Regional

Special Plan: Mengintip Layanan Pengurusan Paspor Kolektif di Toraja Utara, Hanya Dibuka Sebulan Sekali

Layanan Paspor Kolektif di Toraja Utara: Special Plan Hanya Dibuka Sebulan Sekali Special Plan - Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, baru-baru ini

Desk Regional
Published Mei 20, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Layanan Paspor Kolektif di Toraja Utara: Special Plan Hanya Dibuka Sebulan Sekali

Special Plan – Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, baru-baru ini menjadi tempat paling sibuk berkat program Special Plan yang menawarkan layanan pengurusan paspor kolektif secara berkala. Setiap bulan sekali, warga yang ingin mengurus paspor bisa mengantre di Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) untuk mengajukan dokumen secara bersamaan. Wartawan Tribunnews.com, Ibriza Fasti Ifhami, melaporkan fenomena ini pada Rabu (20/5/2026), saat ribuan masyarakat memadati lokasi pelayanan.

Program Special Plan yang diselenggarakan oleh Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Palopo ini dirancang agar masyarakat lebih mudah mengakses layanan paspor. Dalam wawancara dengan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Ditjen Imigrasi Sulawesi Selatan, Friece Sumolang, dia menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari strategi pengurusan paspor yang lebih efisien. “Special Plan ini bertujuan mempermudah proses pengurusan paspor, terutama bagi warga yang membutuhkan secara besar-besaran,” ujarnya.

Strategi untuk Meningkatkan Pendapatan Negara Bukan Pajak

“Dengan Special Plan, kami tidak hanya mempercepat akses masyarakat, tetapi juga meningkatkan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) yang diperoleh dari pengurusan paspor,”

tambah Friece. Ia menjelaskan bahwa layanan paspor kolektif ini menjadi salah satu langkah untuk mencapai target PNBP yang ditetapkan. “Tahun ini, target PNBP kami naik 10 persen dari tahun lalu, sekitar Rp 9 hingga Rp 10 triliun. Special Plan mendukung upaya itu,” papar dia.

Pelaksanaan Special Plan di Toraja Utara juga mempertimbangkan kebutuhan masyarakat. Setiap sesi hanya melayani maksimal 50 pemohon, sehingga memastikan kualitas pelayanan tetap terjaga. “Kuota ini dipilih agar proses bisa berjalan lancar tanpa terjadi kepadatan berlebihan,” jelas Friece. Ia menambahkan bahwa sektor pariwisata dan pekerja migran Indonesia (PMI) menjadi fokus utama dalam peningkatan layanan ini.

Toraja Utara menarik perhatian karena kebutuhan paspor yang tinggi di sektor pariwisata dan migrasi. Sebagai daerah dengan destinasi wisata alam yang menarik, banyak warga setempat yang membutuhkan paspor untuk mengunjungi luar negeri. Selain itu, PMI yang bekerja di kapal pesiar dan negara-negara tetangga juga menjadi target utama program ini. “Special Plan ini dirancang agar memudahkan para warga yang tergolong banyak mengajukan paspor,” terang Friece.

Manfaat dan Efisiensi dalam Pengurusan Paspor

Special Plan di Toraja Utara memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Salah satunya adalah penghematan waktu, karena warga bisa mengurus paspor secara bersamaan tanpa harus antri berulang kali. “Dengan sistem ini, proses bisa diselesaikan lebih cepat,” kata Friece. Ia juga menekankan bahwa layanan ini memberikan kenyamanan khusus bagi warga yang membutuhkan paspor dalam waktu singkat.

Program ini juga meningkatkan kualitas layanan imigrasi di daerah tersebut. “Kami berupaya mempercepat proses, termasuk mengoptimalkan penggunaan booth pelayanan,” tambah Friece. Dengan lima booth yang tersedia, masyarakat bisa membagi waktu pengurusan dan menghindari antrean yang memakan banyak energi. Selain itu, program ini juga memberikan informasi tentang persyaratan dan prosedur pengurusan paspor secara terpusat.

Special Plan di Toraja Utara menjadi contoh bagaimana pemerintah daerah dapat mengadaptasi kebijakan nasional untuk kebutuhan lokal. Dengan frekuensi pembukaan satu bulan sekali, program ini menyesuaikan dengan permintaan warga dan kemampuan sumber daya Kantor Imigrasi. “Kami menyesuaikan jadwal agar tidak mengganggu kegiatan rutin warga, tetapi tetap bisa memenuhi kebutuhan mereka,” jelas Friece. Ia berharap program ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia yang memiliki kebutuhan paspor yang serupa.

Leave a Comment