalam dunia kesehatan, masyarakat sering kali mengalami keraguan terhadap vaksinasi, termasuk mitos-mitos yang beredar mengenai efek sampingnya. Salah satu kesalahpahaman umum adalah ketika seseorang mengalami gejala seperti demam atau badan pegal setelah menerima vaksin, dianggap sebagai tanda vaksin tidak bekerja. Dokter Visakha Revena Irawan, Sp.PD, AIFO-K dari Mandaya Royal Hospital Puri, mengungkapkan bahwa hal tersebut justru menunjukkan sistem kekebalan tubuh sedang aktif merespons vaksin yang diberikan.
Respons Tubuh yang Alami
Dokter Visakha menjelaskan bahwa setiap orang yang mendapat vaksin akan mengalami reaksi tertentu, terutama pada kelompok usia dewasa. Banyak dari mereka enggan mengunjungi pusat kesehatan karena takut mengalami efek samping seperti kejang, nyeri otot, atau area suntikan yang bengkak. Namun, ia menegaskan bahwa gejala-gejala ini sebenarnya adalah tanda baik bahwa tubuh sedang berusaha membangun perlindungan terhadap penyakit yang divaksinasi.
“Respons alami tubuh itu bagian dari proses pembelajaran imun, karena kita memberi tubuh kita virus atau bakteri yang sudah dilemahkan, sehingga sistem kekebalan bisa mengenali dan menghasilkan antibodi,” ujar dr. Visakha dalam acara kesehatan di Mandaya Royal Hospital Puri, Tangerang, Jumat (29/5/2026).
Dokter ini menambahkan bahwa gejala seperti demam, nyeri otot, nyeri persendian, atau rasa lemas umumnya hanya bersifat sementara. “Gejala-gejala ini biasanya tidak bertahan lama, hanya sekitar 2-3 hari,” katanya. Ia juga menyebut bahwa kondisi seperti bengkak atau nyeri di area suntikan adalah hal yang normal, mirip dengan reaksi yang terjadi setelah infus diberikan.
Sebagai contoh, efek samping ini sering terjadi pada vaksin yang digunakan untuk mencegah penyakit tertentu, seperti Hepatitis B. Meskipun demikian, kondisi ini tidak berarti vaksin tidak efektif. Justru, respons ini membuktikan bahwa tubuh sedang mengakui adanya antigen dari vaksin dan mulai memproduksi komponen kekebalan yang diperlukan.
Vaksinasi yang Efektif
Vaksinasi bukan hanya tentang pengurangan risiko tertular penyakit, tetapi juga tentang membangun kekebalan tubuh secara bertahap. Dengan menerima vaksin, sistem imun manusia akan mengingat jenis patogen yang disuntikkan dan siap mengenali serta menetralisirnya jika masuk ke tubuh. Dalam beberapa kasus, gejala seperti demam atau badan lemas bisa muncul sebagai bagian dari proses ini.
“Respon tubuh bisa mirip dengan gejala infeksi ringan, tetapi itu hanya tanda bahwa sistem kekebalan sedang bekerja dengan baik,” tambah dr. Visakha. Ia menekankan bahwa efek samping ini tidak menyebabkan gangguan berat, melainkan bagian dari mekanisme tubuh untuk memperkuat perlindungan.
Menurut dokter Visakha, vaksinasi yang dilakukan dengan benar, sesuai dosis dan jadwal, akan memberikan hasil yang optimal. Meski demikian, beberapa orang mengalami reaksi yang berbeda. Ia menjelaskan bahwa hal ini bisa terjadi karena perbedaan respons imun dari satu individu ke individu lain. Dalam hal ini, ada kategori orang yang memiliki respons imun yang tidak seperti kebanyakan, yang disebut sebagai True Non-Responder.
Kelompok True Non-Responder ini adalah orang-orang yang secara klinis tidak mampu menghasilkan antibodi meskipun sudah diberi vaksin berkali-kali sesuai protokol. Kasus ini sering ditemukan pada vaksin Hepatitis B, dimana setelah pemberian dosis tiga kali, kadar antibodi dalam tubuh masih di bawah ambang normal. “Orang-orang yang masuk dalam kategori ini bisa mengalami reaksi yang tidak terdeteksi setelah cek titer antibodi, bahkan bisa negatif,” katanya.
Kekebalan Kelompok dan Pentingnya Vaksinasi Masif
Untuk melindungi kelompok True Non-Responder, dr. Visakha menekankan pentingnya cakupan vaksinasi yang luas di seluruh masyarakat. Dengan vaksinasi masif, dapat terbentuk herd immunity atau kekebalan kelompok, yang mengurangi penyebaran penyakit di lingkungan sekitar. Dalam kondisi ini, meskipun seseorang tidak menghasilkan antibodi secara efektif, mereka tetap terlindungi karena lingkungan sekitarnya sudah memiliki kekebalan yang cukup.
Dokter Visakha menjelaskan bahwa kekebalan kelompok ini sangat penting dalam memutus rantai penyebaran penyakit, terutama yang bersifat menular. Misalnya, pada vaksin Hepatitis B, ketika sebagian besar populasi sudah divaksinasi, risiko penularan akan berkurang secara signifikan, bahkan pada individu yang tidak merespons vaksin secara optimal.
“Jadi, tidak semua orang akan mengalami efek samping yang sama, tetapi vaksinasi yang merata tetap menjadi jaminan perlindungan kolektif,” ujar dr. Visakha. Ia menyarankan agar masyarakat tidak terlalu khawatir dengan reaksi ringan setelah vaksin, karena itu justru menunjukkan bahwa tubuh sedang aktif membangun perlindungan.
Dokter Visakha juga memberi penjelasan bahwa vaksinasi tidak hanya melindungi individu yang menerima, tetapi juga orang-orang sekitarnya. Dengan cara ini, vaksinasi menjadi alat yang sangat efektif untuk mengurangi insiden penyakit di tingkat komunitas. Meski ada kelompok unik yang tidak merespons vaksin secara sempurna, mereka tetap bisa dilindungi melalui kekebalan yang dihasilkan oleh orang lain.
Dalam konteks ini, dr. Visakha meminta masyarakat untuk tetap mengikuti program vaksinasi secara rutin, karena setiap dosis vaksin berkontribusi pada kekebalan kolektif. Ia menekankan bahwa efek samping ringan seperti demam atau badan pegal adalah bagian dari proses alami, dan tidak mengindikasikan kegagalan vaksin. Justru, hal ini menjadi pertanda bahwa tubuh sedang bekerja dengan baik untuk melindungi diri dari penyakit yang diantisipasi oleh vaksin tersebut.
Terlepas dari perbedaan respons imun, vaksinasi tetap dianjurkan sebagai langkah penting dalam upaya pencegahan penyakit. Dengan kesadaran yang lebih baik tentang mekanisme kerja vaksin, masyarakat bisa mengurangi kecemasan dan meningkatkan partisipasi dalam program kesehatan nasional. dr. Visakha berharap informasi ini dapat membantu mengubah persepsi masyarakat terhadap vaksin, agar tidak terjebak dalam miskonsepsi yang berdampak negatif pada keberhasilan vaksinasi.
