Anies Baswedan Ungkap Program Sarapan Pagi sebagai Kunci Kebijakan MBG Terbaru
Latest Program – Dalam wawancara terbaru, mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyoroti inisiatif Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dinilai sebagai bagian dari serangkaian upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama dalam sektor pendidikan. Meski MBG menawarkan anggaran besar, yaitu Rp 335 triliun untuk tahun 2026, Anies mengungkap bahwa pendekatan yang berbeda telah ia terapkan dalam program sebelumnya, khususnya di Jakarta.
Program Sarapan Pagi: Inisiatif Berbasis Partisipasi Masyarakat
Sebelum MBG diumumkan, Anies Baswedan pernah mengeksplorasi program serupa di masa jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ia mengungkapkan bahwa program sarapan pagi gratis untuk siswa bukan hanya sekadar pemberian bantuan, tetapi juga menjadi ajang pembelajaran partisipasi aktif warga. “Kami di Jakarta pernah membuat program sarapan pagi untuk warga, terutama anak-anak sekolah,” ujarnya dalam acara Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), yang tayang di kanal YouTube resmi Anies Baswedan, Jumat (15/5/2026).
“Jika ingin membangun sesuatu, pendekatannya harus dengan gerakan. Berikan kepercayaan kepada rakyat,” kata Anies.
Dalam menjalankan program sarapan pagi, Anies menekankan pendekatan dua kunci: pragmatis dan berbasis gerakan. Pendekatan ini memberdayakan masyarakat untuk mengelola distribusi makanan, sekaligus memastikan transparansi dan efisiensi. Ia menyebutkan bahwa uang dari pemerintah diberikan langsung ke organisasi orang tua murid, dan mereka yang bertugas mengelola kegiatan, termasuk proses memasak. Hal ini dianggap sebagai cara membangun kepercayaan dan keberlanjutan program.
Kritik Terhadap MBG: Efisiensi dan Tanggung Jawab
Beberapa pengamat mengkritik program MBG sebagai beban fiskal yang besar. Mereka mempertanyakan efisiensi penggunaan anggaran Rp 335 triliun, yang dirasa bisa dialokasikan lebih baik untuk program-program lain. Salah satu kritikus, Ambar, menilai pendekatan ini terlalu sederhana dan tidak mempertimbangkan kompleksitas pemerintahan daerah. “Program MBG perlu dipahami sebagai langkah besar, tetapi harus diimbangi dengan kebijakan pendamping yang jelas,” kata Ambar.
Di sisi lain, Anies mengatakan bahwa program MBG bisa menjadi peluang untuk menginspirasi pendekatan berbasis gerakan. Ia menyarankan bahwa pembagian tugas kepada masyarakat lokal lebih efektif dibandingkan sistem top-down yang sering digunakan pemerintah pusat. “Saya yakin, jika kita memberdayakan rakyat, mereka akan memastikan program ini berjalan sesuai harapan,” jelas Anies.
Langkah Konservatif dan Strategi Partisipasi
Program MBG yang diusulkan Prabowo Subianto mengusung model konservatif dengan pendekatan langsung dari pemerintah pusat. Berbeda dengan program sebelumnya di Jakarta, di mana masyarakat dianggap sebagai pelaku utama. Anies menekankan bahwa pendekatan ini perlu disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing. “Setiap wilayah memiliki kebutuhan berbeda, jadi kebijakan harus fleksibel,” ujarnya.
Salah satu keunggulan program sarapan pagi di Jakarta adalah partisipasi aktif orang tua murid dan masyarakat. Mereka tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga terlibat dalam pengelolaan sehari-hari program. Dengan cara ini, Anies berharap program MBG bisa diadaptasi agar lebih tepat sasaran dan terhindar dari efisiensi yang kurang optimal. “Keterlibatan langsung rakyat membuat kebijakan lebih hidup,” tambahnya.
Kontribusi Menteri Agama dalam Penguatan Kualitas MBG
Menteri Agama juga memberikan saran untuk memperkuat pengawasan program MBG, terutama dalam hal nutrisi. Ia mengusulkan kolaborasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memastikan makanan yang disediakan sehat dan berkualitas. Namun, Anies menegaskan bahwa pendekatan gerakan tetap lebih diutamakan. “BPOM bisa menjadi penunjang, tetapi keberhasilan program ini bergantung pada partisipasi rakyat,” katanya.
Dengan adanya dukungan dari BPOM, program MBG diharapkan bisa memenuhi standar kesehatan makanan. Anies berharap ini menjadi contoh bagaimana pemerintah pusat dan daerah bisa bekerja sama untuk mewujudkan kebijakan yang berkelanjutan. “MBG bukan hanya tentang makanan, tetapi juga tentang keterlibatan masyarakat dalam membangun masa depan,” ujarnya.
Latest Program ini memperlihatkan perbedaan pendekatan antara program pusat dan daerah. Meski ada kritik tentang pengeluaran besar, Anies yakin bahwa MBG bisa menjadi contoh inovasi jika diterapkan dengan tepat. Ia menekankan bahwa kunci keberhasilan program terletak pada komunikasi yang jelas dan keterlibatan langsung masyarakat. “Saya percaya, dengan pendekatan ini, program MBG bisa menjadi solusi yang efektif untuk pendidikan nasional,” tutup Anies.
